oleh

Gempa Bumi Jabar, 3 Warga Tewas dan Hampir Seribu Bangunan Hancur

PortalMadura.Com, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengabarkan jumlah korban meninggal akibat gempa Jawa Barat bertambah jadi 3 orang.

Korban terbaru atas nama Fatimah (34) warga Desa Argosari, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Korban meninggal dunia karena panik. Dia berlari lalu terjatuh,” ujar Kepala Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers di Jakarta, Sabtu (16/12/2017).

Selain itu, BNPB mencatat jumlah bangunan rusak akibat gempa bertambah menjadi 228 rusak berat, 157 rusak sedang, dan 97 rusak ringan.

Sementara itu, BNPB belum bisa mengklasifikasikan tingkat kerusakan 473 bangunan lainnya.

“Bangunan yang mengalami kerusakan meliputi sekolah, rumah sakit, kantor, masjid dan pasar. Pendataan terus dilakukan,” terang Sutopo.

Sutopo menambahkan sejak tadi malam telah terjadi sebanyak 19 kali gempa susulan. Namun, gempa susulan tergolong kecil dan tidak menimbulkan kerusakan.

“Gempa susulan adalah normal karena mencari keseimbangan lempengan bumi,” kata Sutopo.

Jawa Barat Rawan Gempa

Gempa bumi mengguncang sebagian besar Pulau Jawa pada Jumat (15/12/2017) malam. Guncangan paling keras terjadi di Kabupaten Tasikmalaya, Pangandaran, dan Ciamis, Jawa Barat, mengingat pusat gempa berada 6 km arah tenggara Kota Bantarkalong, Kabupaten Tasikmalaya.

Berdasarkan analisa Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), wilayah Jawa Barat sangat berpotensi diguncang gempa kuat akibat aktivitas subduksi lempeng yang terdapat di Samudera Hindia, sebelah selatan Jawa Barat dan sesar aktif yang tersebar di daratan.

“Sehingga tidak heran jika di Jawa Barat beberapa kali terjadi gempa bumi kuat dan merusak,” jelas Kepada Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Haryono dalam keterangan resminya, Sabtu.

Jika ditinjau dari kedalaman hiposenternya, guncangan Tasikmalaya merupakan jenis gempa menengah. Di zona ini Lempeng Indo-Australia menunjam ke bawah Lempeng Eurasia dengan laju 70 mm/tahun.

Hasil analisis mekanisme sumber keluaran BMKG menunjukkan gempa Tasikmalaya merupakan kombinasi pergerakan dalam arah mendatar dan naik (oblique sinistral).

“Dengan melihat lokasi episenter, kedalaman hiposenter, dan mekanisme sumbernya, maka BMKG memperkiarakan pemicu gempa karena adanya deformasi batuan pada zona Benioff bagian atas dari lempeng samudera yang tersubduksi (subducted plate),” ujar Haryono.

Haryono mengaku banyak pertanyaan mengapa gempabumi dengan kekuatan 6,9 SR dengan kedalaman 107 km dapat berdampak kerusakan. Hal ini dapat dijelaskan zona gempa bumi di Tasikmalaya dan Pangandaran, khususnya kawasan pesisir, lahannya tersusun oleh material tanah lunak.

“Karakteristik tanah lunak semacam ini dapat menimbulkan resonansi gelombang seismik hingga memicu amplifikasi guncangan gempa bumi,” jelas Haryono.

Hal itu ditambah dengan banyak bangunan yang tidak memiliki standar aman gempa sehingga memudahkan terjadinya kerusakan.

“Tingkat kerusakan akibat gempa bumi tidak hanya disebabkan magnitudo gempa dan jaraknya dari pusat gempabumi, tetapi kondisi tanah setempat dan kualitas bangunan sangat menentukan tingkat kerusakan,” ujar Haryono.

Hasil monitoring BMKG hingga Sabtu pagi pukul 7.00 WIB menunjukkan sudah terjadi gempabumi susulan sebanyak 13 kali.

Seluruh gempabumi susulan belum ada yang dirasakan karena kekuatannya kurang dari 5 SR. Berdasarkan kecenderungan magnitudo gempa susulan yang terus mengecil menunjukkan kondisi tektonik di zona gempa yang semakin stabil.

“Sangat kecil peluang terjadinya gempa bumi susulan yang lebih besar dari gempabumi utamanya (main shock),” ujar Haryono.

Untuk itu, Haryono mengimbau masyarakat tetap tenang dan tidak terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.(AA/Har)



Dapatkan Aplikasi PortalMadura.com

aplikasi portal madura
spt tahuna