PORTALMADURA.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sukses berbalik menguat pada akhir perdagangan Kamis (29/10/2026). Setelah sempat tertekan pada beberapa hari sebelumnya, mata uang Garuda mampu memutus tren negatif dan rebound cukup perkasa di zona hijau.
Berdasarkan data perdagangan pasar spot, rupiah ditutup menguat sebesar 47 poin atau 0,26 persen berada di posisi Rp 18.137 per dolar AS. Pada perdagangan hari sebelumnya, Rabu (28/10/2026), mata uang Indonesia sempat tertahan di level Rp 18.184 per dolar AS.
Apresiasi rupiah terpantau sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang kawasan Asia yang juga menguat terhadap greenback. Won Korea memimpin penguatan sebesar 0,54 persen, disusul ringgit Malaysia sebesar 0,39 persen, dan peso Filipina sebesar 0,30 persen.
Sikap Bank Sentral AS dan Intervensi Bank Indonesia
Penguatan nilai tukar rupiah terjadi di tengah langkah bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), yang memutuskan untuk menahan suku bunga acuan. Keputusan tersebut membuat indeks dolar AS (DXY) terkoreksi tipis dari posisi 102,19 menjadi 102,17 pada akhir sesi sore.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) terus memantau pergerakan pasar keuangan secara aktif melalui langkah intervensi pasar guna menjaga stabilitas pasokan dan permintaan valuta asing. Langkah preventif ini dinilai berhasil meredam volatilitas liar rupiah di pasar spot.
Analis ekonomi menyarankan para pelaku pasar untuk tetap mencermati rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat serta kebijakan suku bunga acuan domestik mendatang sebagai acuan dalam mengantisipasi dinamika pasar finansial global.





