PortalMadura.com – Kabar terkini dari pasar kelapa sawit menunjukkan dinamika yang menarik.
Per 2 Juli 2026, harga minyak sawit mentah (CPO) global cenderung stabil dengan sedikit fluktuasi.
Sementara itu, harga Tandan Buah Segar (TBS) di tingkat petani di berbagai wilayah Indonesia memperlihatkan pergerakan yang bervariasi, dipengaruhi oleh kondisi lokal dan kebijakan terbaru pemerintah.
Mandat biodiesel B50 Indonesia yang baru berlaku 1 Juli 2026 menjadi salah satu pendorong utama ekspektasi konsumsi domestik yang lebih kuat.
Pergerakan Harga CPO Global dan Domestik
Pada 1 Juli 2026, harga minyak sawit di pasar global terpantau naik tipis menjadi 4.557 Ringgit Malaysia (MYR) per metrik ton, meningkat 0,24% dari hari sebelumnya.
Namun, dalam sebulan terakhir, harga minyak sawit global mengalami penurunan sekitar 2,57%.
Meski demikian, angka ini masih 12,16% lebih tinggi dibandingkan setahun yang lalu.
Di dalam negeri, pada 29 Juni 2026, harga spot CPO di Medan tercatat sebesar Rp 24.537 per kilogram.
Sementara itu, harga berjangka CPO untuk kontrak Juli 2026 di Jakarta Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) berada di angka Rp 15.825 per kilogram.
Bursa Malaysia Derivatives Exchange juga melaporkan kontrak acuan CPO untuk pengiriman September sedikit turun 0,22% menjadi 4.547 Ringgit pada 2 Juli 2026.
Harga TBS Sawit di Tingkat Petani Indonesia
Petani sawit di beberapa provinsi menunjukkan pergerakan harga TBS yang berbeda-beda di awal Juli 2026.
Harga TBS Riau Melonjak
Dinas Perkebunan Provinsi Riau melaporkan kenaikan harga TBS untuk periode 1-7 Juli 2026.
Harga TBS untuk petani swadaya naik 1,99% atau Rp 73,77 per kilogram, mencapai Rp 3.781,37 per kilogram.
Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok umur 9 tahun.
Untuk petani plasma, harga TBS juga meningkat sebesar Rp 55,60 per kilogram, mencapai Rp 3.831,76 per kilogram.
Kenaikan ini didukung oleh peningkatan harga CPO di Riau menjadi Rp 15.541,13 per kilogram dan harga inti sawit menjadi Rp 13.319,00 per kilogram.
Harga TBS Sumatera Utara Juga Menguat
Di Sumatera Utara, harga TBS untuk perusahaan bermitra pada periode 2-7 Juli 2026 ditetapkan sebesar Rp 3.881 per kilogram.
Harga ini menunjukkan kenaikan dibandingkan periode sebelumnya.
Harga CPO lokal dan ekspor di Sumut pada periode yang sama mencapai Rp 15.427, sementara harga kernel lokal adalah Rp 13.334.
Berdasarkan usia tanaman, TBS usia 10-20 tahun mencapai Rp 3.881 per kg, bahkan TBS usia 21 tahun sedikit lebih tinggi di Rp 3.885 per kg.
Kalimantan Barat dan Tren Lainnya
Untuk Provinsi Kalimantan Barat, penetapan harga TBS periode 16-22 Juni 2026 menggunakan acuan tender CPO di KPBN FOB Belawan/Dumai yang berada di kisaran Rp 15.175 hingga Rp 15.450 per kilogram pada awal Juni 2026.
Meskipun belum ada data ‘hari ini’ untuk semua provinsi, tren dari daerah-daerah utama menunjukkan adanya dinamika pasar yang terus bergerak.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Harga Sawit
Pergerakan harga sawit, baik CPO maupun TBS, dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks:
- Tren Harga Minyak Nabati Global: Harga sawit sangat sensitif terhadap harga minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari. Pergerakan di bursa komoditas global seringkali menjadi penentu arah.
- Kebijakan Biodiesel: Penerapan mandat biodiesel B35 di Indonesia (dan proyeksi B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026) akan meningkatkan konsumsi domestik CPO. Ini berpotensi membatasi pasokan CPO untuk ekspor dan mendukung harga di pasar domestik.
- Kondisi Produksi dan Pasokan: Fenomena El Nino pada tahun 2023 diperkirakan akan memengaruhi produksi sawit pada tahun 2024, berpotensi mengurangi pasokan dan mendorong kenaikan harga. Namun, peningkatan produksi dan ekspor yang lemah juga dapat menekan harga.
- Permintaan Pasar Global: Konsumsi minyak sawit yang tinggi di pasar global dapat mendorong kenaikan harga TBS dan CPO. Namun, pelemahan ekonomi di negara-negara importir utama dapat menurunkan permintaan.
- Stok Domestik dan Logistik: Tingginya stok domestik dan kendala logistik di pelabuhan ekspor juga dapat menahan kenaikan harga.
- Laporan MPOB: Pelaku pasar juga sangat menantikan laporan bulanan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) mengenai kondisi pasokan dan permintaan sawit Malaysia, yang dijadwalkan rilis 10 Juli.
Prospek Harga Sawit ke Depan
Melihat dinamika yang ada, beberapa lembaga dan analis memberikan proyeksi harga sawit ke depan.
Trading Economics memprediksi minyak sawit akan diperdagangkan pada 4720,11 MYR/MT pada akhir kuartal ini dan 4877,25 MYR/MT dalam 12 bulan ke depan.
Bank Dunia memproyeksikan rata-rata harga minyak sawit olahan (RBD) bisa mencapai US$905 per ton pada tahun 2024, naik 2,1% dari tahun 2023.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) juga optimistis bahwa prospek industri CPO pada tahun 2024 akan lebih baik, dengan potensi harga yang bullish karena dampak El Nino terhadap produksi tahun depan.
Defisit pasokan minyak sawit Indonesia sebesar 0,24 juta ton pada tahun 2024 diperkirakan karena meningkatnya konsumsi domestik untuk biodiesel dan pangan.
Namun, volatilitas harga akan tetap ada, sehingga petani dan pelaku industri perlu terus memantau perkembangan pasar global dan kebijakan domestik.







