PortalMadura.com

7 Cara Agar Anak Lebih Terbuka Pada Orang Tua

  • Sabtu, 15 Oktober 2016 | 07:00
7 Cara Agar Anak Lebih Terbuka Pada Orang Tua
ilustrasi

PortalMadura.Com – Menginjak usia praremaja, anak biasanya cenderung lebih pendiam. Yang tadinya suka menceritakan kegiatannya seharian, mungkin sepulang dari sekolah atau setelah bermain dengan temannya, sudah jarang bercerita lagi.

Sebenarnya hal ini wajar terjadi karena anak sedang mengalami pergeseran, di saat ia sudah mulai mengenal dunia luar, keluarganya menjadi bukan prioritas lagi baginya. Namun, tidak jarang anak malah menjadi pribadi yang tertutup dan tidak jujur. Oleh sebab itu, orangtua harus tetap memonitor kesehariannya dengan sering ngobrol dengan anak.

Agar anak menjadi lebih terbuka pada Anda, ini yang bisa Anda lakukan:

1. Jangan memaksa, posisikan diri Anda sebagai teman dan tempat yang nyaman untuk berbicara
Tak ada orang yang senang dipaksa, termasuk dipaksa untuk mengatakan hal-hal yang tak ingin dibicarakan. Posisikan diri sebagai teman dan tempat yang nyaman untuk berbicara. Bersikaplah tenang, terbuka, dan tidak mendesak. Biarkan mereka merasa nyaman dan ingin berbagi dengan Anda tanpa ada tekanan.

2. Jangan menyerah karena anak-anak butuh waktu untuk bisa merasa nyaman dan mulai membuka diri
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak butuh waktu yang cukup lama untuk bisa merasa nyaman dan mulai membuka diri. Jadi bersabarlah, dan jangan menyerah untuk membuat anak percaya pada Anda dan berani bicara.

3. Jangan buat diri seperti hakim, sebaliknya, buat kalimat yang bisa memotivasi anak lebih baik
Salah satu hal yang tak disukai anak ketika bicara dengan orangtuanya adalah mendengar kritik yang dilontarkan orangtua. Tanpa Anda sadari, mungkin Anda sering melempar kata-kata yang menyalahkan atau menghakimi anak. Jangan buat diri seperti hakim, sebaliknya, buat kalimat yang bisa memotivasi anak lebih baik.

4. Anak lebih responsif untuk berbicara ketika mereka sedang beraktivitas
Tak semua anak merasa perlu berbicara secara khusus dengan orangtuanya. Bagi anak, suasana sepi, tenang, dan hanya berdua orangtuanya, menimbulkan suatu perasaan tegang yang tak menyenangkan. Anak-anak, khususnya laki-laki, lebih responsif untuk berbicara ketika mereka sedang beraktivitas. Misalkan di sela-sela main sepak bola, menonton film, menggambar, dan lainnya. Gunakan saat-saat aktif mereka, karena di saat seperti ini mereka bisa lebih mudah mengungkapkan perasaan dan pendapatnya.

5. Untuk pembuka pembicaraan, bicarakan tentang kegiatan favorit anak
Cobalah untuk memulai pembicaraan seputar minat dan kesukaan anak, misalnya tentang koleksi pernak-pernik Angry Birds-nya, lagu yang sedang disukainya, atau hal-hal lainnya. Hal ini bisa menjadi pembuka yang tepat untuk membahas hal-hal lain yang terjadi dalam kehidupan anak.

6. Ajukan pertanyaan spesifik agar mendapat jawaban yang lebih memuaskan
Mengajukan pertanyaan untuk membuka obrolan memang sangat efektif. Namun hindari pertanyaan yang terlalu umum seperti, “Bagaimana tadi di sekolah?”. Cobalah untuk mengajukan pertanyaan yang lebih spesifik, misalnya “Main apa saat istirahat tadi?”. Dengan menanyakan hal-hal yang spesifik, kemungkinan Anda akan mendapat jawaban yang lebih memuaskan, bahkan celotehan lain yang tak terduga.

7. Masuki “dunia” anak, anak akan merasa lebih nyaman dan santai
Dengan mengikuti dunia anak, Anda akan lebih mudah untuk memancing anak bicara. Saat orangtua mampu masuk ke dalam dunianya, anak akan merasa lebih nyaman dan santai. Cari waktu dan tempat yang pas untuk memulai pembicaraan dengan anak.

8. Atur waktu keluarga karena itu merupakan waktu yang tepat untuk membantu anak lebih terbuka pada Anda
Saat-saat kebersamaan dengan keluarga merupakan waktu yang tepat untuk membantu anak lebih terbuka pada Anda. Sediakan waktu khusus untuk berlibur, atau coba saja makan malam bersama keluarga untuk membuka obrolan yang lebih intim satu sama lain.

9. Duduk berdampingan
Beberapa anak, khususnya anak laki-laki, seringkali lebih mudah menerima pembicaraan dalam posisi duduk berdampingan. Dengan duduk bersebelahan, anak merasa posisinya sejajar dengan Anda. Sedangkan duduk berhadapan selama ngobrol, terutama ketika Anda sengaja mengajaknya berbicara, cenderung membuat anak merasa sedang disidang. (Sayangianak.com/choir)


loading...

Hari Jadi Pamekasan

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional