PortalMadura.com–Di tengah dominasi film-film ringan dan sekuel aksi kelas B pada bulan Januari, dua bintang papan atas Hollywood, Ben Affleck dan Matt Damon, justru memilih jalur yang tak biasa: tayang eksklusif di Netflix lewat film terbaru mereka, The Rip. Padahal, dengan anggaran mendekati 100 juta dolar AS—jumlah langka untuk film R-rated tanpa waralaba (non-IP)—film ini seharusnya layak tayang di layar lebar.
Namun, dalam lanskap perfilman kontemporer yang semakin bergantung pada platform digital, The Rip menjadi contoh nyata dari “ambil yang bisa didapat”. Bahkan, demi mewujudkan proyek ini, Netflix rela mengubah sementara struktur pembayarannya, menyetujui skema Artists Equity yang diajukan Affleck dan Damon—di mana seluruh kru dan pemain berhak atas bonus jika film sukses secara komersial.
Disutradarai oleh Joe Carnahan (The Grey, Smokin’ Aces), The Rip mengisahkan sekelompok polisi Miami yang menemukan lebih dari 20 juta dolar AS tunai di loteng sebuah rumah biasa di pinggiran kota. Pimpinan operasi, Dane (Damon) dan JD (Affleck), bersama rekan-rekan mereka—termasuk karakter yang diperankan Teyana Taylor, Steven Yeun, dan Catalina Sandino Moreno—harus mengamankan uang tersebut. Namun, kepercayaan mulai retak ketika godaan menguasai pikiran semua orang.
Terinspirasi dari peristiwa nyata, istilah “rip” di sini merujuk pada temuan uang tunai besar yang disembunyikan—bukan kaitannya dengan film horor atau fantasi seperti judul serupa sebelumnya (R.I.P.D., 2013). Meski premisnya sederhana, Carnahan mengemasnya dengan gaya sinematik ala era Don Simpson dan Jerry Bruckheimer: cepat, kasar, penuh ledakan, dan minim nuansa.
Kolaborasi kedua antara Affleck dan Damon setelah Triple Frontier (2019) ini memang menawarkan daya tarik utama: kimia alami keduanya. Mereka membawa bobot akting yang jarang ditemukan di film aksi biasa, memberi sentuhan emosional pada latar belakang tragis karakter masing-masing—meski naskahnya sendiri cenderung klise (anak meninggal vs pacar meninggal).
Sayangnya, potensi aktris pendukung seperti Sasha Calle, yang memerankan penghuni rumah tempat uang ditemukan, kurang dimaksimalkan. Ketegangan yang ia bangun melalui ekspresi ketakutan terasa autentik, namun akhirnya tenggelam dalam arus narasi yang sangat berpusat pada tokoh laki-laki.
Secara visual, The Rip terasa seperti film yang dibuat dua dekade lalu—dan itu justru menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton yang rindu akan aksi langsung tanpa terlalu banyak CGI. Namun, meski diarahkan dengan energi tinggi dan ritme cepat, film ini gagal mengeksplorasi kedalaman karakter perempuan, padahal ketiganya digambarkan cukup tangguh untuk bersaing dengan rekan pria mereka.
Pada akhirnya, The Rip adalah sajian hiburan malam Jumat yang memuaskan—seperti burger enak dengan sedikit truffle oil—namun mudah dilupakan keesokan harinya. Dalam dunia di mana bioskop semakin jarang menampung film aksi non-franchise, kehadiran Affleck dan Damon di layar kecil justru menjadi pengingat bahwa bakat besar kadang harus beradaptasi, bukan menyerah.
The Rip kini tersedia untuk streaming global di Netflixa





