PORTALMADURA.COM – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan berat dan anjlok tajam pada perdagangan hari ini, Kamis (15/10/2026)[cite: 1]. Jatuhnya indeks saham domestik ini terjadi di tengah koreksi mayoritas bursa saham Asia lainnya[cite: 1].
Berdasarkan data RTI Business per pukul 11.00 WIB, IHSG tercatat melemah sebesar 2,20% dan terperosok ke level 5.812,45[cite: 1]. Sentimen negatif ini tidak hanya melanda pasar keuangan nasional, tetapi juga bursa regional Asia Pasifik[cite: 1].
Faktor Pemicu Anjloknya IHSG
Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa koreksi tajam tersebut sejalan dengan pergerakan bursa global dan mayoritas bursa Asia[cite: 1]. Pasar merespons negatif rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) periode September 2026 yang tercatat menguat ke level 3,7% secara tahunan (YoY), masih cukup jauh dari target bank sentral AS atau The Fed[cite: 1].
Kondisi inflasi yang berada di atas perkiraan pasar ini mendorong The Fed untuk bersikap hawkish serta mempertahankan kebijakan moneter ketat[cite: 1]. Selain itu, The Fed juga diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan (Fed Fund Rate/FFR) satu kali lagi sebelum tutup tahun 2026[cite: 1].
Sikap ketat bank sentral AS tersebut diprediksi akan mendongkrak imbal hasil atau yield US Treasury yang saat ini masih bertahan di atas 5%, sehingga memicu potensi arus modal asing keluar (outflow) dari negara-negara berkembang (Emerging Market), termasuk Indonesia[cite: 1].
Tekanan Domestik dan Global Lainnya
Berdasarkan riset BRI Danareksa Sekuritas, tekanan terhadap pasar keuangan turut diperparah oleh beberapa sentimen eksternal lainnya, di antaranya:
- Kenaikan Consumer Price Index (CPI) AS September 2026 yang melampaui konsensus pasar menjadi 3,7% YoY dengan inflasi inti mencapai 2,6%, yang memperkuat posisi dolar AS serta menekan pergerakan rupiah[cite: 1].
- Eskalasi konflik di Timur Tengah yang kembali memanas menyusul adanya ancaman dari kelompok Houthi terhadap fasilitas minyak Arab Saudi, sehingga memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dan volatilitas harga minyak global[cite: 1].
- Di sisi lain, surplus dagang China periode September tercatat mencapai US$ 133,53 miliar dengan ekspor tumbuh 36,3% dan impor 31% YoY, yang memberikan sentimen positif bagi permintaan komoditas nasional meski dampaknya tertahan oleh gelombang sentimen negatif global[cite: 1].
Para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan dinamika makroekonomi global di sisa sesi perdagangan demi mengantisipasi volatilitas lanjutan, lapor portalmadura.com.





