oleh

Benarkah Janin Buang Air Kecil dan Air Besar di Rahim Ibu?

PortalMadura.Com – Saat di rahim ibu, seorang bayi atau janin mendapat asupan makanan melalui plasenta. Lantas, apakah bayi juga Buang Air Besar (BAB) atau Buang Air Kecil (BAK)?. Jawabannya iya. Lalu, bagaimana caranya?.

Sekitar 25 minggu janin akan berenang dan minum air kencingnya sendiri. Bayi mulai BAK di dalam kantung ketuban sekitar usia 8 minggu, dan produksi urinenya meningkat di usia kehamilan 13 hingga 16 minggu, ketika perkembangan ginjal lebih lengkap.

Selain itu, ada juga bayi yang belum lahir mulai mengeluarkan air seni pada usia 10 minggu. Bayi di dalam rahim minum dengan cara menelan cairan ketuban dan buang air kecil di dalam rahim. Ibu perlu tahu, air seni bayi yang belum lahir steril.

Janin pun meminum campuran urine dengan air ketuban saat usia kandungan 10-11 minggu, atau ketika lapisan sel yang menghalangi mulut mereka yang disebut membran buccopharyngeal pecah. Sehingga, bayi bisa menelan. Nah, di minggu ke-20, sebagian besar cairan ketuban adalah air seni.

Untuk masalah Buang Air Besar (BAB), plasenta yang mengambil alih tugas penyaringan yang menghasilkan limbah. Kemudian, limbah dikirim kembali ke tubuh ibu hingga janin tidak BAB. Kendati demikian, janin menelan sel-sel usus, lendir, empedu, dan lanugo (rambut halus yang menutupi tubuh bayi) saat di dalam rahim.

Semua itu akan berkumpul di usus bagian bawah dan menjadi mekonium, kotoran pertama bayi yang keluar di hari pertama atau kedua setelah lahir. Mekonium mulai terbentuk setelah bayi membuka mulutnya dan mulai menelan cairan ketuban, sekitar minggu ke-11.

Loading...

Baca Juga: Inilah 6 Manfaat Buah Apel Bagi Ibu Hamil

Kalau bayi stres sebelum lahir, janin bisa mengeluarkan kotoran pertamanya sebelum lahir. Ini yang berbahaya. Peneliti di University of California San Francisco melaporkan, dalam 10-20 persen persalinan, ada meconium dalam cairan ketuban.

“Bayi yang cairan ketubannya tercampur mekonium atau partikel mekonium, berisiko mekonium masuk ke paru-paru dan mengembangkan sindrom aspirasi mekonium. Bahayanya, saluran udara bisa timbul iritasi pada jaringan paru-paru, lalu surfaktan, zat alami yang membantu paru-paru berkembang juga dapat di-non-aktifkan,” papar peneliti.

Bayi yang mengalami sindrom aspirasi meconium juga lebih berisiko mengalami penyakit saluran napas reaktif yang merupakan penyempitan saluran udara seperti asma yang dapat menyebabkan mengi, batuk, dan sesak napas.

Nah, untuk mencegah bayi pup di dalam rahim, hindari intervensi medis yang bisa menyebabkan janin kekurangan oksigen. Misalnya induksi persalinan, pecah ketuban, dan terjepitnya tali pusat. Lalu, minimalkan stres yang dirasa ibu.

Sementara itu, dr.Rizalya Dewi, Sp,A, IBCLC mengingatkan, kalau plasenta memiliki ‘umur’. Artinya, ibu harus memerhatikan benar usia kandungan. Jika usia kehamilan sudah lebih dari 40 minggu, ibu harus hati-hati.

“Kalau sudah lebih bulan, kemampuan (plasenta)-nya memasok oksigen dan zat makanan jadi berkurang. Kekurangan oksigen berat, membuat bayi mengeluarkan mekonium (BAB) di dalam kandungan. Ketuban yang bercampur mekonium, bisa merusak paru bayi,” pungkas wanita yang akrab disapa Lya ini.

Rewriter : Salimah
Sumber : haibunda.com

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

PortalMadura.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE