Emas di Persimpangan: Prediksi Harga 10 Juli 2026 di Tengah Gejolak Global dan Sinyal The Fed

Avatar of PortalMadura.com

portalmadura.com – Pada Kamis, 10 Juli 2026, pasar emas global diperkirakan akan menghadapi pergerakan dinamis, melanjutkan tren yang dipengaruhi oleh berbagai sentimen makroekonomi dan geopolitik.

Setelah sempat menguat di awal Juli, harga emas mulai menunjukkan koreksi di tengah kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga, namun ketegangan geopolitik masih menjadi penopang utama daya tarik logam mulia sebagai aset aman.

Pasar saat ini berada dalam kondisi ‘wait and see’, menimbang antara sinyal hawkish dari bank sentral dan ketidakpastian global yang tak kunjung mereda.

Kemarin, pada 9 Juli 2026, harga emas di pasar spot terpantau naik 0,8% menjadi US$ 4.107,69 per ons troi pada pukul 15.00 WIB, setelah sempat menyentuh level terendah satu minggu.

Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 juga naik 0,9% menjadi US$ 4.117,3 per ons troi.

Di pasar domestik, harga emas Antam untuk 1 gram pada 9 Juli 2026 tercatat sekitar Rp 2.641.000, dengan harga buyback di angka Rp 2.393.000 per gram.

Faktor-faktor Penentu Harga Emas Hari Ini

Pergerakan harga emas pada 10 Juli 2026 akan sangat bergantung pada beberapa faktor kunci.

Pertama, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran masih menjadi sorotan utama.

Militer AS melancarkan serangan baru terhadap Iran pada 8 Juli 2026 untuk menjaga Selat Hormuz tetap terbuka.

Eskalasi ini, yang juga memicu serangan Iran terhadap Kuwait dan Bahrain, menggagalkan upaya perdamaian dan mendorong kekhawatiran inflasi serta suku bunga yang lebih tinggi dalam jangka panjang.

Namun, di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pejabat Iran telah menghubunginya untuk mencari kesepakatan damai.

Potensi meredanya konflik ini dapat menyebabkan pelemahan dolar AS, yang pada gilirannya membuat emas batangan lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya dan berpotensi mendukung kenaikan harga emas.

Pengaruh Kebijakan Moneter dan Suku Bunga

Faktor kedua yang sangat memengaruhi adalah kebijakan moneter bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed) AS.

Pasar saat ini memproyeksikan peluang sekitar 65% kenaikan suku bunga AS pada bulan September.

Beberapa laporan bahkan menyebut peluang 58% untuk kenaikan suku bunga The Fed pada bulan September.

Suku bunga yang tinggi cenderung membebani aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, karena meningkatkan biaya peluang untuk memilikinya.

Kekhawatiran terhadap inflasi global yang persisten juga turut memengaruhi keputusan The Fed.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan inflasi global akan naik menjadi 4,7% pada tahun 2026.

Secara historis, emas berfungsi sebagai lindung nilai terhadap inflasi, mendorong permintaan saat inflasi meningkat.

Namun, kekhawatiran inflasi yang tinggi juga dapat mendorong bank sentral untuk menaikkan suku bunga, menciptakan dilema bagi investor emas.

Prediksi Jangka Pendek dan Menengah

Untuk pergerakan harga emas pada 10 Juli 2026, analisis teknikal memberikan gambaran yang beragam.

Beberapa analis menunjukkan bahwa jika harga emas tetap di bawah level US$ 4023, ada potensi penurunan lebih lanjut menuju US$ 4000, bahkan US$ 3959.

Sebaliknya, jika harga berhasil bertahan di atas US$ 4066, potensi kenaikan bisa terjadi menuju US$ 4082, US$ 4099, hingga US$ 4138.

Secara umum, World Gold Council (WGC) memprediksi bahwa jika kondisi makroekonomi global tidak berubah secara signifikan, harga emas kemungkinan akan bergerak dalam kisaran plus-minus 5% di sekitar US$ 4.100 per ons selama paruh kedua tahun 2026.

Trading Economics juga memperkirakan emas akan diperdagangkan pada US$ 4211,06 per troy ons pada akhir kuartal ini, dan US$ 4505,54 dalam 12 bulan ke depan.

Prospek Jangka Panjang 2026: Bullish dengan Kewaspadaan

Melihat lebih jauh ke depan untuk sepanjang tahun 2026, banyak lembaga keuangan global masih optimistis terhadap prospek emas.

Deutsche Bank misalnya, memperkirakan harga emas bisa mencapai US$ 6.000 per troy ons, bahkan merevisi targetnya ke US$ 4.450 per troy ons karena arus investasi yang solid dan permintaan bank sentral.

Goldman Sachs menargetkan harga emas global US$ 3.300 per troy oz pada akhir 2025 dengan potensi kelanjutan tren naik ke 2026, dan bahkan memproyeksikan US$ 5.400 per troy ons pada akhir 2026.

JP Morgan juga memberikan prediksi yang sangat bullish, melihat potensi harga emas menembus US$ 6.300 per ons pada akhir 2026.

Namun, ada pula pandangan yang lebih hati-hati, seperti Bank of America yang mengurangi perkiraan rata-rata emas tahun 2026 menjadi US$ 4.360 per ons troi, dengan alasan pernyataan hawkish dari The Fed.

IMF memproyeksikan perlambatan ekonomi global menjadi 3% pada tahun 2026, turun dari 3,5% pada 2025, sebagian besar disebabkan oleh gangguan akibat konflik Iran dan lonjakan harga energi.

Kondisi perlambatan ekonomi ini sering kali mendorong investor untuk mencari aset aman seperti emas.

Namun, investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) juga dipercaya dapat membantu menahan pelemahan ekonomi agar tidak semakin dalam.

Secara keseluruhan, meskipun ada beberapa sinyal koreksi jangka pendek akibat ekspektasi kenaikan suku bunga, prospek emas untuk tahun 2026 secara umum tetap positif, didorong oleh ketidakpastian geopolitik, kekhawatiran inflasi, dan permintaan yang kuat dari bank sentral serta investor institusional.

Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter, serta mempertimbangkan strategi diversifikasi untuk mengelola risiko.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses