portalmadura.com – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) pada perdagangan Senin (18/5/2026) pagi ini diproyeksikan masih tertahan dalam tren koreksi yang cukup dalam. Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia ini mengalami tekanan hebat setelah pasar global merespons akumulasi sentimen negatif sepanjang akhir pekan kemarin.
Berdasarkan data pasar terbaru, nilai Bitcoin ambles hingga 1,3 persen dan terlempar ke kisaran USD78.231,0 per koin atau setara dengan Rp1,37 miliar (asumsi kurs Rp17.590 per dolar AS). Kejatuhan ini memupus seluruh keuntungan yang sempat diraih pada pekan lalu, di mana mata uang kripto utama tersebut sempat terbang tinggi bertengger di atas level psikologis USD82.000.
Laporan dari CoinGlass menunjukkan terjadinya kepanikan massal di pasar derivatif berjangka. Aksi jual ini memicu likuidasi otomatis posisi aset digital senilai USD581 juta atau sekitar Rp8,6 triliun hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Mayoritas kerugian besar tersebut, yakni sekitar USD552 juta, dialami oleh para trader yang bertaruh pada posisi beli menggunakan fasilitas pengungkit (leverage long).
Baca Juga:
Harga Emas Terkini: Antara Gejolak Global dan Kebijakan Ketat The Fed, Investor Cermati Level Kunci
Faktor utama yang menyeret kejatuhan harga Bitcoin pagi ini adalah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) dan Indeks Harga Produsen (PPI) Amerika Serikat yang kompak menunjukkan angka inflasi yang tetap tinggi. Kondisi makroekonomi ini memaksa para pelaku pasar obligasi dan saham global merombak ekspektasi mereka terhadap kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve.
Alih-alih menurunkan suku bunga acuan pada pertengahan tahun, inflasi yang membandel justru membuka potensi kenaikan suku bunga lanjutan. Situasi kian diperparah oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang merangkak naik ke atas USD105 per barel menyusul buntunya pembicaraan damai terkait konflik Amerika Serikat-Iran serta ancaman pembatasan jalur logistik di kawasan Selat Hormuz.
Dampak dari pengetatan likuiditas aset makro global ini turut menyeret performa aset digital alternatif (altcoin) lainnya. Di pasar spot, Ether (ETH) juga mencatatkan kerugian besar dengan total nilai likuidasi mencapai USD151 juta. Para analis menilai, selama volatilitas imbal hasil obligasi AS dan tensi geopolitik Timur Tengah tetap tinggi, pergerakan pasar kripto untuk beberapa hari ke depan diperkirakan masih akan bergerak dinamis cenderung melemah.





