PortalMadura.com – Gunung Tambora yang terletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) secara resmi menaikkan tingkat aktivitas gunung api legendaris ini dari Level I (Normal) menjadi Level II (Waspada) mulai Selasa (10/3/2026) pukul 10.00 WITA.
Kenaikan status ini menjadi momen bersejarah sekaligus peringatan serius, mengingat Gunung Tambora tercatat belum pernah menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang berarti sejak letusan dahsyatnya pada tahun 1815 silam. Evaluasi terbaru menunjukkan adanya perubahan parameter yang cukup mencolok pada aktivitas bawah permukaan gunung.
Lonjakan Gempa Vulkanik Sepanjang 2026
Peningkatan status ini merujuk pada data pemantauan instrumental yang merekam lonjakan aktivitas kegempaan di dalam perut gunung. Plt. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa tekanan fluida magmatik terpantau semakin kuat seiring bergeraknya magma menuju sistem yang lebih dangkal.
Berdasarkan catatan tim pemantau, jumlah gempa vulkanik pada Februari 2026 mencapai 453 kejadian, meningkat drastis dibandingkan bulan Januari yang hanya mencatatkan 267 kejadian. Hingga awal Maret, aktivitas seismik masih berlangsung intensif dengan rekaman berbagai jenis gempa, termasuk gempa guguran dan tektonik lokal.
Rekomendasi Keamanan bagi Wisatawan dan Masyarakat
Menyusul kenaikan status menjadi Waspada, otoritas terkait mengeluarkan sejumlah rekomendasi ketat guna menjaga keselamatan publik. Pengunjung dan masyarakat setempat diimbau untuk mematuhi aturan berikut:
- Radius Larangan: Dilarang melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas kawah Gunung Tambora.
- Area Berbahaya: Hindari memasuki dasar kaldera serta menjauhi kerucut parasit Doro Afi Toi dan Doro Afi Bou.
- Risiko Gas Beracun: Masyarakat dilarang mendekati lubang tembusan gas di kawasan kaldera.
- Waspada Longsor: Warga perlu mewaspadai potensi guguran batuan dari tebing kaldera akibat kondisi lereng yang tidak stabil.
Mengenang Jejak Raksasa 1815
Gunung Tambora bukan sekadar gunung berapi biasa. Letusannya pada April 1815 silam memegang rekor sebagai erupsi terdahsyat dalam sejarah modern (skala VEI-7). Dampaknya saat itu bahkan memicu perubahan iklim global hingga menurunkan suhu bumi sebesar 3 derajat Celsius.
Meski telah memasuki fase istirahat selama lebih dari dua abad, statusnya sebagai Gunung Api Aktif Tipe A menegaskan bahwa Tambora tetap memiliki potensi magmatik yang bisa sewaktu-waktu bangkit. Saat ini, embusan asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang terus terpantau, membuktikan dapur magma raksasa ini masih aktif.







