oleh

4 Kali Terjadi Demo, Komisi D Masih Telusuri Polemik MAN 2 Pamekasan

PortalMadura.Com, Pamekasan – Meski beberapa kali siswa dan guru MAN 2 Pamekasan, Madura, Jawa Timur menggelar  aksi mogok belajar, menuntut Kepala Sekolahnya, M. Taufiqi diganti, namun Komisi D DPRD setempat mengaku masih belum faham polemik yang terjadi di sekolah itu.

Wakil Ketua Komisi D DPRD Pamekasan, Juhaini, mengatakan, pihaknya masih mengumpulkan informasi dari masyarakat, tentang polemik yang terjadi lembaga itu. Kemudian, akan memanggil pihak Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, dan unsur-unsur yang berkompeten.

“Langkah selanjutnya akan mengkaji dan menyimpulkan polemik yang ada di MAN 2. Bisa jadi akan melayangkan kesimpulan dan hasil kajian tersebut, ke Kakanwil Kemenag Jatim dan kemenag RI, agar secepatnya mengeluarkan kebijakan terkait polemik di MAN 2 Pamekasan”, katanya, Jumat (7/3/2014).

Menurut Juhaini, Situasi di MAN 2 Pamekasan, yang melibatkan siswa dan guru tersebut, sangat merugikan siswa dan orang tuanya karena sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional (UN) tahun 2014.

“Saya mengharapkan agar para siswa dan guru di MAN 2 Pamekasan menahan diri, dan melaksanakan kegiatan belajar mengajar seperti sedia kala, guna menyelamatkan siswa kelas XII yang sebetar lagi akan ujian,” jelasnya.

Tercatat sudah empat kali, siswa MAN 2 Pamekasan, menggelar aksi mogok belajar. Yang terakhir para siswa ini melakukan aksi mogok belajar sekaligus menyegel ruang kepala sekolahnya.

Aksi itu karena mereka menolak Kepala MAN 2 Pamekasan, M Taufiqi, adik mantan Kepala Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, Nurmaluddin yang kini sudah dimutasi sebagai Kepala Kemenag di Lumajang pada pertengahan tahun 2013.

Sementara itu, Slamet, salah satu guru MAN 2 Pamekasan mengatakan, Taufiqi dianggap tidak memiliki kompetensi menjabat sebagai kepala. Jabatan yang diperolehnya akibat kakak kandungnya menjadi Kepala Kemenag Pamekasan beberapa waktu lalu. Salah satu kompetensi yang tidak dimilikinya, sulit membangun kinerja tim di Madrasahnya.

“Sebelumnya, semua guru kompak. Namun sejak kehadiran Taufiqi, guru kemudian pecah menjadi beberapa kubu,” terangnya.(reiza/htn)



Komentar