PORTALMADURA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup merosot tajam pada akhir perdagangan Kamis (29/10/2026). Sempat dibuka menguat di zona hijau pada pagi hari, tekanan jual yang masif menyeret IHSG jatuh sebesar 184,25 poin atau 3,49 persen hingga mendarat di level 5.098,05.
Berdasarkan data resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), perdagangan hari ini mencatatkan fluktuasi yang cukup tinggi. Indeks mengawali sesi pertama dengan kenaikan 0,43 persen ke posisi 5.305,20 dan sempat menyentuh titik tertinggi harian di level 5.320,90. Namun, pembalikan arah secara drastis menekan indeks hingga menyentuh level terendah harian di angka 5.098,05 saat penutupan.
Pelemahan tajam IHSG dipicu oleh tertekannya seluruh sektor saham di bursa domestik. Sektor infrastruktur mencatatkan penurunan paling dalam, diikuti oleh sektor bahan baku, teknologi, serta sektor keuangan yang turut membukukan koreksi signifikan.
Faktor Global dan Sentimen Suku Bunga The Fed
Sejumlah analis pasar modal menilai pelemahan bursa saham domestik terpengaruh oleh sentimen kebijakan moneter global. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen. Meski demikian, keputusan tersebut diwarnai perbedaan pendapat internal yang memicu kekhawatiran pelaku pasar terkait potensi kenaikan suku bunga lanjutan.
Kondisi ini mendorong lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun hingga menembus 5,042 persen. Akibatnya, sebagian modal asing kembali mengalir keluar dari pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.
Saham Top Losers dan Pergerakan Saham Unggulan
Tekanan di jajaran saham unggulan indeks LQ45 turut menjadi pemberat pergerakan IHSG sepanjang hari. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masuk dalam deretan penekan utama indeks.
Sementara itu, beberapa saham yang mencatatkan penurunan harga terbesar (top losers) pada kelompok LQ45 di antaranya PT PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), PT Barito Pacific Tbk (BRPT), dan PT Indika Energy Tbk (INDY).
Analis mengingatkan para investor untuk tetap cermat mencermati rilis data ekonomi penting global, seperti data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat, serta tetap disiplin menjaga manajemen risiko dalam portofolio investasi.





