PortalMadura.com

Opini: Bersama Tingkatkan Kualitas Pulau Madura

  • Minggu, 27 November 2016 | 17:05
Opini: Bersama Tingkatkan Kualitas Pulau Madura
Nur Albania Agustine

PortalMadura.Com – Pulau Madura yang masih biasa dan tidak banyak perubahan dari segala sisi sangat di sayangkan, mengingat akses transportasi dari Surabaya ke Madura telah di fasilitasi oleh jembatan Suramadu.

Kurangnya tingkat kesadaran diri dan motivasi untuk berbenah juga sangat minim, dengan adanya jembatan Suramadu harusnya ada kemajuan dan memanfaatkan keadaan yang sudah terkondisikan dengan sangat baik.

Pandangan Madura sebagai kawasan yang relatif tertinggal belum juga menghilang. Tidak banyak orang luar yang tahu mengenai potensi apa yang dapat dikembangkan di daerah tersebut. Akibatnya, angka investasi, industrialisasi, sekaligus pengembangan pariwisata di Madura masih cukup rendah.

Tempo.co menyebutkan, BPM (Badan Penanaman Modal) sebenarnya telah menawarkan tiga bidang usaha yang layak dibuka di Madura yaitu investasi ternak sapi, pengolahan tembakau, serta garam.

Meski beberapa kali ditawarkan ke beberapa negara, tak ada satu pun yang berminat ke Madura. Sangat di sayangkan memang, mengingat Pulau Madura menjadi penghasil garam terbanyak dalam tingkat nasional. Seharusnya banyak sekali para investor yang mau untuk ikut dalam mengembangkan hasil sumber daya yang alami dan sangat murni ini.

Kondisi tidak menguntungkan ini disinyalir akibat kurangnya sinergi antar-kabupaten di Madura, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep dalam mengoptimalkan pembangunan di Madura.

Keempat kabupaten tersebut cenderung mengedepankan ego-sektoral masing-masing, sehingga belum ada langkah stategis yang digunakan untuk bersama-sama membangun Madura.

Agus N. Palgunadi menyatakan, keberhasilan dalam membangun Pulau Madura tentu tidak bisa dilihat dari satu kabupaten saja, tetapi harus dilihat dari seluruh kabupaten di Madura.

Dengan kata lain, tidak ada guna dan tidak akan pernah maksimal upaya pembangunan Madura kalau hanya dikuatkan dari satu atau dua kabupaten yang ada di Madura (wartamadura.blogspot.com). Seharusnya warga Madura bisa bersatu dan saling bekerja sama antar kabupaten untuk mengembangkan potensi yang dimiliki agar tingkat lapangan kerja dan penghasilan ekonomi di Madura dapat meningkat dan makin berkembang

Tidak berhenti sampai disitu, kurangnya media massa yang mengekspos potensi Madura menyebabkan upaya untuk mendongkrak popularitas Madura menjadi terhambat.

Penyebabnya antaralain adalah: Pertama, tidak banyak agenda setting yang menempatkan keunggulan Madura sebagai fokus pemberitaan. Kedua, masih sedikit masyarakat Madura yang mengeksplorasi keunggulan Madura secara mandiri. Ketiga, jenis media yang digunakan bukanlah media arus utama, sehingga pesan yang disampaikan belum terlalu memadai untuk diterima khalayak dalam jumlah yang besar.

Berbagai kelemahan media di atas tidak hanya berakibat pada minimnya referensi untuk mengetahui potensi Madura, akan tetapi juga semakin memupuk stereotip negatif yang berkembang di masyarakat umum. Madura lebih dikenal dengan stereotip keras dan tradisi carok-nya.

Orang Madura juga disebut-sebut mudah tersinggung, menaruh curiga kepada orang lain, bertempramen tinggi atau mudah marah, pendendam dan suka melakukan tindakan kekerasan (Wiyata, 2013:5).

Tentu stereotip negatif semacam itu akan menjadi konstruksi citra yang buruk bagi masyarakat luar Madura. Padahal orang madura tidak semuanya seperti itu, namun orang madura sangat menjaga harga diri mereka, hal tersebut yang biasanya menyebabkan hal-hal tersebut terjadi.

Image building (pembentukan citra) ke arah yang lebih positif adalah salah satu langkah strategis untuk mengurangi dampak negatif stereotip yang berkembang. Perlu adanya identitas global yang menjadi fokus pencitraan Pulau Madura, sehingga masyarakat umum hanya akan memiliki satu gambaran positif yang mewakili potensi Madura secara keseluruhan.

City branding adalah cara tepat untuk memfokuskan image building Madura. City branding disini bukan lagi bersifat locality, yaitu hanya dimiliki salah satu kabupaten, namun mencakup keempat kabupaten di Madura sebagai kesatuan pulau dan etnisitas.

City branding inilah yang akan diaplikasikan ke dalam berbagai media alternatif, seperti logo, ikon, dan film, yang selanjutnya akan dipromosikan oleh seluruh elemen masyarakat Madura melalui media konvensional maupun online.

Hal-hal inilah yang mungkin bisa kita rencanakan bersama-sama tanpa membandingkan perbedaan antar kabupaten, sudah saatnya kita saling berpegang tangan untuk membuka diri serta mengembangkan potensi alam dan sumber daya yang ada di Pulau Madura ini.

Semoga semua lapisan masyarakat saling bahu-membahu dan bekerja sama meningkatkan kualitas Madura agar lebih maju dan jaya.(*har)

Penulis: Nur Albania Agustine, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2014 Universitas Trunojoyo Madura (UTM)

loading...
Berita Pilihan

Hari Jadi Pamekasan

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional