Kekalahan Real Madrid dari Barcelona dalam final Supercopa de España 2026 di Yeda, Arab Saudi, pada Sabtu (11/1/2026), tidak serta-merta mengakhiri masa jabatan Xabi Alonso sebagai pelatih. Meski tumbang 1-2 di tangan Blaugrana asuhan Hansi Flick, performa tim dalam laga tersebut justru memberi napas segar bagi pelatih asal Spanyol itu.
PortalMadura.com–Di internal klub, kekalahan memang tak pernah diterima—apalagi melawan rival abadi. Namun, seperti dilansir media Spanyol dan dikonfirmasi sumber terdekat klub, suasana pasca-laga tidak menunjukkan gejala krisis kepercayaan terhadap Alonso. Justru, cara tim bermain melawan Barcelona—dengan pendekatan taktis baru dan intensitas tinggi—dianggap sebagai sinyal positif.
Salah satu bukti nyata adalah penampilan Vinícius Júnior, yang menjadi momok lini belakang Barcelona hingga tubuhnya tak lagi mampu menopang ritme tinggi. Pemain Brasil itu bahkan meminta diganti karena kelelahan ekstrem, menandakan betapa besar tekanan fisik yang dituntut dalam pertandingan tersebut.
Namun, di balik semangat tempur para pemain, muncul masalah struktural yang tak bisa diabaikan: kondisi fisik tim yang rapuh dan rentetan cedera berkepanjangan. Dalam laga semifinal, Ferland Mendy harus keluar lebih awal akibat cedera otot. Di final, bek muda Dean Huijsen juga mengalami masalah serupa. Sebelumnya, Nico Mihić kembali absen setelah kambuh cederanya.
Fakta ini memicu alarm di markas latihan Valdebebas. Manajemen dan staf teknis sepakat: tanpa perbaikan signifikan dalam kebugaran fisik pemain, target musim ini—termasuk La Liga dan Liga Champions—bisa terancam. Menurut informasi dari lingkaran dalam klub, fokus utama pekan-pekan mendatang bukan pada pergantian pelatih atau pembelian pemain, melainkan reformasi program kebugaran dan pencegahan cedera.
Menariknya, meski bursa transfer musim dingin sedang berlangsung, Real Madrid tidak berniat melakukan perekrutan darurat. Klub juga enggan mengandalkan pemain akademi sebagai solusi jangka pendek—kecuali Gonzalo García, yang sudah dianggap bagian resmi skuad utama. Beberapa pemain muda akan tampil dalam laga Copa del Rey melawan Albacete, namun hanya sebagai rotasi, bukan fondasi strategi.
Dengan demikian, jendela kesempatan masih terbuka lebar bagi Xabi Alonso. Namun, eks pelatih Bayer Leverkusen itu kini dihadapkan pada tantangan nyata: bukan sekadar meracik taktik, tapi memastikan tubuh para pemain mampu menjalankan visinya selama 90 menit—tanpa kolaps di tengah jalan.
Seperti biasa di Real Madrid, hasil adalah segalanya. Tapi kali ini, hasil dimulai dari ruang kebugaran, bukan hanya dari lapangan





