oleh

Hiruk-Pikuk Perang Dingin Pasca Pemilu 2019

Oleh : Alifia Meilinda Herdika*)

Pemilu 2019 telah usai. Namun, saling serang antar pendukung dari masing-masing pasangan calon masih saja berkelanjutan dan berapi-api.

Tidak hanya ujaran kebencian yang kian memanas, adu argumen dari berbagai perspektif dan kalangan masyarakat yang ikut andil untuk saling mengagungkan idola dari calon presiden dan calon wakil presiden menambah riuh suasana pasca Pemilu di tahun 2019 ini.

Parahnya lagi, perspektif visual yang sudah tidak lagi menjadi rahasia umum adalah sikap nyata antar masyarakat yang sampai memutuskan hubungan karena perbedaan pilihan. Tujuannya hanya untuk kepentingan beberapa elit politik dan oknum sebagai bahan untuk merekayasa terpusatnya fokus masyarakat pada hasil pemilu?.

Ambigu Real Count Hingga Deklarasi

Implementasi perang dingin antar kedua kubu calon presiden dan calon wakil presiden yang saling menjatuhkan satu sama lain memperparah situasi yang seharusnya kembali aman, damai, dan tentram pasca dilaksanakannya Pemilu 2019.

Alih-alih menciptakan suasana yang diharapkan justru kedua kubu koalisi berbanding terbalik dalam kompetisi secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka pada publik dengan berbagai alibinya menunjukkan kolusi keparat dan membuat gundah gulana akibat ganjalan yang belum juga terselesaikan.

Benar, wujud pencitraan sebagai budak politik. Real count membuat masyarakat menjadi semakin gamang akan hasilnya. Banyak konklusi-konklusi yang bermunculan dalam masyarakat seperti klaim kemenangan yang telah dideklarasikan oleh elit politik yang yakin bahwa kubunya telah menang. Walaupun hasil dari KPU masih belum terdeklarasikan, kita harus tetap menjaga kenetralan relasi yang telah teregulasi sebelumnya.

Ideologi sebagai Ajang Cuci Otak

Penyebaran ideologi yang mencuci otak masyarakat memberikan pengaruh kuat empiris dan telah disalahgunakan oleh beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab. Fitnah di mana-mana, hoaks makin beraksi dan membara.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Indonesia kita?. Mudah percaya dengan fitnah yang dibuat seolah-olah nyata dan hoaks yang seakan diberikan oleh sumber terpercaya negeri ini.

Menelan mentah-mentah informasi dari mulut ke mulut yang jelas-jelas faktanya belum tentu terbukti. Ya, sepertinya ini akibat hegemoni yang membabi buta oleh penguasa yang seakan menjadi penguasa dari segala penguasa pribumi.

Manis sekali permainannya. Terlihat begitu mengasyikkan dibalik jabatan suci dan janji manis sang penguasa. Dari beberapa kampanye sebelumnya juga bisa kita lihat kecurangan-kecurangan dan penyelewengan yang terjadi sehingga kehilangan tujuan sebenarnya dari suatu kampanye.

Loading...

Sudah terbukti secara jelas merajalelanya money politic dalam masyarakat dan itu semua telah mendapat legitimasi sebagai suatu hal yang wajar dimata masyarakat kita, baik dari kalangan masyarakat kelas bawah, menengah, hingga atas. Karena masyarakat telah terkonsep menjadi masyarakat yang vertikal pada sistem politik di Indonesia. Dinamis sekali. Luar biasa.

Entitas Nyata Sebuah Pencitraan?

Hal-hal yang telah dilakukan dalam dunia dan elit politik sebenarnya membuat tanda tanya besar, bagaimanapun mereka memberikan trigger yang begitu kuat terhadap terselenggaranya Pemilu di setiap masanya.

Perihal kekuatan antar kubu 01 maupun 02 di Pemilu 2019 memberikan esensi besar sebagai cerminan terhadap masyarakat untuk melihat dari kacamata mereka masing-masing. Layakkah atau pencitraan belaka? Semua kembali pada otak dan argumen masyarakat heterogen bangsa ini.

Mau melihat sebagai suatu kerja nyata atau hanya pencitraan dibalik kerja nyata yang diimpementasikan sebagai kooperasi. Sebenarnya jika lebih dikerucutkan lagi, banyak masyarakat kita yang masih saja skeptis akan hal yang berbau politik, padahal Pemilu sendiri ada dalam ranah politik. Mereka beranggapan bahwa tidak adanya dampak signifikan yang mereka terima jika harus peduli total pada sistem politik Indonesia. Tidak salah, namun harus diluruskan hakikat yang sesungguhnya.

Lantas, masihkah kita berseteru untuk hal yang telah usai? Duduk manis, mengubah pola pikir, dan tidak mudah terpengaruh untuk hal yang bersifat rasis akibat ulah oknum kardus sembari menunggu hasil rekapitulasi suara dari KPU itu lebih mengkonsep pola pikir masyarakat menjadi lebih tertata, terintegrasi, dan berkelas sebagai masyarakat yang elegan.

Daripada harus adu kuat otot dan otak lalu yang membuang-buang energi dan menyita waktu berharga. Melelahkan. Indonesia dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi persatuan dan masyhur akan sikap toleransinya. Maka dari itu jangan sampai terpecah ke dalam blok-blok tertentu hanya karena masih bersitegang dengan ujaran kebencian yang terus berlangsung. Nampaknya memang mengasyikkan, namun tersimpan toxic yang begitu kuat dalam keasyikannya jika masih saja diteruskan. Sudahilah, semua sudah selesai.

*) Mahasiswa Prodi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang.

“Redaksi PortalMadura.Com menerima tulisan opini, artikel dan tulisan lainnya yang sifatnya memberi sumbangan pemikiran pada kemajuan negeri ini. Dan semua isi tulisan diluar tanggung jawab Redaksi PortalMadura.Com.”


Kiriman : Alifia Meilinda Herdika
Editor : Agnes Hafilda Kusuma
whatsapp share top ten article
Loading...
Loading...

Komentar