PortalMadura.com

Dua Wanita Cantik, Warnai Asal Usul Penamaan Desa Juruan Laok dan Juruan Daya Sumenep

  • Sabtu, 19 Agustus 2017 | 23:25
Dua Wanita Cantik, Warnai Asal Usul Penamaan Desa Juruan Laok dan Juruan Daya Sumenep
dok. Warga dan aparat Desa Juruan Laok

PortalMadura.Com, Sumenep – Penamaan Desa Juruan Laok dan Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur tidak lepas dari sosok dua wanita cantik.

PortalMadura.Com, tidak menemukan sumber siapa nama dua wanita itu. Namun, dalam legenda disebutkan bahwa keduanya adalah istri dari seorang pria sakti mandraguna di zamannya. Saat itu, ia memimpin dua desa sekaligus. Ia bernama, K. Langseng.

Ia mendapat julukan H. Ali yang berkuasa sebelum tahun 1898 atau yang diperkirakan pada masa kepemimpinan Sumenep, R. Mohammad Saleh dengan julukan Pangeran Notokusumo III (1854-1879). Saat itu, masa pemerintahan kolonial Belanda.

K. Langseng disebut-sebut pemeluk agama Islam yang taat. Selama kepemimpinannya, dikenal bijaksana dan disukai oleh warganya. Ia menempati Dusun Somor Perreng dan merupakan kerabat dari kalangan penyebar agama Islam di Somber Tombet, Batuputih.

Penamaan Desa Juruan Laok dan Desa Juruan Daya, berawal saat K. Langseng mendapati kedua istrinya duduk berjajar (Jar Jajar, Madura) di sebuah bukit.

Saat ini, bukit tersebut dikenal dengan sebutan Bukit Jajar (Nong Jajar, Madura) dan masuk wilayah Desa Badur. Sebuah desa yang berdampingan disebelah utara Desa Juruan Daya.

Kala itu, K. Langseng meminta kedua istrinya untuk pulang. Satu diminta pulang ke arah “Deje” (utara) dan istri yang satunya diminta pulang ke arah “Laok” (Selatan).

Dalam perkembangannya, dua kata tersebut dipopulerkan dan disempurnakan menjadi kata akhir dari dua nama desa, yakni Daya (utara) dan Laok (selatan).

Sedangkan Juruan berasal dari kata “Jeruan” yang merupakan bahasa Jawa. Artinya, bagian dalam. Kata tersebut bentuk ungkapan buah hati pada dua perempuan cantik tersebut.

Dari peristiwa itu, lahir nama dua desa tersebut, yakni Desa Juruan Laok dan Desa Juruan Daya.

Kepemimpinan Desa Juruan Laok

Juruan Laok adalah merupakan desa yang berada di ujung paling timur di Kecamatan Batuputih. Saat ini, desa itu memiliki luas 8,9 km2 dengan jumlah kepala keluarga (KK) 1.703 atau 4.769 jiwa.

Batas utara Desa Juruan Laok yakni Desa Juruan Daya, sebelah barat berbatasan dengan Desa Tengedan, dan sebelah timur berbatasan dengan Desa Jangkong, Kecamatan Batang-Batang serta sebelah selatan berbatasn langsung dengan Desa Kolpo, Kecamatan Batang-batang.

Desa yang memiliki 8 dusun itu, telah melahirkan banyak pemimpin atau penguasa pasca meninggalnya K. Langseng yang disebut-sebut wafat di Mekah.

Penguasa atau pemangku kebijakan sebagai generasi penerus K. Langseng, adalah Pak Muha. Ia memimpin Desa Juruan Laok pada masa periode 1898-1903 yang bertempat tinggal di Dusun Kapeng.

Pada masa tersebut, Sumenep dalam kekuasaan Raden Aryo Mangkudiningrat dengan julukan Pangeran Pakunataningrat II (1879-1901). (Masa pemerintahan kolonial Belanda).

Pak Muha sendiri berasal dari wilayah Kalianget. Dimasa kepemimpinannya, disebut masa Bupermen. Kondisi desa dan masyarakatnya sangat tertinggal.

Kepemimpinan kembali berubah. Pada tahun 1904-1912 tampuk kekuasaan beralih kepada Pak Murdiya. Ia berkuasa tidak lebih dari 9 tahun. Saat itu, Sumenep dalam masa kepemimpinan R. Aryo Pratamingkusumo (1901-1926). (Masa pemerintahan kolonial Belanda).

Tahun 1913 – 1934, Desa Juruan Laok dalam kekuasan Pak Ma’at. Ia cukup disegani karena jujur dan adil. Ia berkuasa dalam dua bergantian kepemimpinan Sumenep, yakni saat R. Aryo Prabuwinoto (1926-1929) dan R. Aryo Tumenggung Samadikun (1929-1947). Kala itu, masa pendudukan Jepang dan Pendudukan Belanda yang kedua.

Pada tahun 1934 -1944, kepemimpinan Desa Juruan Laok beralih kepada Pak Sulamu atau yang dikenal dengan Pak Mikrum. Ia bertempat tinggal di Dusun Tanah Lesek.

Menjelang Indonesia merdeka tahun 1945. Kembali datang seorang pemimpin baru yang dikenal keras, baik pada stafnya maupun kepada rakyatnya.

Ia adalah Pak Muenna bertempat tinggal di Dusun Lengga. Kepemimpinannya tidak berlangsung lama dan masa jabatannya berakhir pada tahun 1953. Ia melewati dua kepemimpinan di Sumenep.

Selanjutnya Desa Juruan Laok dipimpin oleh Pak Soara. Ia bertempat tinggal di Dusun Kabbuan dan menjabat kepala desa cukup lama. Jabatannya berakhir tahun 1990. Ia dikenal paling jujur dan adil dimasanya. Namanya masih tenar hingga saat ini.

Pada tahun 1991-1998, kepala desa dijabat oleh Aski. Ia berdomisili di Dusun Kabbuan. Cukup singkat dalam menjabat seiring dengan era lahirnya reformasi.

Pada tahun 1998-2013 kepemimpin dijabat oleh Ashbari. Ia berkedudukan di Dusun Jurgang. Ashbari mampu mempertahankan jabatannya selama dua periode. Seiring dengan aturan terbaru, ia tidak diperkenankan untuk ikut kompetisi ketiga kalinya.

Pasca kepemimpinan Ashbari yakni sejak tahun 2013 sampai sekarang, Desa Juruan Laok dipimpin oleh Ach Shanhaji yang merupakan putra dari Ashbari dan bertempat tinggal di Dusun Jurgang.(berbagai sumber/Hakim/Hartono)

Tulisan tentang penamaan desa dan atau legenda menarik lainnya akan terus disajikan oleh media daring PortalMadura.Com.

Masukan dan kritikan positif atau sumbangan tulisan kami tunggu via email ke: redaksiportalmadura@gmail.com.

Loading...
Advertisement
Iklan Murah

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional