oleh

Indonesia akan Gelar Pertemuan Internasional Bahas Isu Kelautan Dunia

PortalMadura.Com, Jakarta – Dua kementerian melakukan kolaborasi untuk membahas isu kelautan Indonesia dalam sebuah pertemuan Internasional di Bali akhir Oktober.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Kementerian Luar Negeri akan menyelenggarakan konferensi Internasional dengan mengundang pemimpin-pemimpin dunia yang berkecimpung di sektor kelautan dan memiliki komitmen melakukan perubahan.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan lebih dari 1.500 delegasi dari seluruh dunia akan menghadiri Our Ocean Conference (OOC) ke-5 pada 29-30 Oktober mendatang.

“Hingga kemarin yang sudah daftar via online ada 1.696 delegasi,” kata Retno di Jakarta, Rabu.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengungkapkan akan ada enam isu yang dibahas dalam penyelenggaraan OOC kelima ini.

Keenam isu tersebut adalah perikanan tangkap yang berkelanjutan, perubahan iklim, keamanan laut, keberlanjutan ekonomi laut, polusi maritim, dan area kawasan laut yang dilindungi.

Lebih detail, Retno memastikan masalah sampah plastik hingga isu pengawasan wilayah laut Negara-negara OOC akan dibahas dalam pertemuan tahunan ini. Saat ini Pemerintah, kata dia, telah sampai pada tahap akhir persiapan sebagai tuan rumah perhelatan OOC.

Conference ini bukan hanya intergovermental saja tapi akan diikuti oleh multi shareholder, semua terlibat. Dan bukan hanya agreement atau MoU yang dihasilkan, tapi komitmen konkret Negara peserta untuk memajukan isu kelautan. Keywordsnya adalah komitmen konkret,” tegas Retno.

Menteri KKP Susi Pudjiastuti juga memastikan akan membahas isu praktik penangkapan ikan ilegal. Menurut Susi, isu ini sangat penting untuk membuka mata dunia tentang Pemerintahan suatu Negara menerapkan kebijakan perikanan yang berbasis kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraan.

“Tidak hanya talking-talking, tapi ada konkretnya di OOC ini. Salah satu topik yang akan dibahas dan sangat penting untuk didiskusikan dengan delegasi Negara lain adalah illegal fishing,” ujar Susi. dilaporkan Anadolu Agency, Rabu (17/10/2018).

Selain itu, Susi berujar, kolaborasi Kementeriannya dengan Kemenlu menjadi momen untuk menunjukkan Indonesia kepada dunia bahwa penjagaan kedaulatan Nusantara harus ditunjukkan agar tidak menjadi Negara terbelakang.

“Ini duet maut antara KKP dan Kemenlu. Negara-negara lain itu takut kalau mau ganggu kedaulatan kita. Apalagi Negara di Asia Tenggara takut dengan Ibu Menlu. Kita akan terus upayakan supaya Indonesia tidak jadi Negara terbelakang,” tukas Susi.

Lima tahun perhelatan OOC

Pertemuan tingkat tinggi yang terkonsentrasi pada isu kesehatan laut dunia untuk kepentingan Masyarakat, ekosistem, dan seluruh kegiatan ekonomi yang bergantung pada laut tahun ini merupakan perhelatan yang kelima.

OOC pertama kali diselenggarakan oleh Amerika Serikat di Washington D.C dengan menghasilkan 31 komitmen dari empat fokus area yakni perlindungan kawasan laut, perikanan berkelanjutan, pencemaran laut, dan dampak perubahan iklim terhadap lautan.

Selanjutnya, pertemuan OOC kedua digelar di Chile pada 2015 yang menghasilkan 73 komitmen. Setelah itu, AS menjadi penyelenggara untuk kedua kalinya dalam OOC 2016. Pertemuan tersebut menghasilkan 126 komitmen.

Sebelum diselenggarakan di Indonesia, pertemuan OOC keempat dihelat di Malta pada tahun lalu. Diselenggarakan oleh Uni Eropa, OOC kala itu fokus membahas enam tema yakni perlindungan kawasan laut, perikanan berkelanjutan, pencemaran laut, dampak perubahan iklim terhadap lautan, ekonomi biru berkelanjutan, dan keamanan maritim. Saat itu, OOC menghasilkan 433 komitmen.

Pertemuan OOC ini dijadwalkan dihadiri oleh Kepala Negara atau Pemerintahan, Menteri dan Pemimpin Pemerintah lainnya. Sebagai tuan rumah OOC 2018 Indonesia mengundang 25 Kepala Negara/Pemerintahan dan 213 Menteri dari 144 Negara. (AA)