PortalMadura.com – Bagi para penggemar serial Reacher yang tengah menanti musim terbaru, aktor Alan Ritchson kembali hadir menggebrak layar kaca melalui film thriller aksi terbaru berjudul “War Machine” yang kini resmi tayang di Netflix sejak Jumat (6/3/2026).
Film arahan sutradara Patrick Hughes ini menawarkan sensasi nostalgia film aksi sci-fi klasik tahun 80-an layaknya Predator, namun dengan sentuhan emosional yang jauh lebih dalam. Alan Ritchson berperan sebagai “81”, seorang rekrut Army Ranger yang harus berjuang bertahan hidup melawan ancaman robot alien yang mematikan.
Terinspirasi Klasik Era 80-an dan 90-an
Dalam wawancara eksklusif, Alan Ritchson mengungkapkan bahwa visi sutradara Patrick Hughes adalah menciptakan ketegangan yang serupa dengan film horor klasik. “Film ini memiliki tensi layaknya film horor dari era 80-an dan 90-an. Saya merasa proyek ini berada di tangan sutradara yang tepat karena menggabungkan aksi berskala besar dengan muatan emosional,” ujar Ritchson.
Sutradara Patrick Hughes mengakui bahwa performa Ritchson dalam Reacher menjadi alasan utama ia memilih sang aktor. Menurutnya, karakter “81” membutuhkan sosok yang tidak hanya tangguh secara fisik untuk adegan aksi, tetapi juga memiliki kerentanan (vulnerability) yang besar.
Alur Cerita: Dari Drama Militer ke Invasi Sci-Fi
Menariknya, War Machine tidak langsung menyuguhkan elemen fiksi ilmiah sejak awal. Film ini dibuka dengan kisah yang sangat membumi, di mana karakter 81 tengah berduka atas kematian mendadak saudaranya (diperankan oleh Jai Courtney). Ia memutuskan masuk pelatihan Army Ranger di usia yang tidak lagi muda demi menghormati memori sang saudara.
Plot mulai bergeser sekitar 30 menit setelah film berjalan, ketika ancaman asteroid yang mendekati bumi mulai terungkap, membawa pahlawan kita ke dalam pertempuran hidup dan mati melawan entitas asing.
Aksi Nyata Tanpa Rekayasa Berlebihan
Salah satu keunggulan utama War Machine adalah komitmennya terhadap realisme. Meskipun melibatkan musuh berupa robot alien, proses syuting yang dilakukan di Australia ini meminimalkan penggunaan CGI untuk adegan aksi.
“Kami melakukan syuting dengan kamera langsung di lokasi nyata, menggunakan aksi nyata, ledakan nyata, hingga penyelamatan yang menantang maut. Realisme seperti ini yang menurut saya mulai hilang dari sinema modern,” tegas Hughes.
Film ini tidak hanya mengeksplorasi cara bertahan hidup, tetapi juga menyentuh sisi maskulinitas dan penderitaan internal yang jarang dibicarakan secara terbuka. Bagi penonton yang mencari kombinasi antara kecerdasan cerita, kompleksitas karakter, dan aksi intens, War Machine sudah bisa dinikmati melalui layanan streaming Netflix sekarang juga.





