PORTALMADURA.COM, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan tren pelemahan dan berada di atas kisaran psikologis Rp18.000 per dollar AS. Berdasarkan data per Sabtu (17/10/2026), posisi kurs rupiah bergerak di kisaran Rp18.053 per dollar AS.
Tekanan terhadap mata uang Garuda ini terpantau sejak penutupan perdagangan pasar spot pada Jumat (16/10/2026), di mana rupiah ditutup terdepresiasi ke posisi Rp18.027 per dollar AS, melemah sekitar 89 poin atau 0,50 persen dari posisi hari sebelumnya di level Rp17.938 per dollar AS. Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, posisi nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.052 per dollar AS.
Pengamat mata uang Ariston Tjendra mengungkapkan bahwa pelemahan mata uang domestik ini dipicu oleh tingginya tekanan eksternal serta potensi penguatan arus modal asing yang keluar dari pasar keuangan berkembang.
Di samping itu, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI), Erwin G Hutapea, menjelaskan bahwa dinamika nilai tukar rupiah turut dipengaruhi oleh rilis data inflasi AS yang berada di atas ekspektasi pasar. Kondisi tersebut memicu spekulasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan di level tinggi dalam jangka waktu yang lebih panjang (higher for longer).
Faktor geopolitik global juga memegang peranan penting. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah mendorong harga minyak mentah dunia tetap bertengger di atas kisaran 105 dollar AS per barel, yang pada gilirannya meningkatkan ketidakpastian perekonomian global.
Meskipun volatilitas nilai tukar mata uang domestik sedang meningkat, Bank Indonesia memastikan tetap berada di pasar untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi guna menjaga ketahanan ekonomi nasional serta memastikan mekanisme pasar valuta asing berjalan secara wajar.





