PortalMadura.com

Mengenal Tari Gambu Khas Sumenep Diciptakan Adipati Arya Wiraraja

  • Rabu, 12 Oktober 2016 | 09:56
Mengenal Tari Gambu Khas Sumenep Diciptakan Adipati Arya Wiraraja
dok. Tari Gambu Khas Sumenep
Loading...

PortalMadura.Com, Sumenep – Pada waktu perayaan Wuku Galungan di kerajaan Daha Prabu Jayakatwang mengadakan acara pasasraman di manguntur. Yakni, mengadakan adu kesaktian antar prajurit perang kerajaan  untuk mecari bibit-bibit unggul sebagai senopati perang kelak.

Para jago yang diandalkan oleh Raden Wijaya adalah Lembusora, Ranggalawe dan Nambi maju ke arena pasasraman untuk berhadapan dengan para prajurit Daha yakni Kebomundarang, Mahesarubuh dan Pangelet.

Ternyata, para prajuritnya Raden Wijaya lebih unggul  karena waktu dalam pengasingan di Sumenep (sekarang Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur) selalu melakukan latihan perang-perangan dengan memakai keris yang sampai saat ini diberi nama tari gambu.

Di dalam kitab Pararaton, tari tersebut bernama tari Silat Sudukan Dhuwung, yang di ciptakan oleh Adipati Arya Wiraraja (1269-1293) yang selalu diajarkan pada para pengiring Raden Wijaya kala mengungsi di Sumenep.

Biasanya, tari keris tersebut dilakukan kala Sang Adipati selesai melakukan pertemuan atau sidang para menteri di Pendopo Agung Keraton Topote (sekarang menjadi Kecamatan Batuputih). Konon, lokasi Keraton Topote ada di Dusun Buras, Desa Batuputih Daya, Kecamatan Batuputih, Sumemenp. Kemudian oleh dinasti Arya Wiraraja, tari tersebut tidak pernah dilakukan hingga lama sekali. (baca: Masih Utuh! Ada Batu Hitam Mirip Balok di Bukit Bekas Keraton Topote).

Dikala Mataram Islam diperintah Radèn Mas Rangsang Panembahan Agung Prabu Pandita Cakrakusuma Senapati ing Alaga Khalifatullah (Sultan Mataram 1613-1645), yang sangat peduli dan gemar pada budaya dan kesenian tradisional. Dan kala itu Sumenep diperintah oleh kerabat Sultan Agung bernama Adipati Tumenggung Anggdipa sekitar tahun 1630, tari tersebut dihidupkan kembali.

Said Abdullah

Dengan demikian tari tersebut diberi nama tari kambuh (kambuh dalam bahasa Jawa berarti hidup kembali) dan lama kemudian berubah aksen menjadi tari GAMBU.

Para penari pada umumnya terdiri dari empat penari yang menggunakan pola posisi segi empat sebagai simbol kiblat papat limo pancer, menggunakan properti tombak dan tameng berukuran kecil.

Tameng terbuat dari bahan memantulkan cahaya, dibagian struktur tari menjelang akhir terdapat adegan perang-perangan.

Tehnik gerak tari sangat jarang mengangkat gerak kaki, tetapi lebih dominan pergeseran kaki yang melekat ke tanah, hal ini mirip dengan gerakan latihan tenaga dalam yang dilakukan oleh seni beladiri tenaga dalam.

Konon, para penari Gambu tempo dulu, adalah para penari yang mempunyai teknik pernafasan yang bagus. Pola-pola pengendalian pernafasan tersebut, antara lain dilakukan dengan cara mengkolaborasikan energi yang ada pada tubuh manusia dengan energi yang ada di bumi (tanah).

Pola lantai/komposisi tari juga menyiratkan simbol prapatan atau menari dengan tekanan arah hadap kearah empat kiblat. Tata busana menggunakan celana setinggi lutut, baju lengan panjang dengan rompi, sembung (sampur), dan ikat kepala model Sumenep. (baca: Ajaib, Ada Bunyi Gamelan Dini Hari di Bekas Keraton Arya Wiraraja).

Pada Perayaan Hari Jadi Kabupaten Sumenep yang ke- tahun 2016, tari Gambu akan dilombakan antar siswa sekolah dasar se-Kabupaten Sumenep. Ditargetkan, tari Gambu ini menjadi tarian utama untuk mengawal Sumenep menjadi kota wisata.

Ditulis : Tadjul Arifien R
Editor : Moh. Hartono

Loading...
Advertisement
Iklan Murah

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional