Aksi Borong Saham BUMN dan Gelombang Buyback Rp4,5 Triliun Bikin IHSG Melesat Lebih dari 3%!

Avatar of PortalMadura.com
Aksi Borong Saham BUMN dan Gelombang Buyback Rp4,5 Triliun Bikin IHSG Melesat Lebih dari 3%!

PORTALMADURA.COM, Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan lonjakan signifikan lebih dari 3 persen pada sesi pertama perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026[cite: 1]. Pada titik tertingginya, indeks sempat melompat hingga 3,15 persen atau bertambah 157 poin ke level 5.157,47[cite: 1].

Kenaikan tajam ini dipicu oleh aksi pembelian kembali (buyback) saham secara masif oleh sejumlah emiten besar, didukung oleh komitmen bersama antara Self-Regulatory Organization (SRO), regulator, hingga pemerintah dalam membenahi berbagai persoalan di pasar modal[cite: 1].

Saham Perbankan dan BUMN Jadi Motor Penggerak

Saham-saham berkapitalisasi besar (big cap) mendominasi jajaran penopang penguatan IHSG[cite: 1]. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memberi kontribusi terbesar sebesar 22,42 indeks poin seiring kenaikan harganya ke Rp2.690[cite: 1]. Selanjutnya, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyumbang 20,65 poin ke level Rp1.990, diikuti PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan sumbangan 19,43 poin ke Rp3.600, serta PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang mengerek indeks 14,66 poin ke Rp4.980[cite: 1].

Selain sektor perbankan dan telekomunikasi, emiten lain seperti PT Astra International Tbk (ASII) turut menyumbang 10,70 poin ke Rp4.390, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menyumbang 6,00 poin ke Rp3.140, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) berkontribusi 3,94 poin ke posisi Rp1.935[cite: 1]. Saham emiten tambang pelat merah seperti ANTM, TINS, dan PTBA juga terpantau kompak melesat[cite: 1].

Empat Sentimen Utama Pendorong Rebound IHSG

Aksi pemulihan pasar modal domestik pagi ini ditopang oleh empat faktor utama[cite: 1]:

1. Gelombang Aksi Buyback Konglomerasi
Setidaknya lima emiten milik grup Prajogo Pangestu dan Franky Oesman Widjaja menyiapkan dana buyback gabungan senilai Rp4,5 triliun[cite: 1]. Dari grup Barito, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan BREN masing-masing menganggarkan hingga Rp1 triliun, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyiapkan Rp500 miliar[cite: 1]. Dari Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) mengalokasikan Rp1 triliun[cite: 1]. Aksi ini sukses menahan tekanan jual sekaligus menegaskan keyakinan manajemen atas harga saham yang terdiskon[cite: 1].

2. Pembenahan Aturan Transparansi oleh BEI
BEI merilis dua inisiatif baru untuk menjawab perhatian MSCI, yakni mempublikasikan informasi hubungan afiliasi pemegang saham di atas 1% serta mengeluarkan saham berstatus High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG[cite: 1]. Langkah ini diambil guna meningkatkan transparansi dan memastikan pergerakan indeks mencerminkan kondisi riil pasar[cite: 1].

3. Komitmen Danantara Borong Saham BUMN
COO Danantara sekaligus Kepala BP BUMN Dony Oskaria menegaskan kesiapan pihaknya untuk menambah porsi kepemilikan pada saham-saham BUMN berfundamental solid[cite: 1]. Pernyataan tersebut memberikan kepastian masuknya pembeli besar di tengah penurunan harga saham perbankan pelat merah[cite: 1].

4. Ketegasan Presiden dan OJK Terhadap Praktik Ilegal
Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas bersama Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dan menginstruksikan penindakan tegas terhadap pelanggaran pasar modal, khususnya praktik coordinated trading[cite: 1]. OJK berkomitmen melanjutkan reformasi guna memperkuat transparansi dan penegakan hukum[cite: 1].

Faktor Teknikal dan Prospek Pasar

Secara teknikal, penguatan ini terjadi setelah IHSG sempat merosot 946 poin (15,93 persen) dalam tiga hari perdagangan sebelumnya[cite: 1]. Penurunan tajam tersebut membuat valuasi sejumlah saham blue chip dinilai terlampau murah sehingga memicu aksi beli (bargain hunting) dari para investor[cite: 1].

Meski menguat tajam, pelaku pasar tetap disarankan mencermati proses konsultasi reklasifikasi oleh MSCI yang berlangsung hingga April 2027 sebelum pengumuman final pada 30 Juni 2027[cite: 1]. Konsistensi implementasi reformasi pasar modal akan menjadi kunci utama keberlanjutan tren positif indeks[cite: 1].

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses