oleh

Guru Tewas di Tangan Siswa, Mahfud MD : Perlu Keseimbangan Imtaq dan Iptek

PortalMadura.Com, Sampang – Meninggalnya salah seorang guru honorer SMAN I Torjun, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur, Ahmad Budi Cahyanto, yang diduga dianiaya siswanya sendiri bernisial MH, kelas XI juga mendapat perhatian serius dari Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD.

Minggu (4/2/2018), pria kelahiran Sampang itu, berkunjung ke rumah duka almarhum Ahmad Budi Cahyanto, Desa/Kecamatan Jrengik, Sampang. Kunjungan Mahfud MD ini bermaksud untuk bertakziah dan bertemu dengan keluarga besar korban serta memanjatkan doa buat almarhum.

Selama berkunjung, ia disambut haru oleh keluarga duka khususnya istri korban, Sianit Shinta (25), dengan didampingi orang tua korban, M. Satuman Ashari (50).

Mahfud MD menyampaikan, bahwa berdasarkan Undang-undang Dasar 1945, pasal 31, hakikat dari pendidikan itu, untuk membangun dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), serta Iman dan Taqwa (IMTAQ). Hal ini, perlu ada keseimbangan antara Imtaq dan Iptek.

Terjadinya kasus penganiayaan yang menimpa seorang guru hingga berujung maut adalah peristiwa memilukan pendidikan Indonesia. “Bagi saya, kasus penganiayaan begitu mengagetkan dan memilukan. Akibat ulah seorang siswa memukul gurunya sampai meninggal dunia,” katanya.

Menurutnya, tidak pernah terbayangkan akan ada seorang siswa berani memukul guru sebagaimana dilakukan berinisial MH (17) siswa SMAN 1 Torjun, Sampang.

“Jika bercermin pada masa lalu, tidak pernah terbayangkan ada seorang siswa berani memukul gurunya apalagi sampai meninggal dunia. Bahkan bila guru marah kepada saya, orang tua merasa senang. Begitu diantar pulang oleh guru, saya dimarahi lagi oleh orang tua,” terang Mahfud.

Akhlak (kesopanan) dan pendidikan karakter di Indonesia wajib diperkuat lagi. Sehingga masa depan siswa tidak tergelincir dari nilai-nilai akar budaya bangsanya.

Dulu, peran yang sesungghnya bagi bangsa kita adalah berperang melawan penjajahan Belanda.

Oleh karena itu, pihaknya mengajak para tokoh masyarakat, pesantren, dan orang tua agar membangun mentalitas anak dengan akhlak yang baik.

“Sementara, kejadian sekarang telah merusak mentalitas generasi bangsa. Hal ini, adalah contoh buruk dan terjadi di tempat yang sebenarnya baik (sekolah, red). Apalagi terjadi di Madura,” paparnya.

Ia berharap agar seluruh elemen masyarakat khususnya instansi dunia pendidikan untuk terus mengimbangi orientasi pendidikan dengan pengawalan ketat.

“Supaya tidak ada orientasi yang melenceng dari nilai-nilai akhlak dan budi pekerti kepada nilai-nilai teknis yang lebih operasional. Seperti pada logika dan kemampuan teknologi, saja,” tandasnya. (Rafi/Har)