Fakta Mengejutkan: Buya Hamka Ternyata Pernah Ucapkan Selamat Natal!

Avatar of PortalMadura.com
Fakta Mengejutkan: Buya Hamka Ternyata Pernah Ucapkan Selamat Natal!
Fakta Mengejutkan: Buya Hamka Ternyata Pernah Ucapkan Selamat Natal!

PortalMadura.com Menjelang perayaan Natal 25 Desember, muncul kembali pertanyaan publik: apakah umat Muslim diperbolehkan mengucapkan selamat Natal? Banyak yang mengira Buya Hamka—tokoh Islam sekaligus Ketua Umum pertama Majelis Ulama Indonesia (MUI)—melarangnya. Namun, fakta sebenarnya justru berbeda.

Irfan Hamka, putra Buya Hamka, menegaskan bahwa ayahnya tidak pernah melarang umat Islam mengucapkan selamat Natal kepada umat Kristen.

Dalam wawancara pada 2014, Irfan mengungkap bahwa Buya Hamka justru pernah mengucapkan selamat Natal kepada tetangganya yang beragama Kristen.

Kejadian itu terjadi saat keluarga Buya Hamka tinggal di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dua tetangga mereka, Ong Liong Sikh dan Reneker, adalah penganut Kristen yang akrab dengan keluarga ulama tersebut.

Hubungan sosial antarkeduanya terjalin hangat—bahkan saat Idul Fitri tiba, kedua tetangga itu turut mengucapkan selamat kepada keluarga Buya Hamka. Sebaliknya, pada 25 Desember, sang ulama membalas dengan ucapan: “Selamat, telah merayakan Natal kalian.”

Frasa “Natal kalian” bukan sekadar pilihan kata biasa. Menurut penjelasan Buya Hamka, ungkapan tersebut bertujuan mempertegas batas akidah, sesuai prinsip dalam Alquran Surah al-Kafirun: *“Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”* Dengan demikian, toleransi tidak berarti mencampuradukkan keyakinan.

Irfan menambahkan, fatwa MUI tahun 1981 di masa kepemimpinan ayahnya memang mengharamkan umat Islam ikut serta dalam ibadah Natal*m—seperti menyanyi di gereja, membakar lilin, atau ritual keagamaan lainnya.

Namun, tidak ada larangan mengucapkan selamat Natal selama tidak menyiratkan pengakuan terhadap doktrin agama lain.

“Yang penting, kata-kata seperti ‘bagi kalian’, ‘bagi umat Kristiani’, atau sejenisnya disertakan agar jelas perbedaan keyakinan,” kata Irfan.

Toleransi Buya Hamka tidak hanya verbal. Ia pernah meminta istrinya memberikan rendang—makanan khas Minang—kepada tetangga Kristen tersebut, meski tidak pada malam Natal melainkan malam Tahun Baru Masehi, sebagai bentuk silaturahmi yang tetap menjaga batas akidah.

Praktik toleransi yang bijak ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang hubungan baik antarumat beragama—selama tidak mengorbankan prinsip keyakina.

Di tengah dinamika sosial menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2026, kisah Buya Hamka menjadi pengingat penting: toleransi sejati lahir dari penghormatan, bukan pengaburan identitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses