PortalMadura.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menunjukkan pelemahan signifikan, bahkan menembus kisaran Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan Selasa (19/5/2026), setelah ambles parah pada Senin (18/5/2026).
Fluktuasi ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal seperti kenaikan harga minyak global dan lonjakan imbal hasil obligasi AS, serta faktor domestik termasuk tingginya permintaan dolar untuk impor.
Pada Senin, 18 Mei 2026, rupiah terperosok tajam. Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.02 WIB, nilai tukar rupiah ambles 51 poin atau 0,29% ke level Rp17.648 per dolar AS.
Tren pelemahan ini berlanjut pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Data e-rate BCA menunjukkan kurs jual dolar AS mencapai Rp17.695,00 per dolar AS pada pukul 01:30 WIB, sementara Trading Economics melaporkan USDIDR berada di angka 17.702,5.
Beberapa sentimen eksternal menjadi pendorong utama merosotnya kinerja rupiah. Kenaikan harga minyak dunia dan lonjakan imbal hasil obligasi AS memberikan tekanan kuat di pasar keuangan global, mendorong investor mencari aset yang lebih aman seperti dolar AS.
Selain itu, ketegangan geopolitik yang belum mereda, seperti antara AS dan Iran di Selat Hormuz, turut memperkuat dolar AS di hadapan mata uang Asia lainnya. Kebijakan moneter Bank Sentral AS (Federal Reserve) yang cenderung menaikkan suku bunga juga secara langsung menguatkan dolar AS, menambah beban bagi mata uang negara berkembang seperti rupiah.
Pelemahan ini terutama menimpa negara pengimpor minyak yang menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS.
Dari sisi domestik, pelemahan rupiah juga tidak dapat dilepaskan dari aksi jual yang dilakukan investor asing, baik di pasar saham maupun Surat Utang Negara (SUN), terutama menjelang pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Analis Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menjelaskan bahwa tingginya permintaan valuta asing domestik untuk kebutuhan impor, khususnya impor minyak mentah, serta faktor musiman untuk transfer dividen kepada investor asing, turut berkontribusi pada tingginya permintaan dolar AS di pasar lokal.
Tingkat inflasi yang relatif tinggi di dalam negeri juga memengaruhi kepercayaan pada mata uang lokal, karena harga barang domestik yang naik mendorong peningkatan impor.
Dampak dari pelemahan rupiah ini terasa di berbagai sektor perekonomian. Impor menjadi lebih mahal, yang berpotensi meningkatkan biaya bahan baku industri dan harga barang konsumsi.
Kondisi ini dapat memicu kenaikan inflasi dan membebani daya beli masyarakat.
Selain itu, perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam denominasi dolar AS akan menghadapi beban pembayaran yang lebih berat karena harus menukar lebih banyak rupiah untuk mendapatkan dolar yang sama.
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) telah mendesak Bank Indonesia (BI) untuk segera mengambil tindakan stabilisasi. Menanggapi situasi ini, BI sebelumnya telah menyiapkan tujuh langkah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah.
Para analis memperingatkan bahwa jika faktor-faktor pemicu pelemahan ini tidak segera diantisipasi dan diatasi secara efektif, rupiah berisiko menembus level Rp17.800 per dolar AS.





