oleh

Harga Mati, PKL Kembali ke TB atau Duduki Kantor Bupati Sumenep

PortalMadura.Com, Sumenep – Pedagang kaki lima (PKL) bersama Gerakan Anti Korupsi Indonesia (Gaki) Sumenep, Jawa Timur mengancam akan menduduki kantor bupati setempat.

Ancaman itu akan dibuktikan, Kamis (11/8/2016) bila opsi yang diajukan ditolak oleh penentu kebijakan pemerintah kabupaten diujung timur pulau garam Madura itu.

Opsi yang ditawarkan PKL, adalah kembali ke Taman Bunga (TB) atau ke timur dari Gedung Nasional Indonesia (GNI) pasca dilakukan relokasi ke depan Lapangan Giling.

“Ini harga mati. Kembali ke TB atau ke timur dari GNI,” tegas aktifis Gaki Sumenep, Ahmad Farid, pada wartawan, Rabu (10/8/2016).

Opsi tersebut telah disampaikan melalui audensi PKL bersama Gaki ditemui Sekretaris Daerah Pemkab Sumenep, Hadi Soetarto bersama tim relokasi di lantai 2 Pemkab Sumenep, Rabu pagi.

Enam orang perwakilan PKL dan dua orang aktifis Gaki, Sumenep mewakili PKL lain hadir pada audensi tersebut.

“Aksi untuk menduduki kantor bupati itu bukan gertak sambal. Besok (Kamis, 11/8/2016) hampir seribu massa PKL telah siap bila malam ini tidak ada keputusan final,” tandasnya.

PKL Legal

Para PKL dan Gaki juga mengajukan keinginannya agar ada regulasi tentang penataan PKL yang tertuang dalam peraturan daerah (Perda), sehingga keberadaan  PKL tidak ilegal.

“Keberadaan PKL nantinya harus mempunyai SIUP atau semacam ijin. Tujuannya, keberadaan PKL menjadi legal dan bisa menyumbang pada PAD,” kata aktifis Gaki Sumenep, Ahmad Farid.

Loading...

Selain itu, mereka juga berjanji akan menghijaukan taman adipura atau taman bunga (TB), bila nantinya kembali pada tempat semula, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Bahkan, konsep agar keberadaan PKL menjadi wisata kuliner yang dipadukan dengan budaya dan khas daerah Sumenep sudah dipersiapkan. Misalnya, mengenakan baju atau seragam adat daerah saat berjualan.

“Jadi, para PKL itu tidak sekedar berjualan di TB, tapi ada konsep yang sudah dipersiapkan oleh kami, agar PKL menjadi wisata kuliner yang menarik tanpa meninggalkan khas Madura,” ungkapnya.

Kebijakan Bupati

Wakil Bupati Sumenep, Achmad Fauzi mengungkapkan, bahwa relokasi PKL ke Lapangan Giling adalah kebijakan Bupati Sumenep, A Busyro Karim.

“Jika ada permintaan PKL berbeda dengan kebijakan bupati, maka saya perlu melakukan koordinasi dengan bapak bupati,” tegas Fauzi melalui WA pada PortalMadura.Com.

Namun, yang perlu difahami, kata politisi PDI Perjuangan ini, sampai saat ini, pemerintah daerah masih kometmen dalam mempersiapkan tempat permanen bagi PKL di lapangan Giling.

“Setelah pasar sapi itu pindah ke Bluto, maka pembangunan permanen akan dilakukan di sana (Lapangan Giling, red) secara bertahap,” terangnya.

Bahkan, orang nomor dua di Sumenep ini sempat membuat gambaran anggaran kasar untuk pembangunan tersebut. Nilainya mencapai Rp2 miliar.

“Hitung-hitungan kasarnya, akan menelan anggaran sampai Rp2 miliar dalam upaya memberdayaan para PKL itu,” pungkasnya.(Hartono)



whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar