oleh

Investasi China Tetap Serbu Indonesia Siapapun Presidennya

PortalMadura.Com, Jakarta – Ekonom Indef mengatakan investasi China akan tetap masuk menyerbu Indonesia dalam kerangka The Belt and Road Initiative (BRI), siapapun Presiden yang memimpin.

Ekonom Zulfikar Rakhmat mengatakan China akan tetap datang karena Indonesia strategis bagi mereka, bukan karena Presiden Joko Widodo atau siapapun.

Loading...

“Yang penting bagaimana kita bisa ciptakan regulasi yang sehat sehingga juga bisa raup keuntungan dari investasi China,” ungkap Zulfikar dalam diskusi di Jakarta, Kamis (7/2/2019) kemarin.

Dia menjelaskan berdasarkan data BKPM, sebanyak USD2,3 miliar investasi asal China yang mencakup 1562 proyek pada sektor energi, transportasi, telekomunikasi, dan lainnya.

Zulfikar mengatakan investasi China dalam kerangka BRI karena adanya pelambatan pertumbuhan ekonomi di Negeri Tirai Bambu tersebut sejak 2011 yang saat itu sebesar 9,3 persen menjadi sekitar 6 persen pada 2018.

“Selain itu, juga ada over capacity pada industri di China,” tambah dia.

Zulfikar menjelaskan pada saat krisis global 2008 lalu, Pemerintah China memberikan utang kepada pengusaha lokalnya yang digunakan untuk melakukan produksi sehingga terjadi kelebihan kapasitas pada industri kereta api, aspal, besi, dan lainnya.

“China juga punya banyak dolar yang perlu dibuang ke luar kemudian adanya ketimpangan regional di sana. Ini yang jadi concern Xi Jinping,” imbuh Zulfikar.

Menurut dia, ketimpangan tersebut membuat selalu ada demonstrasi di China untuk melawan Pemerintah. Partai Komunis China khawatir dengan stabilitas Pemerintahannya.

“Akhirnya diluncurkanlah proyek BRI sebagai proyek terbesar China untuk menjaga legitimasi Pemerintahannya,” ungkap Zulfikar. dilaporkan Anadolu Agency, Jumat (8/2/2019).

Dia menambahkan Jakarta menempati posisi strategis bagi China sehingga tidak heran investasi China di bidang infrastruktur sangat meningkat drastis. Ada USD87 miliar proyek BRI di Indonesia yang kebanyakan dimulai 2015 dan 2016.

“Itulah yang membuat investasi China di Indonesia mulai meningkat dan jadi top five investor di Indonesia,” urai dia.

Dia menambahkan ekspansi investasi China diperkuat dengan adanya Asian Investment Infrastructure Bank (AIIB) untuk menyokong BRI. Sudah ada beberapa proyek China di Indonesia yang dibiayai AIIB.

“Saat ini memang AIIB masih menggunakan dolar untuk membuang dolarnya. Tetapi tidak menutup kemungkinan nantinya pakai renminbi untuk menjadi mata uang global,” urai dia.

Menurut Zulfikar, AIIB tidak hanya dipakai China sebagai institusi finansial, tapi juga untuk melegitimasi investasinya.

Dia menambahkan ada dua cara yang dipakai China untuk menarik Indonesia agar tunduk pada investasi China, pertama dengan menjadikan Indonesia bagian penting dalam pengambilan keputusan pada AIIB dan juga dengan memberikan voting power yang besar.

“Berdasarkan wawancara saya dengan politisi China, cara-cara ini digunakan agar Indonesia mau menerima investasi China. Ini juga dilakukan China di Negara-negara lain,” papar dia.

Zulfikar juga mengatakan terkait maraknya isu tenaga kerja asal China yang menurut Kementerian Tenaga Kerja sebanyak 25 ribu orang, bukan hal yang aneh.

“Secara tradisional, China gunakan pekerjanya untuk investasi di luar Negeri, karena bagi China lebih mudah kerja dengan orang sebangsa dan sebahasa,” imbuh Zulfikar.

Menurut dia, pada level manajerial dan direksi perusahaan China harus diisi oleh orang asli yang hanya bisa berbahasa China.

“Bagi Pemerintah China, menyebarnya orang-orang China di luar Negeri adalah kekuatan perdagangan dan ini soft power mereka, simbol kekuatan,” jelas dia.

Zulfikar mengatakan saat Masyarakat Indonesia meributkan banyaknya pekerja China, bagi mereka penolakan itu adalah hal biasa saja. Pekerja China juga banyak di Afrika dan Timur Tengah.

“China tidak akan berhenti dan akan terus mengutamakan pekerjanya daripada pekerja lokal,” tegas Zulfikar.

Dia juga mengatakan untuk memperkuat legitimasi investasi China, saat ini sudah ada enam institusi Konfusius di Indonesia yang digunakan untuk melakukan propaganda bahwa investasi China berguna dan bisa diterima Masyarakat Indonesia.

“Di Timur Tengah bahkan banyak kartun dan film dari China yang mengandung pesan tentang manfaat investasi China,” ungkap dia.

Zulfikar menambahkan hal sejenis juga dilakukan China di Djibouti melalui diskusi publik setiap minggunya untuk meyakinkan Masyarakat di Negara tersebut bahwa investasi mereka berguna dan berkelanjutan.

Anadolu Agency
Sumber: Anadolu Agency

Komentar