PAMEKASAN, portalmadura.com – Tokoh nasional asal Madura, Achsanul Qosasi, menilai pengusaha lokal memegang peran vital dalam menjaga stabilitas ekonomi para petani tembakau di Pulau Garam. Peran tersebut sangat terasa di tengah ketidakpastian harga dan fluktuasi daya serap pasar industri.
Pernyataan tersebut disampaikan sosok yang akrab disapa AQ itu seusai meninjau Gudang Induk PT Bawang Mas di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan, Rabu (9/9/2026). Dalam kunjungan tersebut, Achsanul berdialog langsung dengan CEO PT Bawang Mas, H. Khairul Umam alias Haji Her, guna memantau perkembangan musim panen tembakau tahun ini.
Achsanul mengungkapkan bahwa keputusannya turun ke lapangan bertujuan untuk memastikan hasil panen petani tetap terserap pasar dengan patokan harga yang memberikan keuntungan wajar.
“Kunjungan ini untuk membahas kondisi musim panen tembakau tahun ini, khususnya bagaimana harga hasil panen tetap memberikan keuntungan yang layak bagi para petani,” ujar Achsanul melalui akun media sosial pribadinya, Kamis (10/9/2026).
Ia mengapresiasi keberanian para pengusaha lokal yang konsisten membeli tembakau petani dengan harga memadai. Menurutnya, aksi nyata dari figur seperti Haji Her berhasil membendung penurunan harga tembakau di tingkat tapak.
“Fakta hari ini, yang menahan harga tetap layak adalah pengusaha-pengusaha lokal seperti Haji Her. Langkah mereka yang terus membuka gudang, menyerap panen, dan melakukan pembayaran langsung membuat petani tidak kehilangan pegangan,” tuturnya.
Kendati demikian, mantan Anggota BPK RI ini menegaskan bahwa fondasi perekonomian Madura tidak bisa terus-menerus digantungkan pada segelintir pengusaha. Kemampuan finansial dan kapasitas serap swasta lokal memiliki batas dalam menghadapi tekanan dinamika pasar global.
Sebagai jalan keluar yang konkret dan terstruktur, Achsanul kembali menyuarakan pentingnya percepatan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Madura. Gagasan ini diyakini mampu menjadi pilar utama pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan.
“Perjuangan menghadirkan KEK Madura perlu terus didorong. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan para ulama, lalu disambut para pengusaha dan petani, hingga akhirnya dirumuskan dalam kajian akademis bersama perguruan tinggi di Madura,” jelasnya.
Ia menambahkan, tata kelola NIAGA tembakau bukan sekadar persoalan jual-beli komoditas, melainkan menyangkut keberlanjutan mata pencaharian ribuan kepala keluarga. Keterlibatan para ulama dalam mengawal isu ini membuktikan bahwa kesejahteraan petani merupakan tanggung jawab sosial bersama.
Mengakhiri keterangannya, Achsanul mengajak seluruh pemangku kepentingan—mulai dari elemen masyarakat, akademisi, pengusaha, hingga pemerintah—untuk bersinergi melahirkan kebijakan strategis demi kemajuan Madura.
“Kepada pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan kekuasaan, tolong bantu Madura,” pungkasnya.





