PortalMadura.com – Harga saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level terendah dalam tiga tahun terakhir pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Penurunan tajam ini dipicu oleh aksi jual masif investor asing yang terjadi bersamaan dengan merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS hingga melampaui level psikologis Rp17.200.
Investor Asing Lepas Saham BBCA Secara Masif
Berdasarkan data pasar pada sesi I, Jumat (24/4), saham emiten perbankan swasta terbesar di Indonesia ini sempat melantai di posisi Rp6.300 per lembar. Hingga pukul 09.08 WIB, harga terkoreksi 1,56 persen ke level Rp6.325 dengan volume perdagangan mencapai 34,48 juta saham.
Data dari Stockbit Sekuritas mencatatkan bahwa investor asing melakukan aksi jual bersih (net sell) senilai Rp91,6 miliar. Angka ini merupakan nilai pelepasan aset tertinggi di Bursa Efek Indonesia pada periode tersebut. Tren negatif ini sebenarnya sudah terlihat sejak dua hari sebelumnya, dengan total akumulasi penjualan asing mencapai lebih dari Rp212 miliar.
Rupiah dan Sentimen Geopolitik Jadi Pemicu Utama
Kondisi ini tidak terlepas dari sentimen makroekonomi yang kurang menguntungkan. Phintraco Sekuritas dalam risetnya menyebutkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat ini tengah menguji level dukungan (support) di angka 7.300 setelah sebelumnya bertahan di level 7.500.
Pelemahan Rupiah menjadi faktor utama. Di pasar spot, mata uang Garuda sempat menyentuh Rp17.300 per dolar AS sebelum sedikit menguat ke Rp17.286. Ini tercatat sebagai level penutupan terburuk sepanjang sejarah Rupiah sekaligus pelemahan terdalam di kawasan Asia.
Selain faktor domestik, ketegangan geopolitik di Selat Hormuz turut memperkeruh suasana. Konflik global tersebut memicu lonjakan harga minyak dunia yang berpotensi mengerek inflasi dan memperlebar defisit anggaran pemerintah Indonesia.
Kinerja Fundamental BCA Tetap Solid
Meski harga saham di pasar modal sedang berfluktuasi, BCA sebenarnya melaporkan kinerja keuangan yang cukup tangguh pada kuartal I-2026. Perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun, tumbuh 4 persen secara tahunan (year-on-year).
Sebagai langkah mitigasi risiko, manajemen BBCA meningkatkan dana cadangan atau provisi sebesar 23 persen. Langkah antisipasi ini diambil untuk menghadapi kemungkinan terburuk jika kurs menembus Rp19.000 per dolar AS, yang diprediksi dapat menaikkan rasio kredit bermasalah (NPL) ke level 3 hingga 3,2 persen.
Walaupun berada di tengah tekanan global, para analis menilai fundamental BCA tetap terjaga. Valuasi saat ini dipandang sebagai fase koreksi teknis, dan saham BBCA diproyeksikan masih memiliki peluang untuk kembali menguat menuju level psikologis Rp10.000 dalam jangka menengah.







