PortalMadura.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan jual signifikan dalam beberapa hari terakhir, mencatat penurunan tajam yang membawa indeks ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Pada perdagangan Rabu, 3 Juni 2026, IHSG anjlok 254,36 poin atau 4,11% menjadi 5.941,07, menandai penutupan terendah sejak 30 Juni 2021.
Kinerja buruk ini berlanjut pada Kamis pagi, 4 Juni 2026, dengan IHSG sempat melemah hingga 4,30% ke level 5.683,25, dan menyentuh 5.656 poin pada pukul 09.47 WIB, menunjukkan kerugian lebih dalam.
Pada sesi I Kamis, 4 Juni 2026, IHSG ambles 3,48% ke level 5.734,25, mencapai titik terendah sepanjang 2026 dan yang terendah sejak November 2020.
Dalam kurun waktu sebulan terakhir, indeks acuan pasar saham Indonesia ini telah merosot 14,79% dan turun 15,96% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara tahun berjalan (Year-to-Date) hingga Juni 2026, IHSG telah melemah hingga 32,24%, menjadikannya salah satu kinerja terburuk di antara lebih dari 90 indeks ekuitas global.
Faktor-faktor Pemicu Penurunan IHSG
Pelemahan masif IHSG dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global yang menciptakan sentimen negatif di kalangan investor.
Tekanan dari Kebijakan Moneter dan Makroekonomi Domestik
Nilai tukar Rupiah yang terus melemah mendekati Rp18.000 per dolar AS menjadi salah satu kekhawatiran utama yang meningkatkan tekanan jual dari investor, memicu kekhawatiran terhadap stabilitas makroekonomi domestik.
Inflasi Mei yang mencapai 3,08%, berada di atas titik tengah target bank sentral, turut menambah beban pasar karena dapat mengurangi daya beli konsumen dan meningkatkan biaya produksi perusahaan.
Data perdagangan April 2026 menunjukkan surplus yang memudar akibat melonjaknya biaya impor minyak yang melampaui ekspor, memperburuk neraca perdagangan.
Aksi jual bersih (net foreign sell) oleh investor asing sebesar Rp993,23 miliar pada 3 Juni 2026 juga menjadi faktor dominan yang menekan likuiditas pasar domestik dan menyebabkan harga saham tertekan secara luas.
Gejolak Global dan Sentimen Pasar Internasional
Ketegangan geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah seperti perang Iran-Israel, serta ketegangan AS-Iran yang memperbarui kekhawatiran inflasi, turut berkontribusi pada kehati-hatian investor global.
Kenaikan harga minyak dunia juga menjadi sentimen negatif, memicu risiko fiskal dan keseimbangan eksternal Indonesia, serta menambah beban biaya impor.
Ambruknya Wall Street dan penguatan dolar AS juga menciptakan sentimen negatif yang menjalar ke pasar keuangan di Asia, termasuk Indonesia.
Kinerja indeks saham regional seperti KOSPI Korea Selatan yang terkoreksi 2% dan Nikkei 225 Jepang yang turun 1,4% pada 4 Juni 2026 pagi, mencerminkan tekanan pasar yang lebih luas di Asia.
Sektor-sektor di IHSG secara umum terpantau melemah, dengan sektor barang baku, properti, perindustrian, transportasi, dan infrastruktur mencatat penurunan terdalam.
Mengenal IHSG dan Faktor Umum Pergerakannya
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) adalah indikator utama yang merefleksikan pergerakan seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
IHSG sering digunakan sebagai barometer kesehatan pasar modal Indonesia, menunjukkan kondisi pasar secara keseluruhan.
Fluktuasi IHSG dipengaruhi oleh berbagai faktor fundamental seperti kondisi ekonomi nasional, kinerja keuangan perusahaan, kebijakan suku bunga bank sentral, tingkat inflasi, nilai tukar mata uang, serta sentimen pasar global dan domestik.
Ketika mayoritas saham mengalami kenaikan harga karena minat beli yang dominan, IHSG cenderung menguat.
Sebaliknya, jika banyak saham mengalami penurunan akibat aksi jual yang mendominasi, indeks akan bergerak turun.
Pernyataan Pemerintah dan Proyeksi ke Depan
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa stabilitas ekonomi Indonesia ditopang oleh kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang terukur.
Beliau juga menyoroti kuatnya konsumsi domestik dan membaiknya kinerja sektor eksternal, serta inflasi yang tetap terkendali dan investasi yang terus tumbuh positif.
Meskipun demikian, analis BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi menguji level support berikutnya di 5.750-5.840 jika ditutup di bawah 5.900.
Ke depan, arah IHSG akan sangat ditentukan oleh stabilitas rupiah, respons pemerintah terhadap tekanan pasar, serta hasil evaluasi indeks global yang memengaruhi arus modal asing.
Trading Economics dan analis memperkirakan IHSG akan diperdagangkan pada 6053,72 poin pada akhir kuartal ini, dan 5315,50 dalam 12 bulan ke depan.
Ada pula prediksi bahwa peluang IHSG untuk mencapai 9.000 hingga akhir tahun 2025 masih terbuka lebar, didukung oleh sentimen positif seperti belanja pemerintah, pelonggaran moneter, pemulihan ekonomi global, stabilitas makroekonomi, re-rating valuasi, serta perbaikan kinerja korporasi dan peningkatan minat investor.
Praktisi pasar modal, Rivan Kurniawan, memprediksi tahun 2025 dapat menjadi tahun yang lebih positif bagi IHSG setelah tekanan di 2024, didorong oleh potensi penurunan suku bunga Bank Indonesia dan pertumbuhan sektor-sektor tertentu seperti Oil & Gas.
Bagi investor, memahami dinamika ini dan terus mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik menjadi krusial dalam mengambil keputusan investasi yang bijaksana.





