oleh

Antropologi Forensik Tidak Asing Lagi

Oleh : Rosida Clivara S.A. S.Ant*

Antropologi merupakan hal yang masih belum dikenal secara umum untuk kalangan masyarakat. Jarang yang mengerti bahwa antropologi (dalam Yunani) merupakan (logos) ilmu yang
mempelajari tentang (antrophos) manusia.

Mempelajari manusia yang dimaksud adalah dari aspek sosial budaya dan aspek ragawi. Antropologi forensik merupakan bentuk dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Antropologi forensik memiliki peran membantu proses identifikasi pada kasus-kasus pidana, kecelakaan massal, bencana alam. Antropolog forensik ahli dalam identifikasi tulang dan sisa-sisa kerangka.

Studi mereka memberikan informasi tentang jenis kelamin, ras, usia, dan waktu kematian. Mereka juga dapat memberikan dukungan untuk penyelidikan mengenai kasus hidup seperti anak-anak di rumah sakit
atau identifikasi kerangka orang yang terlibat dalam masalah imigrasi.

Antropolog forensik sangat membantu dalam bencana massal dengan sisa-sisa kerangka yang cukup besar atau dalam kasus-kasus penguburan massal.

Sebuah aplikasi baru dalam keahlian ini yaitu merekonstruksi atau menyusun wajah kepala dari tengkorak.

Pada tiap-tiap kasus yang ada, antropolog forensik menggunakan keahlian yang berberda-beda.

Saat yang dibutuhkan adalah penentuan jenis kelamin, maka antropolog forensik memperhatikan ciri khas yang dapat menunjukkan jenis kelamin seperti bentuk pelvis, tengkorak, mandibula, atau bahkan pada temuan lain pada korban.

Namun patokan utama bagi para antropolog forensik adalah ras/uncestry karna tiap ancestry memiliki cirikhas tersendiri dan berbeda juga standar pengukuran sntropometrisnya.

Antropolog forensik juga sering diminta untuk memperkirakan saat kematian seseorang atau berapa lama jenazah atau sisa-sisa jasad manusia yang ditemukan tersebut telah meninggal dunia.

Jarak waktu kematian seseorang hingga jasadnya ditemukan atau diperiksa disebut dengan interval
pascamerta atau pascamerta interval.

Loading...

Penentuan interval pascamerta selain untuk mendukung identifikasi jenazah, juga berguna dalam merekonstruksi rangkaian kejadian, baik itu kasus
forensik maupun peristiwa bencana alam.

Untuk kasus pembunuhan, penentuan interval pascamerta juga dapat mempengaruhi diterima atau ditolaknya alibi tersangka.

Penentuan interval pascamerta dalam hitungan jam cenderung lebih menjadi perhatian kedokteran forensik, sedangkan antropologi forensik lebih fokus terhadap interval pascamerta jenazah atau sisa-sisa jasad manusia dalam rentang waktu yang lebih lama, yaitu yang telah mengalami dekomposisi, skeletonisasi, atau mumifikasi.

Menentukan interval pascamerta adalah salah satu tugas antropolog forensik yang paling sulit dilakukan karena ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi, baik faktor dari jenazah itu sendiri (faktor internal) maupun faktor dari lingkungan di sekitar jenazah tersebut (faktor eksternal).

Memperkirakan interval pascamerta (PMI), atau berapa waktu yang dilalui sejak individu mati, merupakan aspek penting dalam penyelidikan kematian tidak wajar.

Secara tradisional, ahli antropologi forensik bergantung menggunakan tahapan waktu dekomposisi non-standarisasi, bukti anekdotal, dan pengalaman personel untuk melakukan perkiraan dari PMI.

Tahapan dekomposisi dipengaruhi oleh kondisi geografis tertentu, sehingga tidak dapat diaplikasikan dalam iklim negara lain yang berbeda-beda dan sebagian besar penelitiannya dikembangkan dari data cross-sectional.

Bencana yang terjadi beberapa waktu silam menjadikan antropologi forensik cukup dikenal oleh kalangan masyarakat karna partisipasi dalam menentukan korban.

Jika beberapa perusahaan dulunya mengenal antropologi pada aspek sosial budayanya, namun peran antropologi forensik pada proses identifikasi dalam naungan Disaster Victim Identification (DVI) menjadikan antropologi lebih dikenal masyarakat.(**)

Penulis : Kelahiran Jombang, Warga Pakis, Kecamatan Sawahan.



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar