PortalMadura.com

Bebas Bukan Berarti Seenaknya Sendiri

  • Senin, 3 Maret 2014 | 08:33
Bebas Bukan Berarti Seenaknya Sendiri

BRAUNSCHWEIG, JERMAN (PortalMadura) – Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 19-21 Februari 2014, saya menghadiri acara konferensi yang diselenggrakan oleh Berlin Mathematical School berjudul “2nd BMS Student Conference”, bertempat di tiga universitas berbeda yaitu Freie Universitat Berlin, Technische Universitat Berlin dan Humboldt Universitat Berlin.

Sepanjang acara terasa cukup asik meskipun tidak seasik nonton stand-up commedy karena ini bersifat ilmiah. Diisi oleh 18 pemateri yang bevariasi backgroundnya yakni 3 Profesor serta sisanya dari para Mahasiswa(i) energik yang sedang melaksakan atau telah menyelesaikan penelitiannya.

Namun pada kesempatan ini saya tidak ada mood untuk membahas kembali hasil konferensi tersebut karena acaranya telah berlalu, materinya ada di tas dan para pembaca pasti tidak akan betah nongkrong di sini. Dalam tulisan ini, saya akan menuliskan hal-hal yang santai saja.

Inspirasi tulisan ini datang setelah saya bertemu dengan kawan baruku di Berlin, sebut saja namanya Zam. Zam ini sedang mempersiapkan diri untuk masuk kuliah jenjang S1 di Jerman. Sepintas saya membaca kawan yang beragama Kristen ini sebagai orang yang mandiri, hangat, percaya diri, peka terhadap sosial dan sopan.

Maklum mungkin karena pengalaman ia yang pernah mengunjungi beberapa negara diantaranya Brazil dan tour keliling Eropa dengan menyewa mobil. Itulah sepintas informasi yang saya dapat saat perbincangan singkat dengannya setelah selesai konferensi di Berlin. O yah, saya mengenal Zam dari jarkom Mahasiswi Indonesia di Hannover. Jangan sepelekan Jaringan Komunikasi agar hidupmu gak melarat!

Sesaat tidak ada yang istimewa dari perjumpaan kami hingga percakapan di perjalanan mendekati apartemennya.

“Mas Budy mohon maaf karena tempatku berantakan”
“oh santai saja, saya juga pernah jadi Mahasiswa dan termasuk sekarang statusku juga tetap Mahasiswa”

Setelah menaiki beberapa lantai dan memasuki apartemen yang berisi 4 kamar, 2 toilet dan 1 dapur saya benar-benar kaget. Sepintas saat menuju kamar Zam sambil menyapa orang di dalam kamar, benar benar parah, apalagi dapurnya. LUAR BIASA!! OMG!!

Ini namanya bukan berantakan lagi tapi hancur. Saya jadi teringat dengan kejadian gampa dahsyat yang terjadi di Jogja ada tahun 2006, dalam hati aku bertanya “Apakah gempa itu sampai ke sini dan mereka belum sempat merapikannya?! Apakah mereka tidak pernah membaca Annadho fatul minal iman?!”

***

Dalam curhatannya ia sampaikan bahwa “saya di sini hanya numpang, tempatnya sewa sementara karena yang punya rumah sedang mudik ke Indonesia dan saya belum dapat tempat tinggal”, serta percakapan yang mengarahkan bahwa ia tidak akan tinggal di sana untuk waktu yang lama. Dan saya bisa membaca alasannya kenapa.

Saya sebenarnya tidak suka dan tidak mau mencampuri urusan orang lain. Toh hidupmu hidupmu, hidupku hidupku. Namun ini terkait curhatan yang saya dengar dari seorang kawan yang baik dan saya jadi menduga-duga bahwa jangan-jangan dalam hati Zam ia bertanya “apakah seperti itu wajah orang-orang islam??”

Saya berbicara dengan Zam dengan dasar kebersamaan, kebersamaan sebagai orang Indonesia dan kebersamaan sebagai mahasiswa Indonesia yang sedang menuntut ilmu di Jerman. Dari sudut pandang tersebut dan mempertimbangkan keadaan rumahnya serta perbedaan agama kami saya merasa perlu menyampaikan pandangan saya bagaimana wajah Islam sebenarnya.

Dalam Penyampaian, sama sekali tidak ada maksud untuk memperdebatkan antara kebenaran Agama Islam dan Kristen, namun saya hanya ingin membela kesucian agama yang saya yakini santun, mencintai kebersihan dan menghargai hak orang lain.

“kita harus bersyukur terlahir di Indonesia, memiliki keanekaragaman baik suku, ras, budaya dan agama namun berkumpul menjadi satu yang bernama Indonesia. Secara pribadi saya tidak setuju dengan bentuk kekerasan dengan dalih apapun karena negara kita berlambang Pancasila dan memiliki semboyan Bhineka Tunggal Ika”.

Ia pun mengangguk dan sekali-kali nyeletuk “iya benar”.  Kemudian perbincangan kami berlanjut pada hal-hal yang ringan dan santai, seputar keadaan di Berlin, pengalaman jalan-jalan, studi, dll.

Melalui tulisan ini saya ingin menyampaikan bahwa memang benar setiap orang memiliki haknya masing-masing untuk bebas melakukan hal yang ia inginkan, namun jangan lupa bahwa asal negara, agama, orang tua, almamater menempel erat di badan bahkan hati kita. jika merasa keberatan dengan tulisan ini, silahkan saja bertindak sesuka hati asal tanggalkan dulu bajumu terlebih dahulu bung!

Braunschweig, 3 Maret 2014

Penulis : Budy Sugandi (Master Pendidikan Sains dan Matematika di Braunschweig University, Jerman Dan Kandidiat Penerima BU BPKLN Kemendiknas RI)

Loading...
Advertisement
Iklan Murah

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Wordpress Untuk Portal berita Professional