PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah menunjukkan sedikit penguatan pada Kamis, 25 Juni 2026, setelah periode tekanan panjang, mencapai Rp 17.942 per Dolar AS berdasarkan JISDOR Bank Indonesia.
Pergerakan ini memberikan jeda dari tren pelemahan yang didorong oleh sentimen global dan kebutuhan domestik.
Pergerakan Rupiah Terkini: Upaya Bertahan di Tengah Tekanan Global
Pada perdagangan Kamis pagi, nilai tukar rupiah di pasar spot menguat tipis Rp 9 atau 0,05% menjadi Rp 17.943 per Dolar AS.
Sementara itu, kurs referensi JISDOR dari Bank Indonesia mencatat angka Rp 17.942 per Dolar AS pada hari yang sama.
Berbagai bank komersial seperti BCA, Bank Mandiri, dan BNI juga menunjukkan kurs jual beli yang bervariasi di sekitar level tersebut.
Rupiah telah menghadapi tekanan berat selama tujuh hari berturut-turut sebelum penguatan minimal ini terjadi.
Sepanjang bulan terakhir hingga 24 Juni 2026, mata uang Garuda melemah sebesar 1,48% terhadap Dolar AS.
Dalam setahun terakhir, depresiasi rupiah bahkan mencapai 10,42%, dengan nilai tertinggi Rp 18.234 per Dolar AS pada Juni 2026.
Kondisi ini mencerminkan dinamika pasar valuta asing yang sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Faktor Penekan Rupiah: Global dan Domestik
Penguatan Dolar AS dan Kebijakan The Fed
Penguatan Dolar AS menjadi salah satu pemicu utama tekanan terhadap rupiah.
Federal Reserve (The Fed) menunjukkan sikap hawkish, meningkatkan prospek kenaikan suku bunga di Amerika Serikat.
Prospek ini muncul karena inflasi AS yang masih tinggi, jauh di atas target 2% The Fed.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang menyentuh 4,47% turut memperkuat Dolar AS secara luas.
Kondisi ini memicu aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dinamika Geopolitik dan Harga Komoditas
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan Eropa Timur juga menambah sentimen negatif di pasar global.
Konflik Israel-Lebanon dan perang Rusia-Ukraina terus memunculkan kecemasan yang berdampak pada stabilitas ekonomi dunia.
Kenaikan harga minyak dunia, meskipun sempat mereda, tetap menjadi faktor tekanan terhadap rupiah karena meningkatkan biaya impor energi.
Pernyataan yang saling bertentangan mengenai kesepakatan nuklir AS-Iran juga menciptakan ketidakpastian di pasar.
Permintaan Valas Musiman dan Fundamental Domestik
Secara domestik, permintaan Dolar AS cenderung meningkat secara musiman pada periode April hingga Juni.
Kebutuhan ini didorong oleh pembayaran repatriasi dividen, pelunasan utang luar negeri, dan biaya haji.
Laju inflasi yang tidak terkontrol dapat menggerus daya beli masyarakat dan melemahkan rupiah secara signifikan.
Sebaliknya, inflasi yang stabil justru akan memperkuat nilai tukar rupiah karena menjaga daya saing produk domestik di pasar internasional.
Neraca perdagangan yang surplus cenderung mendukung penguatan rupiah karena meningkatkan pasokan valuta asing di dalam negeri.
Pemerintah juga terus berupaya memperkuat disiplin fiskal dan efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) untuk menjaga ketersediaan valas.
Penundaan penilaian aksesibilitas pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) hingga November 2026 justru direspons positif oleh pasar.
Strategi Bank Indonesia Menjaga Stabilitas
Bank Indonesia (BI) terus menunjukkan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai rupiah di tengah gejolak global.
BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75% pada 18 Juni 2026, sebagai langkah antisipatif.
Kebijakan ini bertujuan untuk memitigasi kenaikan inflasi yang diimpor dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.
Intervensi aktif dilakukan BI di pasar valuta asing, baik di pasar spot maupun pasar forward, guna menyeimbangkan penawaran dan permintaan.
Cadangan devisa yang memadai memberikan dukungan kuat untuk operasi stabilisasi nilai tukar rupiah ini.
BI juga memperkuat pengelolaan likuiditas rupiah melalui instrumen seperti Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dan Reverse Repo SBN.
Langkah-langkah ini diarahkan untuk mendukung pendalaman pasar keuangan dan mengurangi risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Kebijakan insentif untuk eksportir yang menyimpan Devisa Hasil Ekspor (DHE) di perbankan domestik juga terus didorong untuk meningkatkan pasokan valas.
Sinergi kebijakan moneter dan fiskal diharapkan dapat memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia.
Proyeksi dan Outlook Nilai Tukar Rupiah
Meskipun ada penguatan tipis hari ini, sejumlah analis memperkirakan tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah berpotensi menembus level Rp 18.000 per Dolar AS pada pekan depan.
Hal ini terutama disebabkan oleh penguatan indeks Dolar AS yang diperkirakan mencapai 101,7.
Trading Economics memproyeksikan rupiah akan diperdagangkan pada 17817,08 pada akhir kuartal ini dan 17541,58 dalam 12 bulan ke depan.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, memperkirakan rupiah pada semester II-2026 akan bergerak di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.900 per Dolar AS.
Dalam skenario yang lebih optimis, rupiah berpotensi menguat hingga Rp 17.000-Rp 17.300 pada akhir tahun jika faktor eksternal membaik, seperti gencatan senjata AS-Iran dan penurunan harga minyak.
Namun, beberapa prediksi sebelumnya, seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyarankan menjual Dolar AS karena proyeksi penguatan rupiah ke Rp 15.000 pada Juni 2026, belum terealisasi dan bertentangan dengan tren pasar saat ini.
Stabilitas rupiah ke depan sangat bergantung pada kombinasi kebijakan moneter yang prudent, disiplin fiskal, dan perkembangan ekonomi global yang kondusif.
Investor dan pelaku pasar dihimbau untuk terus memantau indikator-indikator ekonomi dan geopolitik guna mengambil keputusan yang tepat.






