PortalMadura.com– Fenomena video pendek berjudul “Cukur Kumis” yang sedang viral di platform media sosial Indonesia ternyata tidak memiliki versi lengkap berdurasi panjang seperti yang beredar di kalangan netizen. Setelah dilakukan penelusuran mendalam, hanya ditemukan klip berdurasi singkat tanpa konten eksplisit yang beredar melalui akun-akun seperti @fefeq60 dan @video.di.biyo6 pada Kamis (5/2/2026)
Video berdurasi kurang dari satu menit tersebut menampilkan seorang wanita berhijab hitam yang merekam aktivitasnya setelah pulang dari rumah teman. Konten viral ini memicu spekulasi luas karena narasi ambigu dan ekspresi wajah yang ditafsirkan beragam oleh pengguna media sosial. Namun, penelusuran tim redaksi Kaltim Daily memastikan tidak ada bukti valid mengenai klaim video berdurasi 35 menit yang banyak dicari netizen.
“Klaim ‘link video full’ ini merupakan pola klasik clickbait yang memanfaatkan rasa penasaran publik untuk meningkatkan engagement,” ungkap Dr. Rini Susanti, pakar komunikasi digital dari Universitas Mulawarman, kepada Kaltim Daily, Kamis sore. “Akun-akun yang membagikan ulang konten semacam ini sering menambahkan narasi sensasional guna mendorong interaksi berupa like, komentar, dan share.”
Fenomena ini mengikuti pola yang sama dengan tren viral sebelumnya seperti “Kakak Manset Hitam Sok Imut”, di mana konten ambigu sengaja dibuat untuk memicu diskusi dan spekulasi liar. Psikolog media sosial Dr. Budi Santoso menjelaskan bahwa mekanisme FOMO (Fear of Missing Out) turut mempercepat penyebaran konten semacam ini.
“Masyarakat merasa tertekan untuk ikut tren agar tidak ketinggalan informasi, padahal konten tersebut sering kali tidak memiliki nilai informatif atau edukatif,” jelas Dr. Budi.
Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui Siaran Pers No. 045/PIH/KOMINFO/02/2026 mengimbau masyarakat untuk meningkatkan literasi digital dengan memverifikasi sumber informasi sebelum membagikan konten. Masyarakat disarankan menghindari klik pada tautan mencurigakan yang menjanjikan “video full” atau konten eksklusif tanpa sumber jelas.
“Konten clickbait tidak hanya membuang waktu, tetapi juga berpotensi mengarahkan pengguna ke situs berbahaya atau penipuan online,” tambah juru bicara Kominfo, Ahmad Firdaus.
Para ahli menekankan pentingnya sikap kritis dalam mengonsumsi konten media sosial. Masyarakat diminta tidak terpancing narasi provokatif dan selalu memprioritaskan sumber informasi terverifikasi. Dengan meningkatnya tren konten clickbait, literasi digital menjadi bekal penting untuk menjaga keamanan dan kesehatan informasi di ruang digital Indonesia.





