portalmadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan kembali melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Senin (18/5/2026). Sentimen negatif dari pasar global dan memanasnya eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama mata uang Garuda kian tertekan mendekati level Rp17.660 per dolar AS.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan pergerakan kurs rupiah hari ini akan berada di kisaran Rp17.590 hingga Rp17.660 per dolar AS. Menurutnya, penutupan perdagangan akhir pekan lalu yang menempatkan rupiah di posisi rentan memicu kekhawatiran pasar akan terjadinya rekor koreksi yang lebih dalam pada pembukaan pekan ini.
“Faktor utamanya masih berasal dari eksternal, terutama ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang kembali meningkat,” ujar Ibrahim dalam keterangannya kepada media, Minggu (17/5/2026).
Baca Juga:
Situasi di sekitar Selat Hormuz kian memanas setelah adanya laporan penyitaan kapal asal China oleh pihak Iran. Selain itu, konflik yang terus berkecamuk antara Israel dengan Hamas serta eskalasi serangan ke wilayah Lebanon Selatan memperburuk minat investor terhadap aset-aset berisiko (risk-off global). Kondisi tersebut otomatis mendorong penguatan indeks dolar AS secara signifikan sekaligus mengerek harga minyak mentah dunia.
Lonjakan harga minyak global ini memberikan beban ganda bagi perekonomian domestik. Sebagai negara importir bersih (net importer) minyak, Indonesia membutuhkan pasokan dolar AS dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan impor energi. Tekanan ini kian diperparah oleh siklus musiman triwulanan, seperti tingginya kebutuhan korporasi untuk pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo serta repatriasi dividen ke luar negeri.
Senada dengan hal tersebut, Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai pelemahan rupiah pada hari Senin ini merupakan respons pelaku pasar terhadap aksi jual massal (sell-off) instrumen investasi, mulai dari obligasi, saham, hingga kripto pada akhir pekan lalu. Kekhawatiran ini merebak setelah hasil pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping terkait eskalasi di Selat Hormuz belum membuahkan kepastian yang menenangkan pasar.
Lukman memproyeksikan rupiah hari ini bergerak dinamis pada rentang Rp17.550 hingga Rp17.650 per dolar AS. Guna menahan kejatuhan nilai tukar yang terlalu dalam, Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah terus memperkuat lini pertahanan lewat intervensi pasar valuta asing dan pemanfaatan dana stabilisasi obligasi untuk menjaga kepercayaan pasar.





