PortalMadura.com– Fenomena viral “Teh Pucuk 17 menit” menggemparkan jagat media sosial sejak awal Februari 2026. Frasa misterius ini mendadak menduduki daftar trending pencarian Google dan TikTok, memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran publik yang kesulitan menemukan konteks jelas di baliknya.
Berdasarkan pantauan penulis pada Sabtu (14/2/2026), kata kunci tersebut muncul berulang di beranda pengguna TikTok dan Instagram. Namun, konten yang diunggah mayoritas hanya berupa potongan video singkat tanpa penjelasan substansial—hanya menampilkan kemasan minuman teh atau narasi provokatif yang mengarahkan pengguna mencari “link lengkap” di kolom komentar.
Hingga kini, tidak ada sumber resmi yang mengonfirmasi keberadaan video berdurasi 17 menit terkait produk Teh Pucuk Harum. Pihak PT Mayora Indah Tbk selaku produsen juga belum memberikan pernyataan resmi terkait fenomena ini. Komunikasi publik perusahaan melalui akun media sosial resmi (@tehpucukharum) tidak menunjukkan keterkaitan dengan tren viral tersebut.
Ketua Lembaga Riset Keamanan Siber Communication and Information Security Research Center (CISRC) Dr. Budi Rahardjo memperingatkan potensi bahaya di balik tren tanpa dasar ini. “Kami mendeteksi sejumlah tautan mencurigakan yang mengklaim menyediakan akses ke ‘video lengkap’. Ini pola klasik phising—mengiming-imingi konten eksklusif untuk mencuri data pribadi atau menyebarkan malware,” ujarnya kepada penulis, Jumat (13/2/2026).
Modus yang teridentifikasi meliputi pengalihan ke situs dengan iklan pop-up agresif, permintaan izin akses akun media sosial, hingga unduhan file berbahaya yang berkedok “player khusus”. Pakar psikologi digital dari Universitas Indonesia, Dr. Larasati Dewi, menjelaskan fenomena ini memanfaatkan *fear of missing out* (FOMO) pengguna.
“Algoritma media sosial memperkuat viralitas topik ambigu seperti ini. Ketika banyak orang mencari, sistem justru mendorong lebih banyak konten serupa—meski tanpa validasi faktual,” terangnya.
Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui akun resmi @kemkominfo mengimbau masyarakat tidak mengklik tautan tidak dikenal dan melaporkan konten mencurigakan melalui kanal aduankonten.id. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) juga mencatat peningkatan 27 persen upaya phising berkedok tren viral sepanjang Januari-Februari 2026.
Fenomena “Teh Pucuk 17 menit” menjadi pengingat krusial: di era informasi instan, rasa penasaran harus diimbangi literasi digital. Verifikasi sumber, hindari klik tautan tidak jelas, dan jangan terburu membagikan konten tanpa kejelasan—karena jejak digital yang bocor hari ini bisa berdampak permanen besok





