PortalMadura.com – Delegasi utama Iran telah meninggalkan Swiss pada Senin pagi, 22 Juni 2026, menandai berakhirnya putaran pertama perundingan tingkat tinggi yang intensif dengan Amerika Serikat mengenai program nuklir dan isu keamanan regional yang lebih luas.
Perundingan maraton selama lebih dari 10 jam di resor Bürgenstock, dekat Danau Lucerne, ini menghasilkan sebuah peta jalan 60 hari menuju kesepakatan akhir, meskipun diwarnai dengan ketegangan dan pernyataan kontroversial.
Para mediator dari Pakistan dan Qatar mengonfirmasi bahwa perundingan teknis tingkat rendah akan terus berlanjut sepanjang minggu ini, menunjukkan adanya komitmen berkelanjutan dari kedua belah pihak.
Kesepakatan awal yang rapuh untuk mengakhiri apa yang disebut ‘perang Iran’ telah ditandatangani pada tanggal 15 Juni 2026, menetapkan gencatan senjata 60 hari dan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Perundingan di Swiss ini bertujuan untuk membangun kerangka kerja tersebut dan mengisi detail teknis yang krusial.
Kronologi Perundingan dan Poin-Poin Utama
Perundingan dimulai pada hari Sabtu, 20 Juni 2026, dengan Vice President AS JD Vance memimpin delegasi Amerika, didampingi oleh Steve Witkoff dan Jared Kushner.
Delegasi Iran dipimpin oleh Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai kepala negosiator, bersama dengan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati, dan pejabat terkait minyak.
Pakistan dan Qatar bertindak sebagai mediator utama, dengan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman Al Thani memainkan peran penting.
Isu-isu krusial yang dibahas mencakup program nuklir Iran, yang AS ingin batasi penggunaannya untuk tujuan militer, serta status Selat Hormuz yang strategis.
Situasi keamanan di Lebanon, khususnya konflik antara Israel dan kelompok yang didukung Iran, Hizbullah, juga menjadi agenda utama diskusi.
Perundingan mengenai program nuklir Iran berpusat pada pengenceran stok uranium yang diperkaya tinggi dan hak Iran untuk memperkaya uranium di masa depan.
Sebagai imbalan, Iran diperkirakan akan mendapatkan insentif ekonomi signifikan, termasuk akses ke miliaran dolar aset beku dan keringanan sanksi.
Ketegangan di Tengah Upaya Diplomatik
Perjalanan perundingan tidak lepas dari gejolak, dimulai dengan ketegangan awal pada hari Minggu.
Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman melalui media sosialnya, Truth Social, menargetkan Iran terkait aktivitas proksi mereka di Lebanon.
Trump memperingatkan bahwa jika Iran tidak menghentikan proksi mereka, AS akan ‘menyerang Iran lagi dengan sangat keras, sama seperti yang kami lakukan minggu lalu, hanya lebih keras!!!’
Pernyataan ini memicu kemarahan dari pihak Iran dan dilaporkan sempat menyebabkan penundaan dalam perundingan, meskipun para diplomat menegaskan bahwa Iran tetap terlibat.
Mohammad Bagher Ghalibaf membalas pernyataan Trump di X, menyatakan bahwa ‘mereka sebaiknya berhati-hati dengan pernyataan mereka’ dan ‘angkatan bersenjata kami siap merespons mereka dengan cara yang berbeda’.
Selain itu, klaim Iran bahwa mereka telah menutup kembali Selat Hormuz sebagai respons atas serangan Israel di Lebanon juga menambah ketegangan.
AS dengan cepat membantah klaim ini, dengan Kapten Tim Hawkins dari Komando Pusat AS menegaskan bahwa lalu lintas terus mengalir dan pasukan AS memantau situasi untuk memastikan hal tersebut.
Terlepas dari ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kemudian menulis di X bahwa ‘mediasi tak kenal lelah Pakistan dan Qatar telah memberikan kemajuan besar untuk mengakhiri Perang Lebanon.’
Hasil dan Tantangan ke Depan
Salah satu hasil penting dari perundingan ini adalah kesepakatan untuk membentuk mekanisme ‘de-konflik’ Lebanon.
Mekanisme ini bertujuan untuk memastikan kepatuhan terhadap penghentian operasi militer di Lebanon, melibatkan pemerintah Lebanon.
Israel, bagaimanapun, telah menyatakan tidak akan menarik diri dari zona keamanannya di Lebanon selatan, yang menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas mekanisme ini.
Peta jalan 60 hari yang disepakati akan melibatkan komite pengawas tingkat tinggi dan kelompok kerja yang berfokus pada masalah nuklir, sanksi, serta pemantauan dan penyelesaian sengketa.
Hal ini menciptakan landasan untuk dimulainya kembali diskusi teknis yang intensif.
Wakil Presiden Vance menyatakan optimisme hati-hati tentang kemajuan yang dicapai, melihatnya sebagai awal dari proses negosiasi teknis.
Namun, kecurigaan yang mendalam antara kedua negara tetap ada.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan kembali bahwa Iran ‘tidak akan pernah mundur dari hak untuk memperkaya uranium, dan pihak lain juga terpaksa menerimanya.’
Keluarnya delegasi utama Iran dari Swiss setelah putaran pertama menunjukkan bahwa fase ‘kerja keras’ yang sesungguhnya telah dimulai bagi tim-tim teknis yang tersisa.
Tugas mereka adalah mengubah peta jalan menjadi kesepakatan konkret yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.
Pasar minyak bereaksi terhadap berita perundingan ini, dengan harga minyak mentah Brent sempat turun sebelum kembali naik seiring pantauan hasil negosiasi.
Secara keseluruhan, perundingan di Swiss mewakili langkah signifikan dalam upaya untuk mengelola ketegangan regional dan mencapai kesepakatan yang lebih permanen.
Namun, jalan menuju resolusi jangka panjang masih panjang dan penuh dengan tantangan diplomatik yang kompleks.







