IHSG Anjlok Tajam hingga 2,2% ke Level 5.812, Simak Sentimen Penyebabnya

Avatar of PortalMadura.com
IHSG Anjlok Tajam hingga 2,2% ke Level 5.812, Simak Sentimen Penyebabnya

PORTALMADURA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat dan anjlok tajam pada perdagangan hari ini, Kamis (15/10/2026)[cite: 1]. Jatuhnya indeks saham domestik ini terjadi di tengah koreksi mayoritas bursa saham Asia lainnya[cite: 1].

Berdasarkan data RTI Business per pukul 11.00 WIB, IHSG tercatat melemah sebesar 2,20% dan terperosok ke level 5.812,45[cite: 1]. Sentimen negatif ini tidak hanya melanda pasar keuangan nasional, tetapi juga bursa regional Asia Pasifik[cite: 1].

Faktor Pemicu Anjloknya IHSG

Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa koreksi tajam tersebut sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia[cite: 1]. Pasar merespons negatif rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode September 2026 yang tercatat menguat ke level 3,7% secara tahunan (YoY), masih cukup jauh dari target bank sentral AS atau The Fed[cite: 1].

Kondisi inflasi yang berada di atas perkiraan pasar ini mendorong The Fed untuk bersikap hawkish serta mempertahankan kebijakan moneter ketat[cite: 1]. Selain itu, The Fed juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) satu kali lagi sebelum tutup tahun 2026[cite: 1].

Sikap ketat bank sentral AS tersebut diprediksi akan mendongkrak imbal hasil atau yield US Treasury yang saat ini masih bertahan di atas 5%, sehingga memicu potensi arus modal asing keluar (outflow) dari negara-negara berkembang (Emerging Market), termasuk Indonesia[cite: 1].

Tekanan Domestik dan Global Lainnya

Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, tekanan terhadap pasar keuangan turut diperparah oleh beberapa sentimen eksternal lainnya, di antaranya:

  • Kenaikan Consumer Price Index (CPI) AS September 2026 yang melampaui konsensus pasar menjadi 3,7% YoY dengan inflasi inti mencapai 2,6%, yang memperkuat posisi dolar AS serta menekan pergerakan rupiah[cite: 1].
  • Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memanas menyusul adanya ancaman dari kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak global[cite: 1].
  • Di sisi lain, surplus dagang China periode September tercatat mencapai US$ 133,53 miliar dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% YoY, yang memberikan sentimen positif bagi permintaan komoditas nasional meski dampaknya tertahan oleh gelombang sentimen negatif global[cite: 1].

Para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan dinamika makroekonomi global di sisa sesi perdagangan demi mengantisipasi volatilitas lanjutan, lapor portalmadura.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses