oleh

Ini 2 Lokasi Wisata Religi di Madura Diidentikkan dengan Tempat Pesugihan

PortalMadura.Com – Dua lokasi wisata religi di Pulau Garam Madura, Jawa Timur diidentikkan dengan tempat pesugihan oleh sejumlah pengunjung.

Dua wisata itu, yakni Makam Raden Fatah di Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih Kabupaten Sumenep dan Makam Ki Ageng Joko Tarub yang terletak di Dusun Pacanan, Desa Montok, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan.

Makam Raden Fatah

dok. Asta (makam) Raden Fatah Desa Juruan Daya
dok. Asta (makam) Raden Fatah Desa Juruan Daya

Ditempat ini, sebelum masuk ke lokasi makam Raden Fatah, ada sebuah bangunan mirip pendopo. Saat ini difungsikan menjadi tempat jualan, diantaranya bunga, kemenyan/dupa dan tali keluh sapi (tali yang menembus lubang hidung sapi dari kanan ke kiri).

Bunga dan kemenyan itu dijual bagi pengunjung untuk “persyaratan” nyekar ke Makam. Sedangkan tali keluh sapi, kebanyakan dibeli oleh para petani atau yang mempunyai usaha lain agar sukses. Tali itu hasil karya masyarakat sekitar disana.

Mereka percaya bahkan bernadzar jika sudah memiliki sapi dengan jumlah tertentu atau usahanya sukses tanpa kendala, maka akan mempersembahkan satu diantara sapi itu sebagai “tumbal”.

Jika tidak memungkinkan membawa sapi, ada yang memberikan uang langsung pada pihak pengelola seharga sapi. Kepercayaan ini tumbuh dan berkembang diantara pengunjung. Sedangkan pengelola tidak pernah mengarahkan.

Kepercayaan itu terus berlangsung hingga saat ini. Faktanya, memang banyak pengunjung yang sukses dari berbagai usaha yang dijalankan. Bahkan, ada tamu yang sudah mempunyai ratusan mobil dan setiap tahun dipastikan datang ke tempat tersebut. Berikut video sejarah Makam Raden Fatah.

https://youtu.be/bGv6RhKVjWw

Makam Joko Tarub

"Selendang" Nawang Wulan di Areal Pemakaman Joko Tarub
dok. “Selendang” Nawang Wulan di Areal Pemakaman Joko Tarub

Di makam ini, ada bangunan kecil yang di dalamnya terdapat empat buah mirip batu nisan dan bertuliskan, Nawang Wulan, Dewi Nawang Sasih, Raden Arjo Bondan Kejawen, dan Nawang Sari.

Dan ada pula, kain warna-warni yang dilambangkan sebagai selendang Nawang Wulan. Kain-kain itu, para pengunjung yang membawa dalam jumlah tertentu.

Kepercayaan yang berkembang dikalangan pengunjung, mereka datang untuk berdoa dan membaca Al-Quran. Lalu, membawa kain yang sudah ada disana.

Mereka bernadzar, jika usaha yang dijalankan sukses dan cita-citanya tercapai, maka akan mengembalikan kain yang dibawa itu dengan cara mengganti dan membawa dalam jumlah banyak. Pihak pengelola pun tidak pernah menyediakan kain-kain itu.

Faktanya, kain-kain itu tidak pernah kosong alias selalu ada sesuai dengan kebutuhan para pengunjung. Sampai saat ini, kain-kain itu bergantungan dalam bangunan tersebut dan bergant-ganti.

Tidak hanya diidentikkan dengan pesugihan, bahkan kaula muda-mudi menulis nama berpasangan di pohon-pohon bambu yang tumbuh besar mengelilingi areal Makam Joko Tarub.

Dipercaya, dengan menulis nama berpasangan, maka langgeng dalam rumah tangga atau cepat dapat jodoh sesuai dengan keinginan mereka.

Berikut video keunikan Makam Joko Tarub

https://youtu.be/VkkkReFbrWI

Iangat! Jangan Pernah Menyekutuhan Allah dan mintalah kepada-Nya.

Hartono



Komentar