PortalMadura.com

Moms, Lakukan 3 Hal Ini Jika Suami Anda Tak Salat

  • Sabtu, 12 Agustus 2017 | 17:00
Moms, Lakukan 3 Hal Ini Jika Suami Anda Tak Salat
ilustrasi

PortalMadura.Com – Seorang suami merupakan imam dalam keluarga. Baik buruknya suatu keluarga tergantung bagaimana imam atau kepala keluarga memimpin. Selain itu, suami juga harus memenuhi kebutuhan keluarga baik lahir maupun batin.

Suami mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan lahiriah, namun tidak lupa juga kebutuhan batin harus terpenuhi agar hidup keluarga Anda seimbang. Salah satu yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan batiniah yaitu melaksanakan salat. Seorang suami harus membimbing istri dan keluarganya untuk istiqomah melaksanakan salat.

Akan tetapi bagaimana jika suami Anda tidak mau salat?. Seorang istri harus berusaha menasehati. Selain itu, istri bisa melakukan beberapa hal yang dianjurkan agar suaminya melakukan salat.

Sebagaimana dalam sebuah hadis: “Amal yang akan dihisab pertama kali dari seorang hamba pada hari kiamat adalah salat. Jika baik salatnya, baik pula seluruh amalnya. Jika buruk salatnya, buruk pula seluruh amalnya.” (HR. Tirmidzi)

Karena bagaimana pun, batas antara seorang muslim dengan kekafiran adalah mengerjakan salat. “Sesungguhnya (batas) antara seseorang dengan kesyirikan dan kekafiran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu‘anhuma)

Berikut 3 hal yang harus istri lakukan jika suami tidak salat:

Menasehatinya Secara Langsung Ataupun Tidak Langsung
“Agama itu nasihat, ”kami (para sahabat) menjawab,”bagi siapa, ya Rasul?”, maka Beliau saw bersabda,”Bagi Allah, Rasul-Nya, pemimpin umat Islam dan setiap orang Islam” (HRMuslim).

Suami adalah pemimpin, mungkin akan gengsi jika dinasehati terang-terangan oleh istri. Oleh karena itu istri perlu pintar-pintar ‘merayu’ agar suami mau shalat.

“Mas, salat doong bareng aku!”

Untuk pengantin baru, bisa dengan mengatakan, “Aku dari dulu pengen banget salat jamaah sama suami tiap hari!”

Atau, bisa juga dengan menunjukkan buku tentang pentingnya salat, ayat dan hadits mengenai salat, dan meminta suami membacanya.

Pertemukan Suami Dengan Pengajian/ Guru Nngaji yang Bijak dan Mampu Membimbing
Minta bantuan saudara dan teman untuk mempengaruhi suami agar memahami agama dan menyadari pentingnya kedudukan salat dalam Islam. Bahkan tanpa salat, seseorang bisa dianggap tidak memiliki bagian apapun dalam agama ini.

Kapolres Sumenep

Amirul Mukminin, Umar bin Al Khoththob –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya di antara perkara terpenting bagi kalian adalah shalat. Barangsiapa menjaga salat, berarti dia telah menjaga agama. Barangsiapa yang menyia-nyiakannya, maka untuk amalan lainnya akan lebih disia-siakan lagi. Tidak ada bagian dalam Islam, bagi orang yang meninggalkan salat.“

Imam Ahmad –rahimahullah- juga mengatakan perkataan yang serupa, “Setiap orang yang meremehkan perkara salat, berarti telah meremehkan agama. Seseorang memiliki bagian dalam Islam sebanding dengan penjagaannya terhadap salat lima waktu. Seseorang yang dikatakan semangat dalam Islam adalah orang yang betul-betul memperhatikan salat lima waktu. Kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Waspadalah! Janganlah engkau menemui Allah, sedangkan engkau tidak memiliki bagian dalam Islam. Kadar Islam dalam hatimu, sesuai dengan kadar salat dalam hatimu.“ (Lihat Ash Sholah, hal. 12)

Doakan Suami Tiap Sujud Dalam Shalat dan Kapan pun Dimana pun
Hati itu milik Allah, hanya Allah yang berhak memberikan hidayah, sedangkan ranah kita hanyalah ikhtiar sebaik-baiknya.

Salah satu senjata yang harus dioptimalkan adalah dengan doa. Insya Allah dengan kesungguhan doa istri, sesuatu yang awalnya terlihat tidak mungkin, akan menjadi mungkin.

Sebagai istri perlu untuk mempertebal keyakinan bahwa suami kita dapat berubah, percaya dan yakin 100% bahwa suatu saat nanti suami kita akan mengerjakan salat 5 waktu dan menjadi imam yang baik untuk istri dan anak-anak.

Ibnul Qoyyim mengatakan, “Iman adalah dengan membenarkan (tashdiq). Namun bukan hanya sekedar membenarkan (meyakini) saja, tanpa melaksanakannya (inqiyad). Kalau iman hanyalah membenarkan (tashdiq) saja, tentu iblis, Fir’aun dan kaumnya, kaum sholeh, dan orang Yahudi yang membenarkan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (mereka meyakini hal ini sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka), tentu mereka semua akan disebut orang yang beriman (mu’min-mushoddiq).“

Al Hasan mengatakan, “Iman bukanlah hanya dengan angan-angan (tanpa ada amalan). Namun iman adalah sesuatu yang menancap dalam hati dan dibenarkan dengan amal perbuatan.“ (Lihat Ash Sholah, 35-36). (ummi-online.com/Desy)

 

 

Ahmad zaini
Hut RI
Loading...
Advertisement
Iklan Murah
Iklan Murah

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional