PortalMadura.com – Harga emas global menunjukkan pergerakan fluktuatif pada pertengahan pekan ini, dengan logam mulia berupaya mempertahankan kenaikannya di tengah ketidakpastian geopolitik dan antisipasi kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat. Pada 18 Mei 2026, harga emas naik menjadi 4.583,28 USD per troy ounce, menguat 0,78% dari hari sebelumnya. Namun, analisis pasar terbaru pada 19-20 Mei 2026 menunjukkan harga spot di sekitar 4.484,20 USD per troy ounce atau setara Rp 2.555.009 per gram di pasar Indonesia, mencerminkan sentimen hati-hati investor.
Kenaikan harga emas yang terjadi baru-baru ini terjadi di tengah munculnya harapan meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat sedikit mengurangi kekhawatiran inflasi. Presiden Donald Trump pada Senin lalu sempat menangguhkan serangan, meskipun ia menegaskan kesiapan untuk melancarkan serangan skala penuh jika kesepakatan tidak tercapai, menjaga risiko geopolitik tetap tinggi. Investor terus memantau situasi di Selat Hormuz dan dampaknya terhadap harga minyak, yang secara tidak langsung memengaruhi emas sebagai aset lindung nilai.
Di sisi lain, kebijakan moneter agresif dari Federal Reserve AS menjadi faktor penekan utama bagi harga emas. Inflasi AS yang lebih kuat telah menyebabkan para pelaku pasar mengurangi ekspektasi pemotongan suku bunga tahun ini, bahkan meningkatkan spekulasi adanya potensi kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026. Data FedWatch Tool dari CME Group menunjukkan peluang hampir 40% bank sentral AS akan menaikkan biaya pinjaman sebesar 25 basis poin pada pertemuan Desember. Situasi ini, ditambah dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun yang mendekati level tertinggi sejak 2023, memperkuat nilai Dolar AS dan mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Secara historis, harga emas telah mengalami penurunan sekitar 4,93% selama sebulan terakhir, meskipun masih tercatat 42,24% lebih tinggi dibandingkan setahun yang lalu. Emas pernah mencapai titik tertinggi sepanjang masa di 5.608,35 USD pada Januari 2026. Menurut model makro global Trading Economics dan ekspektasi analis, harga emas diproyeksikan akan diperdagangkan pada 4.596,55 USD per troy ounce pada akhir kuartal ini, dan berpotensi mencapai 4.949,92 USD dalam 12 bulan mendatang.
Dari perspektif teknis, meskipun ada rebound baru-baru ini, bias jangka pendek untuk emas tetap bearish karena Exponential Moving Average (EMA) 20-Hari menunjukkan kecenderungan menurun. Namun, tekanan jual mulai melambat, memungkinkan harga merebut kembali level psikologis 4.500 USD per troy ounce. Para analis menyarankan untuk menunggu konfirmasi pergerakan di bawah 4.500 USD atau penembusan berkelanjutan di atas resistensi awal di sekitar 4.625,58 USD untuk meredakan bias turun. Investor kini menantikan rilis risalah FOMC dan data PMI AS flash untuk petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter.
Untuk pasar domestik, harga emas Antam pada 19 Mei 2026 tercatat Rp 2.789.000 per gram untuk harga jual dan Rp 2.594.000 per gram untuk harga beli kembali. Angka ini juga menunjukkan pergerakan yang dinamis seiring dengan sentimen pasar global dan kurs rupiah terhadap dolar AS.




