oleh

5 Cara Jadikan PR Untuk Mempererat Hubungan Anak dan Orangtua

PortalMadura.Com – Belum lama ini, dunia pendidikan dihebohkan dengan beredarnya wacana mengenai guru yang dilarang memberikan Pekerjaan Rumah (PR) kepada siswa. Hal tersebut memang mengundang pro dan kontra. Pasalnya, PR selama ini menjadi cara dalam memperdalam pemahaman, melatih tanggung jawab serta kemandirian siswa di tengah waktu tatap muka yang terbatas. Tidak hanya itu, PR bisa menjadi salah satu jurus untuk mengurangi waktu siswa melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat seperti bermain gadget.

Namun sebenarnya, terbitnya peraturan ini bukan tanpa alasan. Diharapkan, lewat peraturan ini siswa memiliki waktu lebih banyak dengan keluarga serta membangun pendidikan karakter dalam keluarga dan masyarakat.

“Sejatinya kebersamaan keluarga serta pendidikan karakter bisa terbentuk melalui PR yang diberikan guru. Hanya diperlukan kreativitas guru dalam ‘membungkus’ PR dalam ‘kemasan’ yang berbeda dan tidak monoton,” ujar Sri Rahayu, Guru MI Al-Falah, Ujung Menteng, Jakarta.

Namun, PR sebenarnya juga bisa digunakan untuk mempererat hubungan anak dan orangtua. Berikut beberapa cara agar PR mampu mempererat hubungan anak dan orangtua.

Penugasan Siswa dan Orangtua
Secara jelas guru dapat memberikan PR untuk dikerjakan siswa bersama orangtua. Seperti, “Kerjakan soal di bawah ini dengan orang tuamu!”.

Dengan kalimat perintah seperti itu, anak-anak akan mengajak orangtua menyelesaikan PR bersama. Orangtua dan anak akan mencari solusi bersama dalam pemecahan masalah soal yang diberikan.

Melibatkan Lingkungan
PR yang diberikan sebaiknya mengaitkan tema lingkungan sekitar. Buatlah soal yang penyelesaiannya membutuhkan keterangan orangtua maupun tetangga sehingga anak-anak bisa berbaur dengan masyarakat sekitar.

Contohnya, “Bagaimana keadaan lingkungan rumahmu 10 tahun lalu?” atau “Tanyakan penjual bakso di sekitar rumahmu, berapakah harga satu posri bakso miliknya? Berapa banyak rata-rata porsi yang terjual selama satu hari. Berapa modal yang harus ia keluarkan. Hitunglah keuntungan/kerugiannya?”

Atau “Berapakah usia ayahmu? Berapa usia ibumu? Hitunglah selisihnya?” atau “Deskripsikan keadaan tempat yang berjarak 20 meter arah utara dari rumahmu?” Bisa juga “Dari daerah manakah orang tuamu berasal? Ceritakan makanan khas daerah kesukaan orang tuamu!” dan sebagainya.

Dengan demikian, anak dapat belajar mata pelajaran terkait melalui pengenalan lingkungan.

Aplikatif dan Menantang
Pekerjaan rumah aplikatif biasanya lebih menarik minat siswa. Misalnya, anak diberi tugas mengolah makanan dari tumbuhan menjadi produk makanan atau minuman sederhana, kemudian mintalah mereka menjualnya di sekitar rumah. Anak diminta untuk menghitung keuntungan dan kerugian hasil penjualan dan membuat laporannya. Dengan demikian, anak diajarkan untuk mengenal konsep matematika dengan aplikasi langsung.

Beri Cukup Waktu
Berikan waktu cukup untuk mengerjakan PR. PR menjadi terasa berat karena jumlah tugas diberikan tidak sesuai dengan waktu yang dimiliki. Perhitungkan waktu dengan tepat agar siswa tetap bisa terlatih dalam memanajemen waktu tetapi juga tidak memberi beban berlebihan.

Sejatinya PR bukanlah ‘tokoh jahat’ dalam merampas waktu kebersamaan anak dan keluarga. Bahkan sebaliknya, PR dapat memberi manfaat. Namun, tidak sedikit anak-anak yang merasa terbebani. Dengan sedikit kreativitas pemberian PR sekaligus dapat menjadi sarana pendidikan karakter luar kelas dan meningkatkan interaksi anak dan orangtua serta masyarakat sekitar.

Itulah cara agar hubungan anak dan orang tua semakin erat dengan PR. Dengan begitu PR tidak hanya membuat anak semakin paham dengan materi pelajaran mereka tetapi juga dapat mempererat hubungannya dengan orangtua bahkan lingkungan. Semoga Bermanfaat. (kompas.com/Nanik)

Komentar