PortalMadura.com

Refleksi Hari Kartini-Akhiri Diskriminasi, Belajar Menghargai

  • Jumat, 21 April 2017 | 23:55
Refleksi Hari Kartini-Akhiri Diskriminasi, Belajar Menghargai
Ist. Nia Kurnia Achmad Fauzi

PortalMadura.Com – “Di negeri ini, tak kurang R.A.Kartini sampai Rasuna Said berjuang untuk pendidikan kaum perempuan. Nasib perempuan, bagaimanapun hebatnya dibicarakan dan diseminarkan, masih menjadi ironi. Jika ada kemiskinan di sebuah negeri, maka perempuanlah kelompok yang paling miskin, jika ada kelompok buta huruf, maka perempuanlah yang banyak buta huruf”.

Setiap hari sering kita lihat dan mendengar diskusi dan seminar-seminar tentang perempuan lantang menggema dimana-mana, bahkan tak jarang menghasilkan sebuah solusi untuk mengangkat hargkat dan martabat perempuan dengan cara stop kekerasan, dan biarkan perempuan memilih jalannya sendiri. Tak hanya itu, tiap tahun juga tak pernah alpa kita gelar peringatan untuk Kartini, perempuan penerang bagi kegelapan. Tetapi apa boleh dikata, kian diperingati, diseminarkan dan dikoar-koarkan, perempuan tetap dalam posisi awal; nista dan termarginal. Maka benar, jika ada kemiskinan di sebuah negeri, maka perempuan yang paling miskin.

Sebagai sebuah deskripsi, kita masih sering melihat dan dan menonton adegan demi adegan tentang praktik tidak manusiawi bagi perempuan. Bahkan masih sangat segar dalam ingatan kita, kasus pencabulan, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang menimpa banyak perempuan menjadi hiasan dalam bingkai kehidupan kita. Tak jarang, kejadian miris itu sontak menjadi isu hangat hingga menyaingi isu-isu politik yang berkembang dewasa ini.

Sungguh, tak terhitung jumlahnya, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang menimpa perempuan menjadi gambaran memilukan bahwa era reformasi yang dulunya dikoarkan untuk mengubah nasib perempuan ternyata sebatas hiburan bagi perempuan. Kebebasan berekspresi, berpendapat dan layak hidup berdampingan dengan laki-laki hanya fatwa demokrasi sesaat.

“Model” ekploitasi masa kini tak hanya berupa kekerasan fisik. Tetapi juga berbentuk intimidasi, penyelewengan hak asasi, marginalisasi, dan segala hal yang menghambat gerak perempuan menjadi pemandangan yang tak pernah ada habisnya.

Perempuan yang seharusnya menjadi gerbang peradaban acapkali masih menjadi korban kekuatan patriakhi. Pada beberapa hal, perempuan sering menjadi objek eksploitasi, baik dalam rumah tangga, kantor, pabrik, jalanan, dan lainnya. Dan perlakuan nista itu tidak cukup disitu tetapi juga merembet terhadap kehidupan sosial-kemasyarakatan, bahkan tak jarang di berbagai media, perempuan kerap mendapat perlakuan tidak arif dengan diberitakan negatif dan termarjinalkan.

Padahal, berbicara lebih jauh, perempuan itu menjelma sosok ibu kita. Seorang ibu yang mesti diayomi, dihormati, disayang, dan diletakkan pada sifat yang sewajarnya. Bukan dihajar tak wajar. Mereka adalah ibu yang melahirkan kita, sehingga terciptalah sebuah peradaban. Maka tak sepantasnya, perempuan dinistakan dan tidak dihargai. Tidak menghargai perempuan berarti kita juga tak menghargai ibu kita, yang mengandung sembilan bulan hingga mengasihi dan menyayangi kita.

Karena apapaun bentuknya, mendiskreditkan dan memarjinalkan posisi perempuan tidak ada bedanya dengan merusak sistem peradaban. Bahkan dalam ajaran agama apapun tak pernah mengajarkan kekerasan, termasuk menistakan perempuan, justru kekerasan sangat ditentang oleh agama, karena dogma agama merupakan sumber dari nilai, etika, dan norma yang terus dijunjung tinggi.

Paradigma Steoritifikasi

Melihat gambaran di atas, penulis punya asumsi awal bahwa kekerasan yang menimpa perempuan sebenarnya merupakan bentuk dari paradigma streoritifikasi. Steoritifikasi yang melahirkan pemahaman terhadap perempuan yang selalu mengalah dan tertindas, seharusnya menjadi kekuatan untuk bertindak dan bersikap. Sehingga ketertindasan yang dialami perempuan, baik fisik maupun nonfisik, menjadi alasan utama keterbelakangan mereka dalam berbagai hal. Termasuk dalam segi akal dan kiprahnya.

Advertisement
Iklan Murah

Sehingga dalam pandangan penulis bentuk marginalisasi terhadap hak-hak perempuan seakan-akan menimbulkan kesan lama bernuansa rasisme. Meskipun emansipasi perempuan digalakkan di segala bidang kehidupan sosial, politik, dan budaya, tetapi peran kaum Hawa masih tetap dianggap sebagai sosok manusia yang tidak memiliki agensi. Maka, sebagai bentuk tangggung jawab dan solidaritas kemanusiaan, marilah kita bersama bergandeng tangan, seiring dan seirama menuju kemerdekaan hakiki dengan menghargai keberadaan perempuan, baik dalam sistem politik, sosial, budaya, ekonomi, dan agama.

Gerakan feminisme yang disuarakan lantang oleh kalangan liberal hanya menjadi suara bisu, tak ada artinya, suara dan bisik rasisme, stereotype, seksisme, penindasan perempuan, dan phalogosentrisme masih terus ada. Mungkin benar apa yang dikatakan oleh Friedan (1963), sosok feminisme liberal, bahwa perempuan dapat menaikkan posisinya dalam keluarga dan masyarakat melalui kombinasi inisiatif dan prestasi individual (misalnya pendidikan), diskusi rasional dengan kaum laki-laki, khususnya sang suami yang sering melihat perempuan nomor kelas dua.

Pengaruh Sistem

Diferensiasi feminisme dan maskulinitas tidak dapat dipandang sebelah mata, yaitu sebagai sosok jenis kelamin belaka dengan pemahaman second sex, tapi cobalah berpikir lebih adil dan bijak bahwa setiap orang (termasuk perempuan) memiliki kapasitas dan punya kesempatan untuk cerdas dan gagah. Tak peduli apakah ia perempuan, laki-laki, atau bahkan waria.

Satu hal, perempuan bukan hnya sekadar pelengkap atau ban serep. Karena ketika dijadikan sebagai pelengkap saja, maka tak jarang perlakuan buruk terhadap perempuan merajalela. Sehingga kasus traffiking menghadirkan persepsi bahwa perempuan tak lebih dari barang dagangan untuk meraup keuntungan materi.

Maka jika boleh menghadirkan hipotesa, akar masalah kekerasan terhadap perempuan tidak hanya diperparah oleh hegemoni aktor laki-laki, melainkan juga diperparah oleh sistem patriarkhi yang diskriminasi. Sehingga, sistem itu begitu kuatnya mencengkram perempuan untuk berekspresi dan berpendapat. Maka, sistem patriarkhis yang diskriminatif itu penting untuk kembali dikembalikan kepada pemahaman awal agar peran sistem memberlakukan perempuan secara adil dan bertanggung jawab.

Ketika sistem berpihak kepada perempuan, maka tak ada lagi perempuan yang nista, marginal dan jadi korban kekerasan, tetapi menjadi perempuan sebagai sosok yang berharga dan bertabat. Menghargai perempuan bukan berarti perempuan membutuhkan belas kasihan. Penghargaan dapat berupa memberikan kebebasan sewajarnya, tidak menganggap perempuan sebagai kelas kedua, tidak melakukan marjinalisasi atau kekerasan baik fisik/nonfisik, tidak melakukan pelecehan seksual, pemberlakuan sistem yang humanis, serta menempatkan perempuan sebagai partner yang baik.

Perempuan dan laki-laki merupakan makhluk Tuhan yang harus dihargai. Lelaki dan perempuan adalah bersaudara. Jenis kelamin telah menjadi takdir, disatu sisi memang dibiarkan berbeda. Tetapi di sisi lain, takdir tidak pernah memperlakukan perempuan secara nista. Kesetaraan dapat dilihat dan nilai dari kapabilitas, kreativitas, peran, kerja, dan aktivitas yang dimiliki. Maka, sudah saat belajar menghargai perempuan, karena menghargai perempuan sama saja menghargai kehidupan dan peradaban kita sendiri. Wallahu A’lam.*

Penulis Nia Kurnia Achmad Fauzi
(Ketua GOW Sumenep)

Advertisement
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Iklan Murah
Advertisement
Iklan Murah

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional