PortalMadura.com – Harga emas perhiasan di Indonesia menunjukkan pergerakan yang dinamis pada Selasa, 23 Juni 2026, seiring dengan gejolak pasar komoditas global.
Variasi harga terlihat di berbagai toko emas, seperti Raja Emas Indonesia dan Semar Nusantara, mencerminkan kompleksitas faktor penentu harga.
Emas sebagai aset investasi dan perhiasan, terus menarik perhatian masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Secara global, harga emas spot mencapai US$4.187,60 per troy ounce pada 22 Juni 2026, mengalami kenaikan tipis 0,86% dari hari sebelumnya.
Namun, dalam sebulan terakhir, harga emas telah menurun 8,35%, meskipun masih tercatat 24,32% lebih tinggi dibandingkan setahun yang lalu.
Pelemahan harga emas ini sebagian besar dipicu oleh ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) yang menekan daya tarik emas.
Kekhawatiran inflasi juga menjadi faktor yang membuat harga emas cenderung tertekan saat negosiasi damai AS-Iran memudar.
Pada tanggal 22 Juni 2026, harga emas di pasar spot bertengger di level US$4.202,99 per troi ons, melemah 8,00% dalam sebulan terakhir.
Ini menunjukkan penurunan 2,98% secara tahun berjalan (YtD), menurut laporan dari Trading Economic.
Sementara itu, harga emas batangan Antam juga mengalami koreksi, dengan harga Rp2.668.000 per gram, turun dibandingkan bulan lalu yang berada di Rp2.773.000 per gram.
Kondisi ini menegaskan bahwa harga emas, termasuk perhiasan, sangat sensitif terhadap perubahan sentimen ekonomi dan geopolitik global.
Faktor Penentu Harga Emas Perhiasan Lokal
Harga perhiasan emas ditentukan oleh beberapa komponen utama, antara lain berat gram emas dan kadar kemurniannya.
Kadar emas dalam perhiasan umumnya tidak mencapai 24 karat karena sifatnya yang lunak dan berisiko mudah berubah bentuk jika dijadikan perhiasan.
Oleh karena itu, emas perhiasan sering dicampur dengan logam lain seperti tembaga atau perak untuk meningkatkan kekuatan dan ketahanannya.
Biaya pembuatan atau ongkos desain juga menjadi faktor signifikan yang membedakan harga perhiasan dengan emas batangan murni.
Saat menjual kembali, biaya pembuatan ini biasanya tidak dihitung, menyebabkan selisih harga jual dan beli (spread) yang lebih lebar untuk perhiasan.
Kadar emas yang bervariasi mempengaruhi harga jual beli per gramnya; misalnya, emas 19 karat dibeli seharga Rp1.650.000 per gram, 18 karat Rp1.565.000 per gram, dan 17 karat Rp1.478.000 per gram pada 23 Juni 2026.
Ini berbeda dengan emas batangan yang memiliki kadar kemurnian hingga 99,99% atau 24 karat, menjadikannya pilihan investasi jangka panjang yang lebih ideal.
Dampak Kebijakan Moneter Global dan Geopolitik
Kebijakan bank sentral, khususnya Federal Reserve AS, memiliki dampak besar pada harga emas.
Kenaikan suku bunga cenderung mengurangi daya tarik emas, karena aset berbunga seperti obligasi menjadi lebih menarik.
Sebaliknya, suku bunga yang lebih rendah membuat emas lebih menarik sebagai investasi karena biaya peluang memegang emas berkurang.
Pada tahun 2022, kenaikan suku bunga The Fed sebesar 425 basis poin menyebabkan harga emas turun 6%.
Namun, saat The Fed memotong suku bunga menjadi 0% pada tahun 2020, emas melonjak 25% dalam setahun.
Program pelonggaran kuantitatif (QE) yang dilakukan bank sentral juga seringkali menyebabkan penurunan nilai mata uang dan peningkatan harga emas.
Emas dipandang sebagai lindung nilai terhadap devaluasi mata uang, yang terlihat selama krisis ekonomi global 2023-2024.
Selain kebijakan moneter, ketidakpastian geopolitik menjadi pendorong utama permintaan emas sebagai aset ‘safe haven’.
Konflik seperti perang Israel-Hamas dan perang dagang antara AS dan Tiongkok mendorong investor beralih ke emas.
Ketidakpastian politik dan ekonomi global, termasuk berbagai pemilu di 60 negara pada tahun 2024, juga meningkatkan permintaan emas.
Bahkan, Bank Dunia memperkirakan prospek emas akan naik 6% pada tahun 2024 akibat konflik berkelanjutan.
Permintaan emas dari bank-bank sentral juga terus meningkat, terutama didorong oleh upaya diversifikasi cadangan dari mata uang fiat.
Fenomena dedolarisasi oleh negara-negara BRICS (Brazil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan) juga berkontribusi pada peningkatan permintaan emas.
Impor emas China melonjak tajam pada Mei 2026, mencapai level tertinggi dalam lebih dari dua tahun, menunjukkan permintaan fisik yang kuat dari pasar Asia.
Inflasi dan Nilai Dolar AS: Dua Sisi Mata Uang yang Berbeda
Inflasi adalah indikator penting yang mempengaruhi harga emas, di mana emas dianggap sebagai pelindung nilai (hedge) terhadap penurunan daya beli mata uang.
Saat inflasi meningkat, banyak investor beralih ke emas karena nilainya cenderung lebih stabil dibandingkan mata uang fiat.
Sebaliknya, nilai Dolar AS seringkali berbanding terbalik dengan harga emas.
Dolar yang kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga mengurangi permintaan dan menekan harga.
Sebaliknya, Dolar yang lemah membuat emas lebih murah, mendorong permintaan dan kenaikan harga.
Ekspektasi inflasi global yang mulai melandai juga mendorong investor melakukan aksi ambil untung (profit taking) pada emas.
Meskipun demikian, pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS dapat menahan penurunan harga emas Antam di pasar domestik.
Prospek Harga Emas Menjelang Akhir Tahun 2026 dan 2025
Para analis dan lembaga keuangan global memprediksi prospek yang cerah untuk harga emas menjelang akhir tahun 2024 dan 2025.
Beberapa lembaga dunia telah merevisi naik prediksi harga emas untuk tahun 2024, dengan kisaran rata-rata US$2.000 – US$2.399 per troy ounce.
Sentimen utama yang mendukung kenaikan ini termasuk pemangkasan suku bunga The Fed, pembelian besar-besaran oleh bank-bank sentral, serta tensi geopolitik.
WGC juga memproyeksikan bahwa penurunan suku bunga sebesar 75-100 poin dapat menghasilkan kenaikan 4% pada harga emas.
Prediksi untuk tahun 2025 bahkan lebih bullish, dengan perkiraan harga mencapai US$2.300 – US$3.000 per troy ounce, didorong oleh tingginya permintaan emas fisik.
Analis juga meyakini bahwa harga emas masih berpeluang menguat 5% hingga 10% pada akhir tahun 2024.
Hal ini disebabkan oleh tingginya utang-utang negara pasca pemulihan ekonomi akibat pandemi COVID-19.
Direktur BCA Syariah, Pranata, mengungkapkan pertumbuhan pembiayaan emas iB sebesar 210,8% mencapai Rp127,3 miliar, menunjukkan minat investasi emas yang meningkat.
Nanang Wahyudin, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, merekomendasikan investor untuk menahan emas atau melakukan pembelian bertahap saat terjadi koreksi harga.
Emas Perhiasan vs. Emas Batangan: Pilihan Investasi yang Berbeda
Meskipun emas perhiasan memiliki daya tarik estetika, fungsinya sebagai investasi jangka panjang berbeda dengan emas batangan atau logam mulia.
Emas batangan memiliki kadar kemurnian yang sangat tinggi, biasanya 24 karat atau 99,99%, menjadikannya pilihan terbaik untuk investasi murni.
Perhiasan emas umumnya memiliki kadar yang lebih rendah, berkisar antara 70-91% (17-22 karat), karena campuran dengan logam lain untuk kekuatan dan bentuk.
Biaya tambahan seperti ongkos pembuatan, desain, dan merek pada perhiasan tidak akan dihitung saat dijual kembali.
Hal ini menyebabkan selisih antara harga beli dan jual (spread) yang lebih besar pada emas perhiasan dibandingkan emas batangan.
Emas batangan juga dilengkapi dengan sertifikat resmi yang menjamin keaslian dan memudahkan penjualan kembali di pasar nasional maupun internasional.
Sertifikat ini memuat informasi penting mengenai berat, kadar kemurnian, dan nomor seri emas, meningkatkan kepercayaan pasar.
Likuiditas emas batangan juga lebih tinggi, artinya lebih mudah dijual kembali dengan harga yang mendekati harga pasar.
Emas perhiasan lebih cocok bagi mereka yang mengutamakan estetika dan fungsionalitas, atau untuk digunakan pada acara khusus, sambil tetap menyimpan nilai.
Bagi investor konservatif dengan orientasi jangka panjang (tiga hingga lima tahun), emas fisik seperti Antam tetap merupakan pilihan untuk perlindungan nilai kekayaan.
Namun, untuk investasi jangka pendek, emas fisik kurang ideal karena spread yang lebar.
Dengan memahami perbedaan ini, investor dapat membuat keputusan yang lebih tepat sesuai dengan tujuan keuangan mereka.





