portalmadura.com – Jakarta, 10 Juli 2026 – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan penguatan yang cukup signifikan pada penutupan perdagangan hari ini, Jumat (10/7/2026).
Setelah sempat bergerak fluktuatif di awal sesi, mata uang Garuda berhasil menembus level positif, memberikan sedikit angin segar bagi pasar domestik di tengah sentimen global yang penuh tantangan.
Pada penutupan perdagangan Jumat sore ini, nilai tukar rupiah di pasar spot tercatat menguat 0,35% menjadi Rp18.065 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp18.128 per dolar AS.
Pergerakan positif ini juga tercermin pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, yang berada di level Rp18.069 per dolar AS, menguat dari Rp18.090 per dolar AS pada hari sebelumnya.
Sejumlah data menunjukkan bahwa rupiah sebenarnya sudah dibuka menguat di pagi hari.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah sempat berada di level Rp18.061 per USD pada pukul 09.28 WIB, naik 67 poin atau setara 0,37% dari penutupan sebelumnya.
Sementara itu, menurut Yahoo Finance, rupiah di waktu yang sama berada di kisaran Rp18.085 per USD.
Di pasar spot, rupiah dibuka di level Rp18.090 per dolar AS.
Dinamika Pergerakan Rupiah Hari Ini
Pergerakan rupiah pada 10 Juli 2026 cukup dinamis.
Setelah dibuka dengan sentimen positif, mata uang domestik sempat diperkirakan akan menghadapi tekanan dan berpotensi melemah.
Namun, kemampuan rupiah untuk mengakhiri perdagangan dengan penguatan menunjukkan resiliensi pasar keuangan Indonesia.
Menguat di Tengah Sentimen Pasar yang Beragam
Penguatan rupiah hari ini tidak lepas dari berbagai faktor yang saling tarik-menarik.
Di satu sisi, pasar global masih diwarnai ketidakpastian, namun di sisi lain ada faktor pendukung dari dalam negeri yang menahan laju pelemahan.
Beberapa bank konvensional juga mencatatkan kurs jual beli dolar AS terhadap rupiah.
Sebagai contoh, di Bank BCA, kurs E-Rate tercatat beli Rp18.005,00 dan jual Rp18.095,00.
Sementara di Bank Mandiri, kurs beli sempat berada di Rp18.070,00 dan kurs jual Rp18.100,00.
Perbedaan kurs ini wajar terjadi antar bank dan waktu pencatatan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah
Analis pasar uang memantau ketat sentimen baik dari eksternal maupun internal yang menjadi penentu arah pergerakan rupiah.
Tekanan Eksternal dan Geopolitik Global
Pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir, termasuk yang sempat menyentuh level Rp18.128 per dolar AS pada penutupan perdagangan sebelumnya, banyak dipengaruhi oleh tekanan eksternal.
Penguatan dolar AS secara global, tingginya imbal hasil (yield) obligasi global, serta ketegangan geopolitik menjadi pemicu utama.
- Konflik AS-Iran: Pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam serangan baru terhadap Iran, menyusul serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz, menciptakan ketidakpastian di pasar global dan memicu penguatan dolar AS.
- Inflasi AS dan Kebijakan The Fed: Peningkatan inflasi di AS sejak pecahnya konflik AS-Iran, yang berada di atas target tahunan The Fed sebesar dua persen, membuat Ketua The Fed Kevin Warsh menegaskan komitmen bank sentral untuk memenuhi target tersebut. Ini berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan penguatan dolar AS.
- Arus Keluar Modal: Ketidakpastian global juga memicu arus keluar modal dari pasar saham Indonesia.
Dinamika Ekonomi Domestik
Di sisi lain, faktor domestik juga turut memberikan sentimen terhadap rupiah.
Beberapa di antaranya adalah:
- Pelaksanaan APBN 2026: Percepatan belanja pemerintah pada semester pertama tahun ini menjadi perhatian pelaku pasar. Meskipun APBN 2026 dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomi, percepatan ini membebani pergerakan rupiah karena mencerminkan percepatan belanja pemerintah di tengah tantangan ekonomi domestik.
- Indeks Keyakinan Konsumen (IKK): Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan sentimen masyarakat kembali turun untuk bulan kedua berturut-turut pada Juni 2026, mencapai level terendah sejak September tahun lalu. IKK tercatat 117,8 pada Juni 2026, turun dari 120,9 di Mei 2026. Meskipun demikian, IKK masih berada di atas level 100, menandakan masyarakat masih memiliki pandangan positif terhadap prospek perekonomian.
- Cadangan Devisa: Rupiah masih ditopang oleh cadangan devisa (cadev) yang memadai. Posisi cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi USD145,6 miliar pada akhir Juni 2026, naik dari USD144,9 miliar pada bulan sebelumnya.
- Komitmen Bank Indonesia: Bank Indonesia berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar, yang diharapkan mampu meredam tekanan gejolak di pasar keuangan global.
Kinerja Pasar Saham Indonesia
Sejalan dengan penguatan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan performa positif.
IHSG dibuka menguat pada Jumat pagi di level 5.936,037 dan ditutup menguat tipis 0,20% ke level 5.924,36.
Sebanyak 8 dari 11 sektor saham dalam negeri menguat, dengan sektor energi memimpin kenaikan.
Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, menyatakan optimisme terhadap pasar modal Indonesia.
Ia menyebut fundamental ekonomi yang solid, besarnya pasar domestik, serta reformasi transparansi yang dijalankan regulator dan Self-Regulatory Organizations (SRO) sebagai faktor penopang kepercayaan investor.
Jumlah investor pasar modal juga terus meningkat, mencapai 28,9 juta Single Investor Identification (SID) per 30 Juni 2026.
Investor domestik mendominasi kepemilikan saham sebesar 61% dan berkontribusi 65,5% terhadap total nilai perdagangan di BEI.
Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal Indonesia semakin ditopang oleh basis investor domestik yang kuat, membantu menjaga stabilitas di tengah dinamika global.
Prospek Rupiah ke Depan
Meskipun hari ini rupiah menunjukkan penguatan, analis memprediksi pergerakan yang fluktuatif di pekan depan.
Sentimen pasar akan sangat dipengaruhi oleh rilis data inflasi inti (Core CPI) dari Amerika Serikat.
Jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed akan kembali menguat, berpotensi menekan rupiah.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
Secara keseluruhan, meskipun rupiah masih menghadapi tekanan dari berbagai sisi, kemampuan untuk menunjukkan penguatan di tengah kondisi pasar yang menantang adalah sinyal positif.
Investor dan pelaku pasar tetap disarankan untuk memantau perkembangan ekonomi global dan domestik secara cermat.




