PortalMadura.com – Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Oracle, secara mengejutkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal terhadap ribuan karyawannya pada Rabu (1/4/2026). Langkah drastis ini diambil di tengah ambisi besar perusahaan untuk beralih dan berinvestasi secara masif pada teknologi Kecerdasan Buatan (AI).
Kabar perampingan ini mencuat setelah sejumlah karyawan mengaku menerima notifikasi pemberhentian melalui email pada pagi hari. Meski jumlah pastinya belum dikonfirmasi secara resmi oleh pihak manajemen, laporan internal yang dihimpun dari sistem pesan Slack menunjukkan penurunan drastis jumlah staf aktif hingga mencapai 10.000 orang.
PHK Bukan karena Kinerja
Manajer Senior Oracle, Michael Shepherd, mengungkapkan melalui laman LinkedIn miliknya bahwa pemangkasan ini menyasar posisi strategis, mulai dari senior engineer, arsitek sistem, pemimpin operasi, hingga manajer program. Shepherd menegaskan bahwa pemberhentian ini murni kebijakan strategis perusahaan, bukan didasari oleh rapor buruk individu.
“Individu yang terdampak tidak diberhentikan karena apa pun yang mereka lakukan atau tidak lakukan. Ini murni bukan berdasarkan kinerja,” tulis Shepherd dalam unggahannya.
AI Gantikan Peran Manusia
Eksekutif Oracle tidak menampik bahwa penggunaan alat bantu AI telah meningkatkan efisiensi kerja yang berdampak pada berkurangnya kebutuhan tenaga manusia. Co-Chief Executive Oracle, Mike Silicia, menyatakan bahwa teknologi AI memungkinkan tim teknik yang lebih kecil untuk memberikan solusi produk yang lebih cepat kepada pelanggan.
Saat ini, AI telah digunakan secara internal oleh Oracle untuk menghasilkan prospek penjualan secara otomatis, mengelola layanan pelanggan, hingga membangun infrastruktur web perusahaan yang baru.
Proyek Ambisius ‘Stargate’ senilai USD 500 Miliar
Langkah PHK ini berbanding terbalik dengan agresivitas Oracle di sektor infrastruktur. Perusahaan berencana menggelontorkan dana sedikitnya USD 50 miliar tahun ini untuk memperkuat pusat data AI. Bahkan, Oracle dilaporkan telah menghimpun utang tambahan sebesar USD 50 miliar guna memenuhi permintaan pasar yang melonjak.
Oracle juga tercatat sebagai bagian dari inisiatif Stargate, sebuah mega proyek bernilai USD 500 miliar. Proyek ini merupakan kolaborasi strategis bersama OpenAI, Softbank, dan MGX—dana investasi yang didukung oleh Presiden AS Donald Trump—untuk membangun kapasitas pusat data raksasa di Amerika Serikat demi mendukung pemrosesan daya AI di masa depan.
Fenomena pengurangan karyawan demi efisiensi AI di Oracle menambah panjang daftar perusahaan teknologi global yang melakukan langkah serupa di tahun 2026, menyusul jejak Amazon, Pinterest, dan Epic Games.





