PortalMadura.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menghadapi tekanan jual masif dan ditutup anjlok tajam 4,2% ke level 5.594,76 pada akhir perdagangan Jumat, 5 Juni 2026.
Pelemahan signifikan ini setara dengan hilangnya 245,02 poin dalam satu hari, menandai penutupan terburuk dalam beberapa waktu terakhir.
Sebelumnya, pada sesi pertama, IHSG sempat bergerak volatil dan bahkan sempat menguat tipis 0,11 persen ke posisi 5.846,49 di awal perdagangan.
Namun, harapan untuk pembalikan arah dengan cepat memudar seiring berlanjutnya aksi jual di pasar modal domestik.
Pada sesi kedua, indeks semakin terpuruk, merosot 3,31% menjadi 5.648 pada pantauan pukul 14.12 WIB.
Indeks saham unggulan LQ45 juga tidak luput dari tekanan, tergelincir 2,8% menjadi 564 pada sesi kedua.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 626 saham melemah, 108 saham menguat, dan 81 saham stagnan, mencerminkan dominasi sentimen negatif.
Total frekuensi perdagangan mencapai 1.523.617 kali dengan volume 28 miliar saham dan nilai transaksi harian Rp 23,2 triliun pada sesi kedua.
Secara keseluruhan hari ini, volume perdagangan saham di bursa mencapai 37,01 miliar saham dengan total nilai transaksi Rp 31,10 triliun.
Sektor-sektor Paling Terpukul
Hampir seluruh sektor saham mencatat pelemahan signifikan pada perdagangan Jumat ini.
Sektor transportasi memimpin penurunan dengan anjlok 5,97%.
Disusul sektor energi yang merosot 5,73% dan sektor perindustrian yang terpangkas 5,72%.
Sektor keuangan terperosok 4,29%, sementara teknologi susut 4,03%.
Sektor infrastruktur turut melemah drastis sebesar 5,17%, menunjukkan tekanan pasar yang meluas.
Saham-saham perbankan besar juga mengalami tekanan, dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 5,07% menjadi Rp 5.150 per saham pada sesi kedua.
Faktor-faktor Pemicu Pelemahan IHSG
Pelemahan Ihsg hari ini merupakan akumulasi dari berbagai sentimen negatif baik dari dalam maupun luar negeri yang telah membayangi pasar sepanjang Juni 2026.
Tekanan Domestik
Ketidakpastian tinggi di pasar dan rendahnya kepercayaan investor domestik menjadi pemicu utama aksi jual berkelanjutan.
Nilai tukar Rupiah terus terdepresiasi dan mencapai level terburuk sepanjang masa, menyentuh Rp 18.049 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis (4/6/2026).
Pergerakan rupiah ini menambah kekhawatiran stabilitas pasar keuangan domestik.
Arus dana asing (foreign outflow) dari pasar saham Indonesia juga terus berlanjut, dengan investor asing mencatatkan net sell lebih dari Rp 67 triliun sepanjang tahun berjalan.
Kekhawatiran terhadap rumor seputar kebijakan domestik, seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mengalami restrukturisasi anggaran, juga mempengaruhi sentimen investor.
Spekulasi mengenai kemungkinan MSCI menurunkan status Indonesia menjadi ‘Frontier Market’ menjelang tinjauan pada 19 Juni juga menjadi perhatian serius.
Pengumuman rebalancing indeks global FTSE Russell yang efektif pada 22 Juni 2026 juga telah menjadi sentimen jangka pendek yang dicermati pelaku pasar.
Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas, menyoroti bahwa pasar kini mulai mempertanyakan kredibilitas Indonesia, bukan hanya kemampuan pertumbuhannya.
Kinerja Indonesia ETF (EIDO) yang mencatat pengembalian -28,6% sejak awal 2025, berbanding terbalik dengan pasar negara berkembang lainnya yang menguat, menjadi bukti spesifik pengurangan eksposur terhadap Indonesia.
Sentimen Global
Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas, serta serangan di Bandara Internasional Kuwait, memicu kenaikan harga minyak mentah global.
Kenaikan harga minyak ini kembali memicu kekhawatiran inflasi, menciptakan sentimen negatif di pasar global.
Meskipun Wall Street menunjukkan penguatan pada Kamis, bursa saham Asia secara kompak melemah pada Jumat pagi, menyeret pergerakan IHSG.
Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok 1,23 persen, Hang Seng Hong Kong turun 0,62 persen, dan Strait Times Singapura turun tipis 0,02 persen.
Proyeksi dan Outlook Pasar
Analis memproyeksikan pergerakan IHSG akan tetap volatil sepanjang bulan Juni 2026.
PT MNC Sekuritas memprediksi IHSG berpeluang menguat dalam jangka pendek namun tetap rawan koreksi pada perdagangan Jumat.
Jika pelemahan berlanjut, IHSG diperkirakan dapat menuju rentang 5.395-5.412 untuk menutup area gap dari moving average (MA) 200 harian secara bulanan.
Herditya Wicaksana dari MNC Sekuritas menuturkan, level support IHSG berada di 5.735-5.381 dan level resistance di 6.215-6.588 pada pekan ini.
Sementara itu, analis dari Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang, memperkirakan IHSG berpotensi menguji level support 5.700-5.800.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memprediksi IHSG berpotensi technical rebound jangka pendek dengan support 5.600 dan resistansi 5.900-5.930.
Namun, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata memperingatkan risiko pelemahan lanjutan menuju 5.500 jika area 5.644 kembali ditembus.
Juni 2026 akan menjadi periode krusial dengan agenda kunjungan S&P Global ke Indonesia, serta tinjauan indeks internasional MSCI dan FTSE Russell.
Keputusan suku bunga bank sentral global juga akan menjadi penentu arah IHSG dan pasar keuangan Indonesia secara keseluruhan.
Investor disarankan untuk tetap waspada dan mencermati perkembangan sentimen global serta domestik yang dinamis.
Baca Juga:





