Rupiah Tertekan: Dolar AS Kembali Sentuh Rp18.000, Defisit Dagang Jadi Sorotan Utama

Avatar of Kenzo Chandra
Rupiah Tertekan: Dolar AS Kembali Sentuh Rp18.000, Defisit Dagang Jadi Sorotan Utama
Rupiah Tertekan: Dolar AS Kembali Sentuh Rp18.000, Defisit Dagang Jadi Sorotan Utama

PortalMadura.com – Nilai tukar Rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026.

Mata uang Garuda harus berjuang keras di tengah tekanan eksternal dan domestik, bahkan sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Penutupan perdagangan mencatat rupiah berada di zona merah, melanjutkan tren yang mengkhawatirkan para pelaku pasar.

Pada pembukaan perdagangan, rupiah berada di level Rp17.992 per dolar AS menurut data Bloomberg.

Angka ini menunjukkan pelemahan 29 poin atau setara 0,16 persen dibandingkan penutupan perdagangan Jumat sebelumnya yang berada di posisi Rp17.963 per dolar AS.

Sementara itu, data dari Yahoo Finance mencatat rupiah dibuka pada level Rp17.955 per dolar AS.

Sepanjang hari, tekanan terhadap rupiah semakin dalam.

Bahkan, mata uang Garuda sempat menyentuh titik terendah intraday di level Rp18.011 per dolar AS pada pukul 14.13 WIB.

Pelemahan ini berlanjut hingga rupiah kembali menembus level krusial Rp18.000 per dolar AS, sebuah batas psikologis yang terakhir kali terlihat pada awal Juni 2026.

Menjelang penutupan, rupiah sedikit memangkas pelemahan, namun tetap berada di bawah tekanan.

Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,22% ke level Rp17.985 per dolar AS.

Sumber lain seperti Kontan dan Bloomberg mencatat penutupan di level Rp17.995 per dolar AS, menunjukkan depresiasi sebesar 0,18% dari penutupan sebelumnya.

Pelemahan ini menandai awal pekan yang penuh kewaspadaan bagi investor.

Faktor Eksternal yang Membebani Rupiah

Pelemahan rupiah pada 6 Juli 2026 tidak terlepas dari sejumlah sentimen negatif dari kancah global.

Salah satu pendorong utamanya adalah penguatan Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.

Pada pukul 15.00 WIB, indeks dolar AS terpantau menguat 0,17% ke level 101,030.

Para pelaku pasar juga masih mencermati perkembangan menjelang rapat The Federal Reserve (The Fed).

Meskipun data ketenagakerjaan AS, khususnya non-farm payrolls, pada bulan Juni tercatat lebih rendah dari ekspektasi pasar, yang seharusnya bisa menekan dolar AS, namun ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga tinggi The Fed masih menahan pelemahan dolar lebih lanjut.

Risalah pertemuan The Fed yang akan dirilis pada Rabu (8/7/2026) akan menjadi perhatian utama untuk melihat arah kebijakan moneter AS ke depan.

Selain itu, ketegangan geopolitik turut memberikan kontribusi pada volatilitas pasar global.

Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran terkait pengelolaan Selat Hormuz masih menjadi sorotan, dengan adanya laporan yang saling bertentangan.

Serangan rudal dan drone Rusia ke Kyiv menjelang pertemuan puncak NATO juga meningkatkan kekhawatiran dan memicu sentimen negatif di pasar global.

Ketidakpastian arah kebijakan The Fed dan perkembangan geopolitik ini secara keseluruhan menjaga dolar AS tetap perkasa.

Tekanan Domestik dari Defisit Neraca Perdagangan

Di ranah domestik, kabar defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 menjadi pukulan telak bagi rupiah.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan mengalami defisit sebesar US$1,61 miliar, sekaligus mengakhiri tren surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan beruntun sejak Mei 2020.

Defisit ini disebabkan oleh penurunan ekspor yang tidak terduga, sementara impor tetap tumbuh dua digit.

Situasi ini menambah kekhawatiran pasar, terutama setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings menyoroti meningkatnya kerentanan ekonomi Indonesia.

Pelemahan rupiah, penurunan cadangan devisa, dan arus modal keluar menjadi perhatian utama dalam laporan tersebut.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi juga menyebutkan bahwa data laporan OECD Revenue Statistics in Asia and the Pacific 2026, yang menunjukkan pertumbuhan penerimaan pajak penghasilan di Indonesia yang minim, turut mempengaruhi pergerakan rupiah.

Bank Indonesia sendiri telah melakukan intervensi di pasar untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik di tengah tekanan ini.

Namun, kombinasi faktor-faktor ini menciptakan umpan balik yang mengarah pada pelemahan rupiah.

Kinerja Mata Uang Lain dan IHSG

Pelemahan rupiah tidak hanya terjadi terhadap dolar AS.

Mata uang Garuda juga tertekan terhadap dolar Singapura, di mana pada pukul 14.00 WIB tercatat melemah 0,17% ke level Rp13.911 per dolar Singapura.

Posisi ini mendekati kembali level psikologis Rp14.000 per dolar Singapura, yang sebelumnya sempat ditembus pada awal Juni 2026.

Di sisi lain, meskipun rupiah melemah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan penguatan di awal pekan.

Pada pembukaan perdagangan Senin, IHSG dibuka menguat ke level 5.893,281, naik 0,62% atau 35,843 poin.

Penguatan ini didukung oleh meredanya ketegangan geopolitik di Asia Barat, serta penguatan bursa saham di kawasan Asia dan global pada hari Jumat sebelumnya.

Proyeksi dan Pandangan ke Depan

Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, pada Mei 2026 sempat menyatakan keyakinannya bahwa rupiah akan kembali menguat pada periode Juli hingga Agustus 2026.

Ia memproyeksikan rata-rata nilai tukar rupiah tahun 2026 berada di level Rp16.500 per dolar AS, dengan kisaran Rp16.200-Rp16.800.

Namun, kinerja rupiah pada 6 Juli 2026 menunjukkan tantangan yang berbeda.

Perry menjelaskan pelemahan sebelumnya bersifat musiman akibat tingginya kebutuhan devisa untuk pembayaran dividen dan utang luar negeri.

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah, dengan rentang pergerakan Rp17.910 hingga Rp17.970 per dolar AS.

Ekonom BCA, Jennifer Calysta Farrell dan Victor George, memperkirakan bahwa kombinasi faktor-faktor saat ini akan mengarah pada pelemahan rupiah yang mungkin diatasi dengan tambahan kenaikan suku bunga kebijakan BI sebesar 50 bps pada tahun ini.

Keputusan Menteri Keuangan Republik Indonesia Nomor 30/MK/EF.2/2026 telah menetapkan nilai kurs sebagai dasar pelunasan bea masuk, pajak, dan bea keluar untuk periode 1 Juli hingga 7 Juli 2026, dengan nilai Rp17.910 per dolar AS.

Ini menunjukkan bahwa pemerintah juga memantau ketat pergerakan nilai tukar mata uang.

Ke depannya, stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global, terutama dari The Fed dan dinamika geopolitik, serta upaya pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga fundamental ekonomi domestik.

Para pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada dan mencermati setiap perkembangan terbaru.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses