PortalMadura.com – Harga emas dunia menunjukkan ketangguhannya dengan tetap bertahan di atas level psikologis US$4.700 per ons pada pekan kedua Mei 2026. Tren penguatan ini didorong oleh aksi borong yang dilakukan oleh sejumlah bank sentral dunia sebagai langkah strategis menghadapi ketidakpastian ekonomi global dan geopolitik yang kian memanas.
Dominasi Bank Sentral Asia dan Eropa Timur
Berdasarkan data terbaru dari World Gold Council (WGC) dan Kitco News per 9 Mei 2026, tren akumulasi emas oleh sektor resmi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bank Sentral China (PBoC) menjadi sorotan utama setelah kembali menambah cadangan emas sebesar 8 ton pada Maret lalu. Langkah ini memperpanjang rekor pembelian berturut-turut mereka selama 18 bulan terakhir.
Tidak hanya China, negara-negara di Eropa Timur dan Asia Tengah seperti Polandia, Kazakhstan, dan Uzbekistan juga tercatat aktif menambah porsi emas dalam cadangan devisa mereka. Para analis menilai tindakan ini merupakan upaya diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
“Pembelian emas oleh bank sentral saat ini lebih bersifat strategis jangka panjang untuk melindungi nilai aset negara, bukan sekadar spekulasi jangka pendek,” tulis laporan analis Kitco News.
Faktor Pendukung Harga Emas Global
Selain aksi beli oleh otoritas moneter, harga emas yang kini bertengger di kisaran US$4.716 per ons juga mendapat sokongan dari faktor makroekonomi lainnya, antara lain:
- Pelemahan Dolar AS: Nilai tukar greenback yang cenderung melandai membuat emas menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
- Penurunan Imbal Hasil Obligasi: Turunnya yield obligasi AS meningkatkan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan bunga (non-yielding asset).
- Sentimen Geopolitik: Konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah memicu investor untuk mengalihkan dana ke aset safe haven.
Proyeksi Pasar dan Prediksi 2026
Para pelaku pasar kini tengah menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (CPI dan PPI) serta angka penjualan ritel pekan depan. Data ini akan menjadi kompas bagi arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) selanjutnya.
Hasil survei mingguan menunjukkan mayoritas analis Wall Street tetap optimis. Level US$4.850 hingga US$5.000 per ons diprediksi akan menjadi target psikologis berikutnya jika data ekonomi AS mendukung pelemahan suku bunga. Namun, investor diingatkan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi yang mungkin terjadi akibat sensitivitas pasar terhadap isu inflasi.
| Indikator Utama | Data Terkini (Mei 2026) |
|---|---|
| Harga Spot Emas | US$4.716 per ons |
| Kenaikan Mingguan | ± 2% |
| Akumulasi China | 18 Bulan Berturut-turut |
Secara keseluruhan, kuatnya permintaan fisik dari bank sentral dunia menjadi pondasi kokoh bagi harga emas di tahun 2026. Bagi investor ritel di Indonesia, pergerakan harga global ini diprediksi akan terus memengaruhi nilai emas batangan dalam satuan Rupiah secara signifikan di masa mendatang.
Sumber: Bareksa, Kitco News, World Gold Council (Dikutip oleh portalmadura.com)







