Saham BBCA Anjlok 25% Sejak Awal Tahun, Padahal Laba Kuartal I 2026 Tembus Rp14,7 Triliun!

Avatar of PortalMadura.com
Saham BBCA Anjlok 25% Sejak Awal Tahun, Padahal Laba Kuartal I 2026 Tembus Rp14,7 Triliun!
Saham BBCA Anjlok 25% Sejak Awal Tahun, Padahal Laba Kuartal I 2026 Tembus Rp14,7 Triliun!

PortalMadura.com – Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terus menunjukkan tren pelemahan di lantai bursa meski perusahaan baru saja melaporkan pertumbuhan fundamental yang positif pada awal tahun ini. Sejak awal Januari hingga April 2026, harga saham bank swasta terbesar di Indonesia ini telah terkoreksi sekitar 25,08 persen.

Pada penutupan perdagangan terakhir, Minggu (26/4/2026), saham BBCA bertengger di level Rp6.050 per lembar, mengalami penurunan harian sebesar 5,84 persen. Tren negatif ini membawa harga saham menjauh dari kisaran Rp8.000-an yang sempat disentuh pada awal tahun.

Kinerja Fundamental Tetap Solid di Kuartal I 2026

Kontras dengan kondisi di pasar modal, kinerja operasional BCA justru menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Sepanjang kuartal I 2026, perseroan berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp14,7 triliun.

Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menegaskan bahwa performa perseroan tetap terjaga berkat aktivitas bisnis yang meningkat dan momentum musiman di awal tahun.

“Kami optimistis menjaga kinerja BCA tetap solid di tengah kondisi global yang dinamis melalui pengembangan berbagai lini bisnis secara pruden,” ujar Hendra dalam siaran pers resminya.

Pertumbuhan Kredit dan Dana Murah (CASA)

Hingga Maret 2026, penyaluran kredit BCA tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp994 triliun. Segmen produktif menjadi motor utama dengan kontribusi Rp760,2 triliun, atau naik 7,8 persen.

Dari sisi pendanaan, BCA mencatatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar Rp1.292,4 triliun, tumbuh 8,3 persen (yoy). Komposisi dana murah atau CASA tetap mendominasi dengan porsi 85,2 persen atau setara Rp1.089 triliun. Hal ini mencerminkan kuatnya kepercayaan nasabah terhadap layanan transaksi BCA.

Fokus Pembiayaan Hijau dan Kualitas Aset

BCA juga menunjukkan komitmen pada sektor berkelanjutan. Kredit berbasis ESG kini mencapai Rp258,4 triliun, mengambil porsi 26 persen dari total portofolio. Sementara itu, kredit untuk UMKM mengalami lonjakan signifikan sebesar 12 persen menjadi Rp146 triliun.

Meskipun pasar saham bergejolak, kualitas aset perusahaan tetap berada di level aman dengan parameter berikut:

  • NPL (Non-Performing Loan): Terjaga di level 1,8%
  • LAR (Loan at Risk): Berada di angka 5,1%
  • Rasio Pencadangan NPL: Sangat kuat di level 174,6%

Struktur Manajemen dan Kepemilikan

Saat ini, BCA dipimpin oleh Gregory Hendra Lembong selaku Presiden Direktur, didampingi jajaran direksi berpengalaman seperti Armand Wahyudi Hartono dan John Kosasih. Secara kepemilikan, PT Dwimuria Investama Andalan masih menjadi pemegang saham pengendali dengan porsi 54,94 persen.

Meskipun dalam jangka pendek harga saham BBCA masih berada di bawah tekanan pasar yang fluktuatif, likuiditas saham di pasar tetap tinggi dengan porsi free float mencapai 42,59 persen. Para investor kini menantikan apakah solidnya fundamental perusahaan mampu mengangkat kembali harga saham dalam waktu dekat. (portalmadura.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses