PortalMadura.com — Kabar duka menyelimuti Kabupaten Sumenep di awal tahun 2026. Sebanyak lima orang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal wilayah tersebut dilaporkan meninggal dunia saat bekerja di Malaysia. Ironisnya, seluruh korban diketahui berangkat secara non-prosedural atau ilegal.
Data dari Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Sumenep menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Jumlah kematian di pembuka tahun ini hampir menyamai total kasus sepanjang tahun 2025 yang mencatatkan enam kematian PMI.
Dominasi Warga Kepulauan Kangean
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kelima korban tersebut seluruhnya merupakan warga Kepulauan Kangean. Secara rinci, tiga orang berasal dari Kecamatan Arjasa dan dua orang lainnya berasal dari Kecamatan Kangayan.
Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnaker Sumenep, Eko Kurnia Mediantoro, mengonfirmasi kabar tersebut pada Kamis (05/03/2026). Ia menyebutkan bahwa penyebab kematian para pekerja migran ini bervariasi.
“Awal tahun ini ada lima PMI asli Sumenep yang meninggal di Malaysia, semuanya warga kepulauan. Penyebabnya beragam, ada yang karena sakit dan ada yang mengalami kecelakaan kerja,” ujar Eko.
Status Ilegal Kendala Utama
Eko menegaskan bahwa kelima PMI tersebut tidak mengantongi dokumen resmi sebagai tenaga kerja di luar negeri. Status ilegal ini seringkali menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan dan perlindungan pekerja di negara penempatan.
“Semuanya berstatus ilegal karena tidak memiliki dokumen persyaratan yang lengkap dan resmi,” tambahnya.
Proses Pemulangan dan Sinergi Bantuan
Meski berstatus ilegal, pemerintah tetap memfasilitasi proses pemulangan jenazah hingga ke kampung halaman. Jenazah yang tiba di Bandara Internasional Juanda langsung diantar menuju Pelabuhan Kalianget menggunakan ambulans yang difasilitasi oleh BP3MI Jawa Timur dan P4MI Pamekasan.
Mengingat tingginya biaya transportasi menuju kepulauan, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Sumenep turut turun tangan memberikan bantuan finansial guna meringankan beban keluarga korban.
“Alhamdulillah, Baznas juga berkolaborasi dengan membantu sebagian biaya pemulangan, karena biaya transportasinya cukup mahal,” pungkas Eko.
Baca Juga:





