PortalMadura.com

Dimana Pemuda? Refleksi Menyambut Peringatan Sumpah Pemuda

  • Sabtu, 15 Oktober 2016 | 16:38
Dimana Pemuda? Refleksi Menyambut Peringatan Sumpah Pemuda
Ist. IMM

PortalMadura.Com – “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncangkan dunia,” kurang lebih demikianlah kata-kata Bung Karno yang amat melekat dan kerap digaungkan oleh kaum muda, kaum intelektual, mahasiswa.

Banyak kisah-kisah “legendaris”, heroik, dan begitu “vital”-nya peran pemuda di masa lalu. Kita tengok berdirinya Sarikat Prijaji dan Sarikat Dagang Islamijah (kemudian berubah menjadi Sarikat Islam), Boedi Oetomo, berbagai organisasi dan forum ataupun perkumpulan kalangan pemuda (dulu) di berbagai daerah yang saat itu memang masih bersifat kedaerahan, masing memegang fanatisme terhadap daerah dan agama masing-masing seperti Jong Java, Jong Sumatra, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Jong Batak, dan lain sebagainya.

Sedikit kita berkaca pada sisi historis perjuangan pemuda dalam membangun bangsa dimana kesadaran akan pentingnya menghimpun pemikiran dan kekuatan untuk berjuang merebut kemerdekaan Indonesia bermula pada sistem Politik Etis yang diterapkan oleh Belanda pasca runtuhnya kongsi dagang (VOC) yang membuat Indonesia berada dibawah perintah langsung dari Kerajaan Belanda.

Advertisement
Iklan Murah

Setelah mengalami berbagai pergolakan pada masa Gubernur Jenderal Daendels dengan Culturstelsel-nya hingga pada akhirnya Pemerintah Kerajaan Belanda menerapkan Politik Etis atau dikenal sebagai Politik Balas Budi dengan mencakup tiga ranah, yaitu edukasi, irigasi, dan transmigrasi. Dengan penerapan politik etis, Belanda semakin melanggengkan penjajahannya terhadap rakyat Indonesia.

Namun, berkat kebijakan tersebut, muncullah tokoh-tokoh, intelektual muda yang kemudian mampu membuka mata terhadap imperialisme dan
kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda. Berbagai organisasi berdiri dipelopori oleh kaum muda (pemuda) seperti Sarikat Prijaji (1906) yang bergerak pada bidang literasi dengan Medan Prijaji sebagai senjatanya (meskipun kemudian dianggap gagal dan akhirnya bubar), Boedi Oetomo (1908), Sarikat Dagang Islamijah (1909) yang bergerak pada sektor sosial-ekonomi (kemudian berubah menjadi Sarikat Islam pada 1912), Muhammadiyah (1912) yang bergerak di bidang sosial-keagamaan, Tri Koro Dharmo (1915) yang menghimpun murid-murid STOVIA, dan berbagai organisasi lain yang kemudian muncul berkat kesadaran dan persamaan rasa yang sama-sama anti kolonialisme dan imperialisme, meskipun masih bersifat lokal kedaerahan dan belum terstruktur dengan baik serta belum terciptanya konsolidasi yang bagus.

Advertisement
Iklan Murah
Loading...
Advertisement
Iklan Murah

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional